Infantino Bela FIFA di Tengah Kontroversi: Sepak Bola Harus Menyatukan, Bukan Memecah

Selasa, 28 Jul 2026, 00:10 WIB

ZURICH – Presiden FIFA Gianni Infantino melontarkan pembelaan keras terhadap penyelenggaraan Piala Dunia setelah turnamen tersebut menuai berbagai kritik. Dalam surat terbuka yang dipublikasikan pada hari Senin (27/7), Infantino menuding para pengkritik telah menyebarkan kebencian dan narasi yang menyesatkan, sehingga gagal melihat keberhasilan ajang sepak bola terbesar di dunia itu.

Infantino menegaskan, Piala Dunia yang dimenangi Spanyol dan digelar di Amerika Serikat, Kanada, serta Meksiko justru menjadi perayaan persatuan, keamanan, dan inklusivitas. Menurutnya, jutaan suporter di seluruh dunia menikmati turnamen tanpa gangguan berarti.

Ket. Foto: Gianni Infantino menegaskan Piala Dunia berlangsung aman tanpa insiden besar dan menjadi ajang pemersatu berbagai negara. — Sumber: FIFA

"Anda begitu larut dalam kebencian dan kritik sehingga melewatkan semua itu," tulis Infantino.

Ia juga menyindir pihak-pihak yang terus mengkritik FIFA melalui media maupun platform digital.

"Kepada mereka yang berada di balik pena, kertas, dan layar komputer sambil menyebarkan kebencian serta rumor yang tidak benar, saya ingin mengatakan bahwa ketika Anda hanya duduk mengkritik, kami di FIFA berada di garis depan, bekerja keras menyelenggarakan dan menghadirkan pertunjukan terbaik di dunia."

Infantino bahkan mengklaim penyelenggaraan turnamen berlangsung sangat aman. "Kami tidak mengalami kekerasan, tidak ada insiden, tingkat keamanan mencapai 100 persen. Yang ada hanyalah kegembiraan dan kebahagiaan."

Pernyataan tersebut muncul setelah FIFA menghadapi berbagai sorotan sepanjang turnamen. Salah satunya adalah polemik mengenai pembatasan visa oleh pemerintah Amerika Serikat yang berdampak pada suporter maupun sejumlah ofisial dari beberapa negara.

Selain itu, muncul kritik terkait penanganan FIFA terhadap kasus disiplin penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun. Balogun sebelumnya menerima kartu merah saat menghadapi Bosnia dan Herzegovina yang seharusnya berujung skorsing otomatis satu pertandingan. Namun, hukuman tersebut dibatalkan setelah adanya intervensi Presiden Amerika Serikat Donald Trump, keputusan yang memicu perdebatan luas.

Kontroversi lain juga muncul dari sejumlah keputusan wasit dalam pertandingan Argentina melawan Mesir, yang memancing kritik dari pengamat dan pendukung sepak bola.

Meski tidak menyinggung kasus-kasus tersebut secara langsung, Infantino menilai keputusan kontroversial wasit maupun komisi disiplin merupakan hal yang lazim terjadi dalam kompetisi sepak bola di seluruh dunia.

"Kartu merah atau kartu kuning yang mungkin keliru, atau keputusan untuk tidak menjatuhkan sanksi kepada pemain dalam situasi tertentu, adalah hal yang biasa dan diterima di beberapa liga terbesar di dunia," katanya.

"Menariknya, justru negara-negara yang menerapkan praktik seperti itu yang kini paling keras mengkritik."

Infantino juga menepis anggapan bahwa penyelenggaraan Piala Dunia terganggu oleh persoalan politik dan keamanan. Menurutnya, kehadiran sejumlah negara yang tengah menghadapi konflik maupun krisis membuktikan bahwa sepak bola mampu melampaui perbedaan.

Ia mencontohkan keikutsertaan Iran, yang berlangsung di tengah ketegangan politik dengan Amerika Serikat. Selain itu, persoalan krisis domestik di Haiti serta wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo juga sempat memunculkan perdebatan terkait penerbitan visa dan pembatasan perjalanan.

Kasus lain yang menjadi perhatian adalah wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, yang tidak diizinkan memasuki Amerika Serikat meski telah mengantongi visa yang sah.

"Iran masuk ke Amerika Serikat tanpa insiden maupun konflik. Tim Iran mendapatkan visa karena sepak bola adalah tentang perdamaian, bukan politik," ujar Infantino.

Ia menambahkan bahwa negara-negara yang menghadapi persoalan kesehatan maupun tantangan lainnya tetap memperoleh akses untuk mengikuti turnamen.

"Ketika sepak bola membawa Haiti tampil di hadapan dunia, sebuah negara yang mungkin banyak orang tidak bisa atau tidak ingin kunjungi, mungkin sudah saatnya Anda meletakkan pena dan papan ketik, lalu menunjukkan rasa hormat kepada tim-tim yang telah bertanding."

Melalui surat terbuka tersebut, Infantino ingin menegaskan bahwa berbagai kontroversi yang mewarnai turnamen tidak menghapus keberhasilan penyelenggaraan Piala Dunia. Menurutnya, ajang itu tetap menjadi simbol persatuan global yang mempertemukan berbagai bangsa di tengah perbedaan politik, konflik, maupun tantangan kemanusiaan.

Bagi FIFA, sorotan terhadap sejumlah insiden hanyalah bagian kecil dari keseluruhan turnamen yang dinilai berhasil menghadirkan atmosfer kompetitif sekaligus memperkuat semangat kebersamaan melalui sepak bola.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.