- Home
-
- Luar Negeri
-
- Militer AS Lancarkan Seran...
Militer AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran Seiring Meningkatnya Bentrokan terkait Jalur Pelayaran
Jumat, 24 Jul 2026, 10:42 WIBKAIRO â Militer AS mengumumkan melakukan serangan malam ke-13 terhadap Iran seiring meningkatnya bentrokan terkait jalur pelayaran.
Sebelumnya, pemberontak Houthi Yaman yang didukung Iran mengatakan mereka menyerang dua kapal tanker minyak Saudi di Laut Merah, yang berpotensi memperluas perang Iran saat harga minyak internasional mencapai lebih dari $100 per barel.
Dilansir dari Associated Press, Komando Pusat AS (CENTCOM), Kamis (23/7), mengatakan serangan terbaru ini dirancang untuk "lebih melemahkan kemampuan Iran untuk mengancam pelaut sipil dan kapal komersial yang melintasi perairan regional" seiring upaya Amerika merebut kembali kendali atas Selat Hormuz dan memulihkan arus pelayaran internasional.
Sementara itu, Houthi mengancam akan menutup jalur perdagangan penting lainnya, di tengah perekonomian dunia yang sudah terguncang akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Ancaman itu muncul ketika Iran dan AS meningkatkan serangan dalam persaingan memperebutkan kendali atas selat yang dilalui seperlima minyak dan gas dunia pada masa damai, sehingga memicu perebutan jalur alternatif.
Presiden Donald Trump mengancam akan menjatuhkan "hukuman militer besar-besaran" terhadap Houthi jika serangan mereka terhadap kapal terus berlanjut.
"Jika mereka melakukan ini lagi, AS akan meminta pertanggungjawaban Iran, karena Houthi adalah boneka dan/atau proksi Iran, dan hukuman militer besar akan dijatuhkan kepada Iran dan, tentu saja, kepada Houthi sendiri," tulis Trump di media sosial.
Seiring meningkatnya retorika, dampak ekonomi pun semakin parah. Harga minyak mentah Brent, standar internasional, melonjak lebih dari 6% pada hari Kamis, menjadi sekitar $100 per barel. Itu adalah level tertinggi sejak Mei, sebelum kedua pihak mencapai kesepakatan perdamaian awal bulan lalu yang kemudian gagal.
Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, yang memiliki hubungan dekat dengan AS dan Iran, berada di Teheran pada hari Kamis untuk menyerukan perdamaian dan dialog, dan ia berjanji tidak akan mengizinkan wilayah Irak digunakan untuk serangan terhadap Iran, kata kantornya. Al-Zaidi bertemu dengan Trump awal bulan ini di Washington.
Seorang diplomat Arab mengatakan negara-negara Teluk semakin pesimistis menemukan jalan keluar. Diplomat yang berbicara dengan syarat anonim karena sensitivitas situasi tersebut mengatakan negara-negara regional seperti Pakistan dan Turki terus mendorong de-eskalasi.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada hari Kamis memperingatkan bahwa kawasan itu sedang ditarik "ke dalam lingkaran konfrontasi yang semakin meluas" di mana satu krisis memicu krisis lainnya dan setiap eskalasi memicu eskalasi berikutnya.
"Diplomasi adalah satu-satunya jalan ke depan," kata Guterres kepada Dewan Keamanan PBB. Ia menyerukan agar upaya Pakistan untuk menengahi pengakhiran perang diperkuat.
- Perang AS-Iran
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Lili Lestari
Berita Terkait:
-
Memanas Lagi, Iran Serang Bahrain dan Kuwait Balas Serangan Baru AS, Ancam Hentikan Perundingan
-
Otorita Lantik 555 Calon PNS Angkatan Pertama
-
Media AS: Amerika Serikat dan Iran Sepakat Hentikan Serangan, akan Bertemu di Qatar
-
Serangan Udara AS di Iran Hantam Bandara, Jembatan, dan Stasiun Kereta
-
Serangan Udara AS Menghantam 10 Target Militer Iran
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.