Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Revolusi Mikrobioma: saat Ekosistem Usus Mengubah Peta Kedokteran Masa Depan

3 Rabu, 15 Jul 2026, 07:18 WIB | Oleh:
Revolusi Mikrobioma: saat Ekosistem Usus Mengubah Peta Kedokteran Masa Depan Revolusi Mikrobioma: saat Ekosistem Usus Mengubah Peta Kedokteran Masa Depan Doc: Foto: Wikimedia Commons
Ket. Ilustrasi Saluran Pencernaan.

DI DALAM usus manusia, hidup sebuah dunia yang nyaris tak terlihat. Triliunan bakteri, virus, jamur, dan mikroorganisme lain bekerja tanpa henti membantu mencerna makanan, menghasilkan berbagai senyawa penting, hingga berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh.

Selama bertahun-tahun, keberadaan mereka hanya dipandang sebagai bagian dari proses pencernaan. Namun kini, para ilmuwan menyebut komunitas mikroorganisme tersebut sebagai salah satu “organ tersembunyi” yang paling berpengaruh terhadap kesehatan manusia.

Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian mengenai mikrobioma usus berkembang sangat pesat dan berhasil mengubah banyak pandangan lama di dunia medis. Mikrobioma ternyata bukan sekadar penghuni saluran pencernaan, tetapi turut memengaruhi metabolisme, kesehatan mental, sistem imun, bahkan keberhasilan terapi kanker.

Temuan-temuan tersebut membuka babak baru dalam dunia kedokteran yang semakin mengarah pada pengobatan presisi atau personalized medicine, yakni terapi yang disesuaikan dengan karakteristik biologis setiap individu.

Dari Sekadar Kalori

Selama puluhan tahun, obesitas dipahami sebagai konsekuensi sederhana dari pola makan berlebih dan kurangnya aktivitas fisik. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa persoalannya jauh lebih kompleks.

Ulasan ilmiah yang diterbitkan dalam Current Opinion in Clinical Nutrition & Metabolic Care pada Juli 2026 menjelaskan bahwa komposisi mikrobioma usus turut menentukan bagaimana tubuh mengolah energi dan menyimpan lemak.

Bakteri baik di dalam usus memfermentasi serat makanan menjadi short-chain fatty acids (SCFA) seperti asetat, propionat, dan butirat. Senyawa-senyawa tersebut membantu mengatur rasa kenyang, meningkatkan sensitivitas insulin, serta menjaga metabolisme tetap seimbang.

Sebaliknya, ketika terjadi disbiosis atau ketidakseimbangan mikrobioma, produksi SCFA menurun. Kondisi ini membuat metabolisme terganggu, penyerapan lemak berubah, dan memicu peradangan kronis tingkat rendah yang berkaitan dengan obesitas serta diabetes tipe 2.

Peneliti Alaa Hamdan dan Ziad Al Nabhani, penulis ulasan tersebut, menjelaskan bahwa mikrobiota usus kini menjadi salah satu faktor penting dalam memahami penyebab penyakit metabolik, sekaligus membuka peluang terapi baru yang tidak hanya berfokus pada pengurangan kalori.

Saat Perut dan Otak Saling Berbicara

Hubungan antara usus dan otak dahulu terdengar seperti teori yang sulit dipercaya. Kini, konsep gut-brain axis atau sumbu usus-otak telah menjadi salah satu bidang penelitian paling aktif dalam ilmu saraf.

Melalui jaringan saraf, hormon, dan sistem kekebalan tubuh, mikroorganisme di dalam usus terus berkomunikasi dengan otak. Bahkan, sekitar 90 persen serotonin, neurotransmitter yang berperan dalam mengatur suasana hati, diproduksi di saluran pencernaan. Berbagai bakteri usus juga membantu menghasilkan GABA, senyawa yang berperan dalam mengendalikan ­kecemasan.

Bagi John F. Cryan, profesor di APC Microbiome Ireland, University College Cork, mikrobioma merupakan salah satu penghubung utama antara pola makan, kesehatan usus, dan kondisi psikologis seseorang.

Hubungan tersebut diperkuat oleh kajian yang dipublikasikan dalam Cellular and Molecular Life Sciences pada 2026. Peneliti Archana Yadav dan Girish C. Melkani menemukan bahwa obesitas dan depresi ternyata memiliki mekanisme biologis yang saling berkaitan melalui perubahan komposisi mikrobioma usus.

Ketika keseimbangan bakteri terganggu, sinyal stres meningkat, peradangan berkembang, dan komunikasi antara usus dan otak ikut berubah. Dampaknya bukan hanya pada metabolisme, tetapi juga pada kesehatan mental.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
Megapolitan
Gardu Portal PLN Roboh dan ...
Ekonomi
Stok Cadangan Beras Nasiona...

Uji Publik Calon Anggota KND

1.5 jam yang lalu | Ones

Nasional
Uji Publik Calon Anggota KND

Pemerintah Siapkan Stimulus Ekonomi

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Pemerintah Siapkan Stimulus...
Advertisement
Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

02 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.