Menbud: Seni Ukir Jepara Punya Nilai Ekonomi dan Artistik Tinggi
Sabtu, 11 Jul 2026, 09:00 WIBJAKARTA - Seni ukir Jepara merupakan warisan budaya yang memiliki nilai artistik sekaligus ekonomi kreatif yang sangat besar.
Hal itu disampaikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat peluncuran buku Rekonstruksi Jepara Melalui Seni Ukir di Jepara, Jawa Tengah, Jumat (10/7).Â
Menurutnya, karya para pengukir Jepara telah dikenal luas hingga mancanegara dan menjadi bagian dari industri kreatif global.
"Seni ukir Jepara bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga merupakan pencapaian artistik yang tinggi sebagai ekspresi budaya Indonesia," ujarnya di Jakarta, Jumat.
Fadli menilai kehadiran buku Rekonstruksi Jepara Melalui Seni Ukir menjadi langkah strategis untuk memperkuat literasi mengenai sejarah dan perkembangan seni ukir Jepara.
Menurutnya, buku tersebut tidak sekadar mendokumentasikan perjalanan seni ukir, tetapi juga menawarkan perspektif baru mengenai masa depan Jepara sebagai pusat seni ukir dunia.
Ia mengingatkan bahwa jumlah generasi muda yang menekuni seni ukir terus menurun sehingga diperlukan langkah nyata untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut.
Karena itu, Kementerian Kebudayaan mendorong berbagai program pelestarian, seperti pelatihan bersama maestro, pengembangan sekolah maupun lokakarya ukir, hingga peningkatan kapasitas generasi muda agar keterampilan mengukir tetap diwariskan.
"Buku ini menjadi ikhtiar intelektual untuk merekam perjalanan sejarah seni ukir Jepara sekaligus memperkuat upaya pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatannya," kata Fadli.
Ia juga menegaskan pemerintah akan terus mengupayakan pengakuan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, sekaligus memperkuat mekanisme perlindungan (safeguarding) agar tradisi tersebut tetap lestari.
Bupati Jepara Witiarso Utomo menyebut peluncuran buku tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sejarah seni ukir kepada generasi muda agar tidak kehilangan identitas budaya daerah.
Sementara soal antusiasme masyarakat terhadap pameran TATAH, tercatat cukup tinggi, adapun pada awal Juli 2026, pameran telah dikunjungi lebih dari 53 ribu orang.
Meski demikian, ada tantangan saat ini bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga mengemas seni ukir agar tetap relevan dengan perkembangan zaman dan menarik bagi generasi muda.
Salah satu penulis buku, Arif Akhyat menjelaskan buku tersebut menawarkan pendekatan baru dalam membaca sejarah Jepara.
Seni ukir tidak hanya dipahami sebagai karya estetika, tetapi juga sebagai hasil perjalanan sejarah, dinamika sosial, hubungan perdagangan, serta strategi budaya yang membentuk identitas Jepara selama berabad-abad.
Ia menyebut rekonstruksi sejarah dilakukan melalui kajian berbagai artefak, arsip, hingga peninggalan budaya yang selama ini belum banyak dikaji dalam historiografi nasional.
Direktur TATAH Veronica Rompies mengatakan buku tersebut bukanlah akhir dari upaya memahami Jepara, melainkan titik awal lahirnya diskusi yang lebih luas mengenai seni ukir, sejarah, serta kehidupan para pengukir.
Ia berharap berbagai gagasan yang muncul dari buku dan forum diskusi dapat berkembang menjadi riset, kebijakan, maupun langkah konkret dalam memperkuat ekosistem seni ukir Jepara.
- Seni Ukir Jepara
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.