Pengamat Sebut Pernyataan Belasungkawa Megawati Mencerminkan Kesadaran Historis Politik Luar Negeri Indonesia
Kamis, 09 Jul 2026, 14:55 WIBSURABAYA â Pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura, Surokim As, menilai ucapan belasungkawa yang disampaikan Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei beserta ungkapan empati kepada rakyat Iran merupakan pernyataan yang memiliki dimensi sejarah, diplomasi, dan kemanusiaan yang kuat.
Menurut Surokim, pernyataan tersebut tidak dapat dibaca semata sebagai respons terhadap sebuah peristiwa kontemporer, melainkan sebagai refleksi dari memori kolektif hubungan Indonesia dan Iran yang telah terbangun selama beberapa dekade.
âUcapan belasungkawa Ibu Megawati menunjukkan pemahaman sejarah yang mendalam serta penghargaan terhadap historical capital yang membentuk hubungan Indonesia dan Iran selama puluhan tahun. Sikap tersebut juga merepresentasikan mata batin sebagian besar masyarakat Indonesia yang tidak pernah memandang hubungan antarbangsa semata dari dinamika politik sesaat, tetapi juga dari ikatan sejarah, penghormatan diplomatik, dan nilai-nilai yang telah dibangun lintas generasi,â ujar Surokim lewat sebuah pernyataan.Â
Ia menjelaskan bahwa hubungan Indonesia dan Iran memiliki akar historis yang panjang. Kedua negara sama-sama lahir dari pengalaman kolonialisme dan sejak awal membangun kedekatan melalui semangat anti-kolonialisme, penghormatan terhadap kedaulatan nasional, serta perjuangan menciptakan tata dunia yang lebih adil. Nilai-nilai tersebut kemudian memperoleh fondasi politik yang semakin kuat melalui semangat Konferensi Asia-Afrika di Bandung dan berkembang dalam kerja sama negara-negara berkembang melalui Gerakan Non-Blok.
Menurutnya, sejak era Presiden Soekarno, politik luar negeri Indonesia dibangun di atas prinsip bebas aktif yang menempatkan solidaritas antarsesama bangsa berkembang sebagai salah satu fondasi penting diplomasi Indonesia. Karena itu, hubungan Indonesia dengan Iran tidak pernah semata ditentukan oleh dinamika politik jangka pendek, melainkan juga oleh modal sejarah (historical capital) yang telah terbentuk sejak masa awal kemerdekaan.
âDalam kajian hubungan internasional dikenal konsep historical capital, yaitu akumulasi kepercayaan, pengalaman kerja sama, dan memori sejarah yang menjadi modal strategis dalam hubungan antarnegara. Modal semacam ini tidak dibangun dalam hitungan bulan atau tahun, melainkan melalui proses panjang lintas generasi. Pernyataan Ibu Megawati memperlihatkan kesadaran terhadap dimensi tersebut,â jelasnya.
Surokim juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki tradisi diplomasi yang menempatkan nilai kemanusiaan sebagai prinsip utama. Oleh karena itu, penyampaian belasungkawa kepada pemimpin negara lain merupakan praktik diplomatik yang lazim sekaligus mencerminkan penghormatan terhadap rakyat negara yang sedang mengalami kehilangan.
âBelasungkawa tidak identik dengan persetujuan terhadap seluruh kebijakan politik suatu negara. Dalam tradisi diplomasi internasional, ungkapan duka merupakan ekspresi penghormatan terhadap kemanusiaan dan hubungan antarbangsa. Karena itu, respons Ibu Megawati justru memperlihatkan kedewasaan dalam membaca hubungan internasional secara lebih utuh.â
Ia menambahkan bahwa hubungan Indonesia dan Iran juga pernah mengalami berbagai momentum penting, termasuk kunjungan kenegaraan Megawati ke Teheran pada tahun 2004 dalam rangka menghadiri Konferensi D-8 yang sekaligus memperkuat hubungan bilateral kedua negara. Dalam beberapa kesempatan, Megawati juga menegaskan kedekatan historis Indonesia dan Iran yang berakar pada semangat anti-kolonialisme dan perjuangan negara-negara berkembang.
âPada akhirnya, pernyataan tersebut mengingatkan kita agar tidak melupakan sejarah panjang hubungan Indonesia dan Iran yang telah terjalin sejak era Bung Karno. Dalam konteks itu, ungkapan belasungkawa Ibu Megawati mencerminkan konsistensi Indonesia untuk tetap berpijak pada prinsip kemanusiaan, solidaritas antarbangsa, persamaan derajat, penghormatan terhadap kedaulatan negara, serta penolakan terhadap segala bentuk penjajahan, agresi militer, dan dominasi kekuatan besar dalam tata dunia. Nilai-nilai inilah yang sejak lama menjadi salah satu identitas politik luar negeri Indonesia,â pungkas Surokim.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Kemenkes Dorong Bioteknologi Jadi Arah Pengobatan di Indonesia
-
Mantan Pemain Voli Jakarta Bhayangkara Presisi Mati Otak Pascakolaps, Tapi Masih Hidup
-
Peluncuran Buku Spirit Kemanusiaan oleh Megawati Soekarnoputri
-
Menkum Pastikan Negara Jamin Keselamatan WNI yang Ditangkap Israel
-
Relaksasi PBB 2026, Pemkab Bogor Pilih Jaga Ekonomi Lokal
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.