RI Perlu Perkuat Produktivitas Nasional

Rabu, 08 Jul 2026, 01:30 WIB

Jakarta – Indonesia dinilai perlu memperkuat produktivitas nasional agar mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap) dan mencapai status negara maju. Upaya tersebut dinilai harus didukung percepatan hilirisasi bernilai tambah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta reformasi regulasi yang mampu menciptakan iklim investasi dan dunia usaha yang lebih kompetitif.

Seperti dikutip dari Antara, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai target Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045 masih realistis. Namun, keberhasilannya bergantung pada kemampuan pemerintah meningkatkan produktivitas ekonomi secara berkelanjutan, bukan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Ket. Foto: Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai target Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045 masih realistis. — Sumber: istimewa

Menurut Yusuf, terdapat tiga agenda utama yang harus diprioritaskan agar Indonesia mampu naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi.

Pertama, hilirisasi harus diarahkan ke industri dengan nilai tambah tinggi, bukan berhenti pada pengolahan komoditas mentah. Kedua, investasi di bidang pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dipercepat agar bonus demografi benar-benar mampu meningkatkan produktivitas nasional. Ketiga, reformasi regulasi perlu menciptakan iklim usaha yang lebih efisien sehingga dunia usaha memiliki kepastian untuk berekspansi dan berinvestasi.

"Target menjadi negara berpendapatan tinggi masih realistis, tetapi kuncinya bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, melainkan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan," kata Yusuf di Jakarta.

Ia menilai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen akan sulit diwujudkan apabila struktur ekonomi masih bergantung pada konsumsi domestik dan belanja pemerintah, tanpa dibarengi transformasi sektor industri dan peningkatan produktivitas.

Menurut Yusuf, masuknya Vietnam dan Filipina ke kelompok negara berpendapatan menengah atas menunjukkan bahwa persaingan ekonomi di kawasan Asean semakin ketat. Indonesia kini tidak lagi bersaing dengan negara berpendapatan lebih rendah, melainkan dengan negara yang memiliki kapasitas industri dan daya saing yang semakin setara.

Di sisi lain, perkembangan tersebut juga membuka peluang memperkuat integrasi ekonomi regional. Indonesia dinilai memiliki peluang memperkuat posisi di sektor mineral dan hilirisasi, sementara Vietnam unggul di industri manufaktur elektronik sehingga keduanya dapat saling melengkapi dalam rantai pasok kawasan.

Meski demikian, Yusuf mengingatkan klasifikasi Bank Dunia hanya didasarkan pada pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita sehingga belum mencerminkan kualitas produktivitas, kelembagaan, maupun pemerataan kesejahteraan.

  • produktivitas nasional

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.