Aplikasi Kuasai Investasi Ekraf 2025, Sinyal Pergeseran Besar Ekonomi Kreatif Indonesia
Rabu, 08 Jul 2026, 14:30 WIBTANGERANG â Industri aplikasi menjadi salah satu pendorong utama transformasi ekonomi digital melalui peningkatan efisiensi, perluasan akses layanan, dan penciptaan model bisnis baru di berbagai sektor.
Seiring meningkatnya adopsi teknologi oleh masyarakat dan pelaku usaha, industri ini memiliki peluang besar untuk mendorong inovasi, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat daya saing ekonomi nasional.
Namun, pertumbuhannya tetap memerlukan dukungan ekosistem digital yang sehat, mulai dari penguatan talenta, perlindungan data, hingga kepastian regulasi yang mampu mendorong inovasi sekaligus menjaga persaingan usaha yang adil.
Menteri Ekonomi Kreatif/ Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya mengatakan subsektor aplikasi kini menjadi salah satu penggerak utama ekonomi kreatif nasional.
Ia mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), subsektor aplikasi menjadi tujuan investasi tertinggi di sektor ekonomi kreatif pada 2025, bahkan melampaui subsektor fashion, kuliner, kriya, film, dan musik.
Kondisi tersebut, katanya, menunjukkan besarnya potensi industri aplikasi sebagai motor pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dan akan terus dikembangkan.
"Investasi pada subsektor aplikasi saat ini merupakan yang tertinggi di sektor ekonomi kreatif. Ini menjadi peluang besar yang harus kita manfaatkan bersama," kata Menteri Teuku usai menghadiri Soft Launching Indonesia Application Summit (IN-APPS) 2026 di Sinar Mas Land Experience Center, BSD City Tangerang, Rabu (8/7).
Menteri Teuku juga mengatakan aplikasi digital saat ini bukan hanya sekadar produk teknologi, melainkan mesin baru penggerak ekonomi kreatif nasional.
Oleh karena itu melalui IN-APPS 2026, Kementerian Ekonomi Kreatif ingin memperkuat sinergi antara pemerintah, industri, dan talenta digital agar Indonesia mampu melahirkan lebih banyak aplikasi yang berdaya saing global.
Apalagi industri aplikasi nasional masih menghadapi berbagai tantangan. Karena itu, Kementerian Ekonomi Kreatif menggandeng berbagai pihak untuk membangun ekosistem yang lebih kuat melalui Indonesia Apps Summit.
Dalam forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan mulai dari akademisi, pelaku usaha, asosiasi, lembaga keuangan, pemerintah lintas kementerian, hingga mitra internasional guna mendorong pengembangan industri aplikasi yang lebih kompetitif. Bahkan Indonesia memiliki banyak talenta digital yang mampu menghasilkan inovasi dan produk aplikasi berkualitas.
"Namun, talenta tersebut memerlukan dukungan agar mampu mengomersialisasikan kekayaan intelektual, memperoleh akses pembiayaan, serta memperluas pasar hingga tingkat global," ujarnya.
Ia menjelaskan, Kementerian Ekonomi Kreatif akan terus mendampingi pelaku industri di seluruh rantai nilai, mulai dari pengembangan ide, proses produksi, distribusi, pemasaran, hingga perlindungan hak kekayaan intelektual.
Melalui Indonesia Apps Summit 2025, pemerintah berharap kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, investor, dan komunitas dapat semakin memperkuat daya saing subsektor aplikasi sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak inovasi digital karya anak bangsa yang mampu menembus pasar internasional.
"Kami tidak ingin startup atau pengembang aplikasi hanya tumbuh sesaat kemudian berhenti karena kalah bersaing. Yang kita dorong adalah bagaimana mereka bisa berkembang menjadi perusahaan yang lebih besar, berkelanjutan, dan mampu bersaing di tingkat global," kata Teuku.
Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif, Muhammad Neil El Himam IN-APPS 2026 hadir sebagai forum nasional pertama yang secara khusus mengangkat subsektor aplikasi sebagai bagian dari penguatan ekonomi kreatif Indonesia.
Forum ini dirancang untuk mempertemukan pemerintah, pelaku industri, pengembang aplikasi, startup, investor, akademisi, asosiasi, serta komunitas digital dalam satu ekosistem kolaborasi.
"Kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ekosistem aplikasi nasional, mulai dari peningkatan kapasitas talenta digital, penguatan model bisnis, hingga perluasan akses pembiayaan dan investasi bagi pengembang aplikasi lokal," ujarnya.
Indonesia Application Summit (IN-APPS) 2026 akan digelar pada 16â17 September 2026 di ICE, BSD City dan menghadirkan rangkaian konferensi, pameran, dan sesi kolaborasi bisnis yang lebih luas, guna memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan baru industri aplikasi digital di kawasan.
âASPILUKI berkomitmen mendukung penuh penyelenggaraan IN-APPS 2026 sebagai wadah strategis bagi pengembang aplikasi Tanah Air untuk berkolaborasi, berbagi wawasan, dan memperluas jejaring bisnis, baik di tingkat nasional maupun internasional,â kata Djarot Subiantoro sebagai Ketua Umum Asosiasi Piranti Lunak Telematika Indonesia (ASPILUKI).
Berita Terkait:
-
Kwarda Jateng Dorong Banyumas Jadi Percontohan Pengembangan Kepramukaan
-
Pemprov Tawarkan Investasi Senilai Rp271 Triliun
-
Pertamina Jatimbalinus Tertibkan SPBU Rote Ndao: BBM Diprioritaskan untuk Pengendara.
-
Puluhan Lampu di Jalan Pemuda Rawamangun Kembali Menyala Usai Dicuri
-
Peringati Hari Buruh di Monas, Prabowo Lempar Topi hingga Joget di Panggung
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.