Jelang Australia Vs Mesir: Pragmatisme yang Jadi Harapan Asia

Jumat, 03 Jul 2026, 06:53 WIB

ARLINGTON - Setelah Jepang yang terhenti di tangan Brasil, harapan Asia kini tinggal bergantung pada Australia, yang akan menghadapi Mesir dalam babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Dallas Stadium, Arlington, Texas, Amerika Serikat, pada Sabtu (3/7) pukul 01.00 WIB.

Dari sembilan negara yang wakili Asia,  hanya Jepang dan Australia yang lolos ke fase gugur, justru ketika Piala Dunia diperluas menjadi 48 tim.

Ket. Foto: Grafis jelang pertandingan Australia kontra Mesir. — Sumber: antara foto

Kini Australia menjadi tambatan Asia untuk mencapai 16 besar, babak yang sudah dua kali dicapai Socceroos, pada 2006 dan 2022.

Australia adalah satu dari empat tim Asia yang pernah bermain di babak yang kini setara dengan 32 besar itu. Tiga tim lain adalah Jepang, Korea Selatan, dan Arab Saudi.

Sejak bergabung dengan Asia (AFC) dari Oseania (OFC) pada 2006 Australia tak pernah absen dalam lima edisi terakhir Piala Dunia.

Australia juga bergabung dengan Asean (AFF) sejak 2013 sehingga Asia Tenggara sudah boleh mengatakan bahwa ada wakil mereka dalam putaran final Piala Dunia, bahkan sejak Piala Dunia 2014.

Jika Socceroos berpengalaman bermain di fase gugur, lain hal dengan Mesir yang baru kali ini mencapai babak itu setelah gagal pada 1990, 2018, dan 2022.

The Pharaohs sudah mencapai babak itu pada 1934 ketika Piala Dunia langsung diawali dari babak 16 besar dan diikuti 16 negara, termasuk Mesir yang memerdekakan diri dari Inggris pada 28 Februari 1922.

Asia berharap pengalaman panjang Socceroos membantu mereka mengalahkan Mesir yang lebih diunggulkan dalam memenangkan laga di Dallas itu.

Sebelum kickoff, posisi Australia dalam daftar peringkat FIFA adalah 28, di bawah Amerika Serikat (15) dan Turki (27) yang sama-sama berada di Grup D. Paraguay yang berperingkat 34 juga berada di grup ini.

Sedangkan Mesir yang berperingkat 26 satu grup dengan Belgia (9), Iran (22) dan Selandia Baru (86) di Grup G.

Sebelum fase grup mulai, Mesir memiliki kemungkinan memetik kemenangan terbesar dari Selandia Baru. Sedangkan Australia bisa mendapatkannya dari Paraguay, yang berperingkat jauh di atas Selandia Baru.

Fakta yang kemudian terjadi, Mesir mengalahkan Selandia Baru, sedangkan Australia ditahan seri oleh Paraguay.


Spirit dari mengalahkan Turki

Tapi Socceroos bisa melakukan hal yang tak bisa dilakukan Mesir, yakni menumbangkan tim yang memiliki peringkat di atasnya, yakni Turki.

Jika Mesir bisa membuat frustrasi Belgia dan Iran, maka Australia juga membuat hal sama terhadap AS, walau berakhir dengan kekalahan.

Namun AS menang dengan terpaksa mengandalkan sebuah gol bunuh diri dan satu gol yang baru disahkan oleh VAR setelah dianggap offside oleh hakim garis.

Kedua gol terjadi pada babak pertama, sedangkan pada babak kedua AS dimentahkan oleh tembok tebal sistem permainan Socceroos.

Fakta-fakta ini disajikan agar orang tidak menganggap remeh Australia, hanya karena tim ini tak memprioritaskan penguasaan bola.

Dalam urusan penguasaan bola, Australia menempati peringkat ke-42 dengan 33 persen, sedangkan Mesir di peringkat ke-22 dengan rata-rata 47 persen.

Tingkat probabilitas gol atau xG Australia juga jauh di bawah Mesir. The Pharaohs di peringkat ke-24 dengan xG 3,76, sedangkan Australia di peringkat ke-40 dengan 1,99.

Mesir juga mengungguli Australia dalam jumlah peluang gol. Jika Mesir menempati peringkat ke-16 dengan 48 peluang yang 13 di antaranya tepat sasaran, maka Australia berada di peringkat ke-39 dengan 26 peluang yang 11 di antaranya on target.

Mesir tak terkalahkan selama fase grup setelah melepaskan rata-rata empat tembakan tepat sasaran per satu pertandingan, sedangkan Australia rata-rata 2,5 tembakan on target.

Tapi salah besar jika Mohamed Salah cs meremehkan Australia, karena Socceroos memiliki kemampuan untuk mementahkan yang tadinya dianggap tidak mungkin, yakni mengalahkan Turki, dengan dua gol tanpa balas pula.

Sistem bermain Australia yang simpel dan pragmatis telah merepotkan banyak tim.

Socceroos bermain pragmatis dengan mengutamakan pertahanan rapat garis rendah, kerja fisik yang tinggi, dan serangan balik yang cepat.


Beda karena Salah dan Marmoush

Australia sangat disiplin dalam menyudutkan lawan ke area sayap yang kurang berbahaya dan sangat efektif dalam bertahan di dalam kotak penalti.

Socceroos akan membiarkan lawan asyik menyerang tapi begitu lawan kehilangan bola, mereka akan cepat berubah ke setelan menyerang dengan bertumpu pada kedua bek sayapnya, terutama Jordan Bos, dan Jackson Irvine di tengah, untuk mengeksploitasi ruang yang sudah terbuka.

Mereka lalu membidik penyerang bertubuh besar atau bahkan bek tengah tinggi perkasa yang bisa cepat berubah fungsi menjadi penyerang, seperti sering diperankan bek Harry Souttar, untuk mengeksekusi peluang gol dari serangan balik itu.

Gaya bermain ini sudah terbukti merepotkan Turki dan Paraguay, bahkan AS.

Mesir sendiri tak kalah pragmatis, karena sama-sama mengandalkan blok pertahanan garis rendah yang kokoh dan ketahanan fisik dalam menyerap tekanan lawan.

Begitu situasi defensif berubah menjadi ofensif, maka mereka akan cepat menyerang dengan mengandalkan kecepatan dan kreativitas Mohamed Salah dan Omar Marmoush.

Mesir tak tertarik mendominasi penguasaan bola di sepertiga terakhirnya, tapi sangat piawai mengeksekusi situasi bola mati di area itu.

Oleh karena itu, tak ada salahnya untuk menyebut laga ini sebagai pertemuan dua tim pragmatis. Bedanya, Mesir dipenuhi lebih banyak pemain bintang, terutama Salah dan Marmoush, yang bisa cepat mengubah peluang sekecil apa pun menjadi kemenangan.

Mesir mungkin menjadi pemenang dalam laga ini, tapi kemenangan itu tak akan mudah didapatkan, seperti dialami AS pada fase grup.

Bila tak segera mencetak gol pada babak pertama, The Pharaohs akan berada dalam situasi sulit, yang bisa membuat mereka dihadapkan pada skenario adu penalti.

Tapi probabilitas Australia untuk bertemu Argentina atau Tanjung Verde di 16 besar juga tak bisa disebut rendah walau Socceroos kini berperingkat di bawah Mesir.

Fakta tim asuhan Tony Popovic itu bisa mengalahkan Turki dan menyulitkan AS pada babak kedua laga mereka di fase grup, menunjukkan Australia bisa menghentikan tim asuhan Hossam Hassan, yang memiliki xG di bawah Turki dan AS.

  • Jelang Australia Vs Mesir
  • Harapan Asia

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Sriyono

Berita Terbaru

Gempa M 5,2 Guncang Manggarai NTT, Ada Potensi Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Menang Dramatis! Lando Norris Rebut Juara GP Belanda 2026, Verstappen Tersingkir Usai Kecelakaan

Karya Kreatif Indonesia dan Karya Kreatif Benuanta 2026, Dorong kebangkitan UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Karhutla di Tengah El Nino Ancam Ekonomi, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Nilai Hutan yang Terbakar

Pameran Arsip Asrul Sani Telusuri Jejak Kreatif Maestro Sastra dan Film

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Jarak Pandang Kurang dari 50 Meter dan Kualitas Udara Berbahaya

QRIS Menjangkau 65,77 Juta Pengguna, Mayoritas Merchant Merupakan UMKM

Penyerapan Gabah Petani Capai 3,67 Juta Ton, Bulog Dekati Target 4 Juta Ton

Mendadak Gelar Ratas pada Malam Hari di Waktu Libur! Presiden Bahas Karhutla dan Bencana di NTT

Daun Pandan Tak Sekadar Aroma Khas, Ada Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang Terjalin Semakin Erat

Kegiatan Gratis di HBKB Kenalkan Bahasa Isyarat kepada Masyarakat

Banten Siapkan Fasilitas Hoki Baru 2027, Target Cetak Atlet untuk PON 2032 hingga

Karhutla di Kalbar Capai 38 Ribu Hektare, BNPB Waspadai Ancaman Bencana Asap

Status Bandara IKN Bakal Diubah Jadi Bandara Umum

TNI Siagakan 73.766 Personel Tangani Karhutla di Berbagai Wilayah.

TNI Salurkan 695,17 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT.

Perlu Audit Nasional PMB Jalur Mandiri PTN Buntut Kasus Unsoed

Kelas Menengah Menyusut Pertanda Kemajuan Pembangunan Indonesia Melambat

Pramono Siapkan 10.000 Bus Listrik untuk Atasi Polusi dan Kemacetan Jakarta

Komandan Lanud Sjamsudin Noor Turun Langsung Padamkan Karhutla di Kalsel

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.