Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

TNI: Dari Dwi Fungsi, Eka Fungsi, Kini Multi Fungsi, Ke Mana Arah Pertahanan Indonesia?

📅 Minggu, 28 Jun 2026, 22:35 WIB | Oleh:
TNI: Dari Dwi Fungsi, Eka Fungsi, Kini Multi Fungsi, Ke Mana Arah Pertahanan Indonesia? Doc: Istimewa
Ket. Dr. H. A. Effendy Choirie, M.Ag., M.H. Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) Periode 2024–2029

Tentara Nasional Indonesia (TNI) merupakan salah satu institusi paling penting dalam sejarah dan kehidupan berbangsa Indonesia. Sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga era Reformasi dan demokrasi saat ini, TNI selalu menempati posisi strategis dalam menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, muncul diskusi yang semakin luas mengenai arah perkembangan TNI. Setelah Reformasi menghapus Dwi Fungsi ABRI dan mengembalikan TNI pada fungsi pertahanan negara, kini muncul kecenderungan meluasnya peran TNI ke berbagai bidang kehidupan sipil. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah Indonesia sedang bergerak dari Dwi Fungsi menuju Eka Fungsi, lalu berkembang menjadi Multi Fungsi?

Pertanyaan ini bukan sekadar perdebatan akademik, melainkan menyangkut masa depan demokrasi, hubungan sipil-militer, dan arah pembangunan pertahanan nasional Indonesia.

Dwi Fungsi ABRI: Latar Belakang Historis

Pada masa Orde Baru, ABRI menjalankan konsep Dwi Fungsi, yaitu fungsi pertahanan-keamanan dan fungsi sosial-politik.

Konsep ini lahir dari pengalaman sejarah revolusi kemerdekaan ketika militer bukan hanya berperang melawan penjajah, tetapi juga ikut membangun pemerintahan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri.

Dalam praktiknya, perwira militer aktif menduduki berbagai jabatan sipil, mulai dari menteri, gubernur, bupati, anggota DPR/MPR, hingga pimpinan berbagai lembaga negara dan BUMN.

Pemerintah saat itu berpendapat bahwa stabilitas politik merupakan syarat utama pembangunan nasional. Namun dalam perkembangannya, Dwi Fungsi ABRI juga melahirkan kritik karena dianggap menghambat demokrasi, mempersempit ruang partisipasi politik rakyat, dan menempatkan militer terlalu dominan dalam kehidupan sipil.

Reformasi dan Lahirnya Paradigma Eka Fungsi

Reformasi 1998 menjadi titik balik hubungan sipil dan militer di Indonesia.

Tuntutan masyarakat saat itu sangat jelas: mengakhiri Dwi Fungsi ABRI, memperkuat demokrasi, dan membangun profesionalisme militer.

Sebagai anggota DPR/MPR RI dan kemudian Wakil Ketua Komisi I DPR RI yang membidangi pertahanan, intelijen, luar negeri, komunikasi, dan informasi, saya ikut terlibat dalam berbagai proses reformasi sektor pertahanan dan keamanan nasional.

Saya terlibat dalam pembahasan dan penyusunan berbagai regulasi strategis yang menjadi fondasi baru hubungan sipil-militer Indonesia, antara lain:

  • TAP MPR tentang Pemisahan TNI dan Polri.
  • Undang-Undang Pertahanan Negara.
  • Undang-Undang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
  • Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia.
  • Undang-Undang Intelijen Negara.

Semangat utama dari seluruh produk hukum tersebut adalah menegaskan profesionalisme TNI sebagai alat pertahanan negara, Polri sebagai alat keamanan dan penegakan hukum, serta memperkuat supremasi sipil dalam sistem demokrasi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Dua Kapal Tanker Minyak Dis...
Megapolitan
Transjakarta Larang Aktivit...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.