Puluhan Ribu Anak Muda Demo di Jerman, Bentrokan Pecah di Sejumlah Kota

Minggu, 01 Nov 2026, 05:30 WIB

Frankfurt – Polisi dan demonstran bentrok di sejumlah wilayah Jerman pada Sabtu (31/10), setelah aksi unjuk rasa besar yang dipimpin anak muda. Aparat menggunakan meriam air dan semprotan merica, sementara sejumlah demonstran bertopeng melemparkan kembang api, batu, dan botol.

Beberapa petugas polisi dilaporkan terluka dalam kericuhan tersebut. Bentrokan terjadi setelah puluhan ribu orang mengikuti demonstrasi nasional yang digelar kelompok "GenZ regelt!" (Gen Z Bisa Mengatasinya!).

Ket. Foto: Aksi demonstrasi di Berlin berubah ricuh setelah unjuk rasa yang dipimpin anak muda berlangsung pada siang hari. — Sumber: AFP

Terinspirasi oleh gerakan serupa di Prancis dan Italia yang mendesak elite politik agar lebih memperhatikan aspirasi generasi muda, demonstrasi tersebut berlangsung relatif damai pada siang hari.

Namun, ketegangan meningkat pada malam hari ketika sejumlah kelompok demonstran menolak membubarkan diri.

Di Frankfurt, Jerman bagian barat, polisi menjadi sasaran lemparan berbagai benda. Aparat kemudian mengerahkan meriam air dan menyemprotkan cairan merica untuk membubarkan massa.

"Insiden pelemparan batu dan kembang api ke arah petugas layanan darurat masih terus terjadi," kata kepolisian melalui platform X.

"Kami mengambil tindakan terhadap para pembuat kerusuhan ini."

Polisi juga menggunakan meriam air di Hamburg dan Cologne setelah demonstran dilaporkan menyerang petugas layanan darurat dengan kembang api, batu, dan botol.

'Titik Didih'

Di Berlin, demonstrasi yang tidak diselenggarakan oleh gerakan "GenZ regelt!" berlangsung pada malam hari. Polisi melaporkan bahwa petugas dilempari telur dan botol.

Sementara itu, polisi di Leipzig, Jerman bagian timur, menggunakan semprotan merica setelah aksi unjuk rasa berubah ricuh. Seorang petugas di Bonn juga mengalami luka ringan dalam bentrokan dengan sekelompok demonstran.

Polisi dilaporkan telah melakukan sejumlah penangkapan.

Sebelumnya, demonstrasi yang dipimpin anak muda berlangsung dalam suasana relatif damai dan meriah. Sejumlah peserta mengenakan kostum beragam, mulai dari dinosaurus hingga Batman, karena aksi tersebut bertepatan dengan perayaan Halloween.

Para demonstran membawa poster bertuliskan "Saatnya melawan" dan "Merz harus mundur", merujuk pada Kanselir Jerman dari kubu konservatif, Friedrich Merz.

"Saya pikir sangat penting untuk menunjukkan solidaritas dengan semua aksi protes lain yang saat ini berlangsung di Eropa, termasuk di Prancis," kata Milla, seorang mahasiswa berusia 20 tahun yang hanya menyebutkan nama depannya, kepada AFP di Berlin.

"Saya sudah lama menunggu sesuatu benar-benar terjadi dan orang-orang mulai memperjuangkan persoalan ini dengan lebih tegas. Saya yakin aksi hari ini merupakan langkah pertama," ujarnya.

Marius, seorang pekerja layanan perawatan berusia 23 tahun, mengatakan bahwa para politisi perlu mengetahui kondisi tersebut karena situasi perlahan-lahan mencapai titik didih.

"Saya rasa kita semua bisa merasakan bahwa keadaan ini sudah tidak bisa berjalan seperti sekarang," katanya.

Keluhan gerakan tersebut mencakup tingginya biaya hidup, buruknya pemeliharaan sekolah, pemangkasan belanja pemerintah, serta kebijakan para politisi yang dinilai kurang mempertimbangkan kepentingan generasi muda.

Mereka juga menentang peningkatan tajam belanja militer dan model dinas sukarela baru yang bertujuan menambah jumlah personel militer. Mereka khawatir kebijakan tersebut menjadi langkah awal untuk memberlakukan kembali wajib militer.

Protes Meluas di Eropa

Kelompok "GenZ regelt!" menyebut sekitar 120.000 orang mengikuti demonstrasi tersebut.

Kepolisian mengatakan aksi utama berlangsung "sangat damai".

Namun, ketika kekerasan pecah pada malam hari, polisi "melakukan intervensi dengan sangat tegas dan juga keras", kata Andreas Rosskopf, pejabat serikat kepolisian, kepada surat kabar Rheinische Post.

Ia juga menyebut kerusakan besar terhadap properti sejauh ini berhasil dihindari. Sejumlah toko perhiasan dan gerai pakaian mewah telah memasang papan pelindung pada jendela mereka sebelum demonstrasi untuk mengantisipasi penjarahan.

Aksi protes juga berlangsung di Prancis pada Sabtu untuk akhir pekan ketiga berturut-turut. Bentrokan pecah di Paris dan sejumlah wilayah lainnya.

Demonstrasi nasional di negara tersebut pada 17 Oktober berujung pada salah satu kerusuhan terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Gerakan "GenZ regelt!" secara tegas menolak kekerasan.

Kelompok tersebut menyatakan bahwa "kelompok ekstremis, simbol-simbol yang bertentangan dengan konstitusi, rasisme, dan ujaran kebencian tidak memiliki tempat dalam gerakan kami, dari pihak mana pun asalnya."

  • Gelombang Protes Eropa

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.