• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Laporan Riset Ungkap Penti...

Laporan Riset Ungkap Pentingnya Magang Berbayar untuk Menarik Talenta Muda

Senin, 08 Jun 2026, 12:43 WIB

JAKARTA – Menjelang musim wisuda dan meningkatnya jumlah mahasiswa tingkat akhir yang bersiap memasuki dunia kerja, perusahaan didorong untuk menghadirkan program magang yang tidak hanya memberikan pengalaman kerja, tetapi juga menjamin pembelajaran yang bermakna dan kompensasi yang layak.

Hal tersebut terungkap dalam Laporan Eksklusif Hiring, Compensation & Benefits 2025 yang dirilis Jobstreet by Seek. Laporan tersebut menyoroti pentingnya program magang yang dirancang secara adil sebagai strategi untuk menarik dan mengembangkan talenta muda di tengah persaingan pasar tenaga kerja yang semakin ketat.

Ket. Foto: Ilustrasi mahasiswa dan mahasiswi magang. Laporan Jobstreet by Seek mengungkap pentingnya program magang berbayar yang adil dan berorientasi pembelajaran untuk menarik talenta muda, memperluas akses kesempatan kerja, dan membangun pipeline kandidat berkualitas bagi perusahaan. — Sumber: Jobstreet by Seek

Berdasarkan temuan laporan, sebanyak 21 persen perusahaan merekrut tenaga kerja kontrak atau temporer dengan tujuan utama menghemat biaya pegawai. Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian agar praktik serupa tidak diterapkan dalam program magang yang seharusnya berfokus pada pengembangan kompetensi peserta.

Menurut Jobstreet by Seek, program magang idealnya menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa dan siswa vokasi tingkat akhir untuk memperoleh pengalaman kerja langsung, membangun portofolio, serta mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional. Karena itu, peserta magang tidak seharusnya diposisikan sebagai tenaga kerja berbiaya rendah yang menggantikan fungsi karyawan tetap.

Head of Country Marketing Indonesia Jobstreet by Seek, Sawitri, mengatakan bahwa magang merupakan ruang pembelajaran yang membantu talenta muda memahami lingkungan kerja profesional dan membangun kesiapan sebelum memasuki dunia kerja secara penuh.

“Program magang pada dasarnya adalah ruang pembelajaran bagi mahasiswa tingkat akhir untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja profesional, memahami ritme kerja, dan mempersiapkan diri sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja,” ujarnya melalui siaran pers pada hari Senin (8/6).

Ia menambahkan bahwa program magang tidak seharusnya bergeser dari fungsi utamanya sebagai sarana pembelajaran menjadi sekadar sumber tenaga kerja murah, melainkan menjadi jembatan transisi yang membantu talenta muda membangun kesiapan karier.

Selain aspek pembelajaran, perusahaan juga diingatkan untuk mematuhi berbagai ketentuan pemerintah terkait penyelenggaraan magang, mulai dari beban kerja, jam kerja, durasi program, hingga pemberian gaji atau uang saku. Dengan desain program yang jelas dan proporsional, magang dinilai dapat menjadi penghubung yang sehat antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

Temuan ini juga diperkuat oleh laporan Workplace Happiness Index Indonesia 2025 yang menunjukkan bahwa Generasi Z merupakan kelompok pekerja dengan tingkat kebahagiaan kerja terendah. Kelompok ini cenderung lebih memperhatikan makna pekerjaan (purpose at work) serta keseimbangan kehidupan dan pekerjaan (work-life balance).

Karena itu, bagi banyak talenta muda, program magang tidak hanya dinilai dari besaran penghasilan yang diterima, tetapi juga dari kesempatan belajar, ruang pengembangan diri, dan kejelasan arah karier yang ditawarkan. Meski demikian, kompensasi yang layak tetap dianggap penting untuk memastikan kesempatan magang dapat diakses secara adil oleh berbagai kalangan.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa 47 persen perusahaan telah menyediakan program apprenticeship atau mentoring sebagai salah satu manfaat utama bagi karyawan dan peserta magang. Angka ini menunjukkan meningkatnya kesadaran perusahaan terhadap pentingnya pengembangan talenta muda.

Namun demikian, inisiatif tersebut dinilai perlu diimbangi dengan dukungan finansial yang memadai agar peserta magang dapat mengikuti program tanpa menghadapi hambatan ekonomi yang signifikan.

Dari sisi keberagaman dan inklusi, laporan yang sama mengungkap bahwa 56 persen perusahaan di Indonesia telah menerapkan inisiatif Diversity, Equity and Inclusion (DEI). Untuk memperkuat implementasi prinsip tersebut, perusahaan didorong memberikan gaji atau uang saku yang layak, membuka kesempatan bagi kandidat dari berbagai latar belakang ekonomi, serta menghindari persyaratan yang berpotensi membatasi akses bagi peserta dari kelompok kurang mampu.

Menurut Jobstreet by Seek, program magang tanpa kompensasi yang memadai berisiko hanya dapat diakses oleh kandidat dari kelompok ekonomi tertentu. Akibatnya, perusahaan dapat kehilangan peluang menjaring talenta potensial dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi.

Sebaliknya, program magang berbayar dinilai mampu memberikan manfaat strategis bagi perusahaan. Selain memperkuat reputasi sebagai tempat kerja pilihan (employer of choice), kompensasi yang layak juga dapat memperluas jangkauan talenta, meningkatkan keterikatan peserta magang, serta memperkuat pipeline kandidat untuk posisi penuh waktu di masa depan.

Dengan demikian, program magang yang menyeimbangkan pengalaman belajar, kepatuhan terhadap regulasi, dan kompensasi yang adil dinilai tidak hanya sebagai tanggung jawab moral, tetapi juga sebagai strategi bisnis jangka panjang untuk menjaga daya saing perusahaan dan menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih berkelanjutan di Indonesia.

Jobstreet by Seek menilai bahwa standar magang yang lebih bermartabat dapat menjadi langkah penting dalam membangun hubungan yang lebih kuat antara dunia pendidikan dan industri, sekaligus membantu perusahaan memenangkan kepercayaan generasi muda yang akan menjadi tulang punggung tenaga kerja masa depan.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.