IHSG Hari Ini Tertekan Dua Arah Sekaligus, Pasar Kehilangan Momentum
Senin, 08 Jun 2026, 17:35 WIBJAKARTA â Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dipicu kombinasi sentimen domestik dan global mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar dalam merespons ketidakpastian ekonomi.
Dari sisi global, tekanan biasanya berasal dari ekspektasi kebijakan suku bunga negara maju, volatilitas harga komoditas, serta dinamika geopolitik yang memengaruhi arus modal.
Sementara dari dalam negeri, faktor seperti rilis data ekonomi, stabilitas nilai tukar, dan prospek kinerja emiten turut menentukan arah pasar.
Kondisi ini mendorong investor melakukan aksi ambil untung dan rotasi aset ke instrumen yang lebih defensif.
Dalam jangka pendek, volatilitas IHSG diperkirakan masih tinggi hingga terdapat kepastian arah kebijakan ekonomi dan sentimen global yang lebih stabil.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (8/6) sore, ditutup melemah 252,63 poin atau 4,52 persen ke posisi 5.342,14 tertekan oleh kombinasi sentimen negatif di tingkat domestik dan global.
Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 30,67 poin atau 5,50 persen ke posisi 527,08.
"Tekanan jual berlanjut akibat faktor negatif dari global dan domestik," ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim, dalam kajiannya di Jakarta, Senin (8/6).
Ratna menjelaskan di tengah sentimen domestik akibat hilangnya kepercayaan investor, sentimen juga berasal dari global yaitu Iran dan Israel yang saling melakukan serangan, sehingga mengancam gencatan senjata yang rapuh.
Sentimen geopolitik tersebut menyebabkan harga minyak mentah naik lebih dari empat persen, sehingga meningkatkan risiko potensi kenaikan inflasi yang berlanjut dan potensi pelebaran defisit APBN 2026.
Selain itu, meningkatnya tensi geopolitik juga mendorong ekspektasi pelaku pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed akan bersikap hawkish di sepanjang sisa tahun ini.
Seiring dengan itu, bursa saham kawasan Asia turut melemah mengikuti bursa Wall Street, AS, akibat faktor negatif dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan koreksinya saham sektor teknologi.
"Potensi penurunan IHSG lebih lanjut masih berpeluang terbuka secara teknikal. Selanjutnya diperkirakan IHSG berpotensi akan menguji level 5.100," ujar Ratna.
Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas melemah yaitu sektor infrastruktur paling dalam sebesar 6,47 persen, diikuti oleh sektor industri dan sektor transportasi & logistik yang turun masing-masing sebesar 6,00 persen dan 5,43 persen.
Adapun saham-saham, yang mengalami penguatan terbesar yaitu GRIA, FORU, ASPR, TPIA dan PSDN.
Sedangkan, saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni ENAK, PTSN, GPSO, TNCA dan ANJT.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.215.560 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 32,52 miliar lembar saham senilai Rp21,74 triliun.
Sebanyak 78 saham naik, 661 saham menurun dan 771 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei melemah 2.492,12 poin atau 3,74 persen ke 64.096,00, indeks Shanghai melemah 68,40 atau 1,70 persen ke 3.959,34, indeks Hang Seng melemah 304,89 poin atau 1,22 persen ke posisi 24.657,06, dan indeks Straits Times melemah 83,49 poin atau 1,65 persen ke posisi 4.963,67.
- Ihsg hari ini
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Jurnalis Amerika Shelly Kittleson Diculik Kelompok Bersenjata di Tengah KeramaianIrak
-
Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Hadiri Sertijab Danskadron Udara 11
-
Akibat Cuaca Ekstrem, Jembatan Ciwarunga Terputus sehingga Ganggu Aktivitas Warga
-
Rahasia Efisiensi Armada: Bagaimana MPMRent Pertahankan Tingkat Utilisasi di Tengah Dinamika Pasar
-
Mangrove Desa Sugian Jadi Perhatian, Warga Lombok Timur Diminta Ikut Menjaga
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.