Lebak Antisipasi El Nino Ekstrem, Sawah Rentan Kekeringan Masuk Peta Pengawasan

Jumat, 29 Mei 2026, 09:55 WIB

LEBAK – Pemetaan areal persawahan rawan kekeringan menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan di tengah perubahan iklim yang makin tidak menentu.

Dengan identifikasi wilayah yang rentan sejak dini, pemerintah dapat menyusun strategi antisipasi seperti pengaturan pola tanam, pembangunan irigasi, hingga distribusi bantuan air secara lebih tepat sasaran.

Ket. Foto: Petani Kabupaten Lebak, Banten melakukan percepatan tanam guna menghindari musim kemarau yang diprediksi BMKG pada Juni 2026. — Sumber: ANTARA/ Mansur

Langkah ini juga membantu petani mengurangi risiko gagal panen yang dapat berdampak pada produksi beras dan stabilitas harga pangan nasional.

Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak, Banten, melakukan pemetaan areal persawahan rawan kekeringan menyusul adanya prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terjadi kemarau panjang atau "Godzilla El Nino" pada 2026.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar di Lebak, Kamis (28/5), mengatakan saat ini pihaknya melakukan penguatan sistem peringatan dini.

Sistem ini dirancang untuk memberikan informasi awal kepada petani agar mereka dapat mempersiapkan diri lebih awal dan mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan dampak dari kemarau panjang dengan melakukan berbagai kegiatan.

Di antaranya petani didorong untuk beralih ke benih unggul yang tahan terhadap kekeringan, seperti benih varietas Situ Bendit.

Varietas ini merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian dan bisa menghasilkan produksi pangan yang optimal di musim kemarau.

Selain itu, optimalisasi pengelolaan air juga digalakkan melalui irigasi dan pompanisasi agar ketersediaan air untuk pertanian dapat lebih terjamin

Begitu juga memetakan titik areal persawahan yang rawan kekeringan saat kemarau, serta mempercepat rehabilitasi jaringan irigasi di sejumlah sentra pertanian.

Dengan sistem peringatan dini yang lebih baik, sehingga petani mampu mengatasi kekurangan pasokan air itu.

"Kami melakukan optimalisasi infrastruktur pertanian dengan memperbaiki jaringan irigasi, pemanfaatan embung, dan jaringan irigasi pompa di sejumlah sentra pertanian," katanya menjelaskan.

Ia mengatakan, pihaknya menargetkan penanaman padi seluas 17.000 hektare pada Mei 2026.

Berdasarkan pemetaan areal persawahan yang rawan kekeringan di Kabupaten Lebak akibat tidak memiliki jaringan irigasi di sejumlah kecamatan.

Namun, pihaknya tetap mengoptimalkan penggunaan jaringan irigasi pompanisasi yang mengambil sumber air dari daerah aliran sungai maupun embung.

"Kami meyakini dengan melakukan peringatan dini ini dapat diantisipasi musim kemarau agar tetap menghasilkan produksi pangan," kata Rahmat.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.