Ahli Gizi: Program Makan Siang Sekolah Bergizi Efektif Putus Rantai Stunting.
Jumat, 29 Mei 2026, 19:47 WIBMakan Siang Sekolah Bergizi terbukti membawa dampak masif bagi jutaan anak Indonesia. Tidak sekadar menjadi solusi pemenuhan gizi di sekolah, program ini dirancang sebagai program strategis pemerintah untuk mengurai permasalahan struktural ekonomi keluarga rentan yang berimbas pada permasalahan stunting.
Hal ini disampaikan oleh Lesda Lybaws, M.Gz, Ahli Gizi IPB sekaligus Dewan Pengurus Pusat Himpunan Alumni IPB Departemen Gizi. Lesda sepakat bahwa Makan Siang Sekolah Bergizi adalah wujud nyata investasi jangka panjang negara yang langsung menyentuh akar permasalahan di masyarakat. âMasalah stunting di Indonesia layaknya fenomena gunung es yang memiliki akar multidimensional mulai dari, asupan makan, ekonomi (keluarga), hingga buruknya sanitasi yang memicu infeksi berulang pada anak,â ujarnya.
Menurut Lesda, Makan Siang Sekolah Bergizi secara komprehensif memotong rantai permasalahan yang berlarut-larut tersebut. Kini, program Makan Siang Sekolah Bergizi tidak hanya menyasar anak usia sekolah, namun juga telah mencakup sasaran 3B. Yakni,Balita, Ibu Menyusui (Busui), dan Ibu Hamil (Bumil) guna menyasar periode emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
Senada dengan pendapat Lesda, di balik narasi pemberian Makan Bergizi juga sejatinya hadir sebagai jembatan untuk mengatasi kerentanan ekonomi keluarga. Dr. Tri Nuryanti, Direktur Pengendalian Kerawanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), mengungkapkan bahwa saat ini masih terdapat 81 kabupaten/kota yang rentan rawan pangan. Di wilayah-wilayah tersebut, keluarga prasejahtera kerap harus mengalokasikan minimal 65 persen dari total pendapatan mereka hanya untuk belanja pangan.
"Ketika ada jembatan keterjangkauan bernama Makan Bergizi, beban pengeluaran pangan orang tua otomatis berkurang secara drastis. Makan Bergizi ini sangat efektif untuk menangani kerawanan pangan sekaligus menaikkan taraf ekonomi keluarga, karena sisa pendapatan mereka kini bisa dialihkan untuk kebutuhan pendidikan atau kesehatan lainnya," papar Dr. Tri Nuryanti.
Dengan kata lain, Makan Bergizi membantu memperbaiki struktur ekonomi keluarga prasejahtera yang selama ini terjebak dalam lingkaran kemiskinan akibat tingginya beban pemenuhan kebutuhan dasar yang berdampak pada timbulnya masalah kesehatan dan kualitas hidup mereka selama ini.
Peningkatan Kualitas Program yang Terus Dikawal Pakar
Kendati memiliki visi yang bagus, program Makan Bergizi perlu terus dikawal semua pihak agar perbaikan kualitas pelaksanaan di lapangan semakin membaik. Para pakar melihat bahwa pemerintah sangat serius bertransformasi dari sekadar konsep "masak, bungkus, dan antar" menjadi tata kelola sistem pangan yang terukur, aman, dan memberdayakan.
Lesda mengapresiasi langkah pemerintah yang semakin fokus pada kejelasan Standard Operating Procedure (SOP) teknis di dapur umum untuk memitigasi risiko insiden keamanan pangan. "Prinsip dasar kita, makanan yang didistribusikan harus terjamin halal, aman, dan memberikan outcome yang baik. Evaluasi yang terus berjalan saat ini membuat program Makan Bergizi semakin matang dan sempurna," tambahnya.
Sebagai contoh misalnya, di Gorontalo, Sulawesi Utara, operasional 117 Satuan Pelayanan Gizi (SPPG) diawasi secara ketat. Badan Gizi Nasional (BGN) tak segan membekukan operasional dapur yang melanggar standar, baik terkait pengelolaan air limbah (IPAL) maupun kualitas kelayakan bahan baku.
Hal ini ditegaskan langsung oleh Zulkifli Taluhumala, Koordinator SPPG Provinsi Gorontalo. "Pernah didapati roti yang diberikan ke SPPG sudah agak berjamur. Itu langsung menjadi laporan kami ke pimpinan dan dapurnya saat itu juga kami tutup. Artinya, itu murni pelanggaran SOP," tegas Zulkifli.
Namun, ia menambahkan bahwa setiap evaluasi dilakukan demi penyempurnaan program ke depan. "Tidak ada yang sempurna, pastinya di lapangan masih banyak kekurangan. Namun, dari ketidaksempurnaan itu kami jadikan pembelajaran dan evaluasi agar pelayanan menjadi jauh lebih baik," tambahnya.
Selain pengawasan ketat, setiap dapur juga dikenakan batas radius distribusi maksimal 5 kilometer agar makanan tiba di meja anak-anak dalam kondisi segar dan hangat.
Lebih dari itu, ekosistem Makan Bergizi kini diintegrasikan untuk memberdayakan petani lokal dan UMKM di sekitar sekolah. Sejalan dengan itu, Bapanas juga memastikan setiap wilayah menyajikan menu yang disesuaikan berdasarkan kekayaan pangan lokal dan diawasi ketat oleh Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD). Bahan baku diuji agar bebas dari residu pestisida maupun pengawet berbahaya.
Di Kabupaten Gorontalo sendiri, dapur-dapur Makan Bergizi mulai aktif menyerap jagung hasil panen petani setempat dan tengah menggandeng Dinas Perikanan untuk menyuplai ikan tuna fillet tangkapan nelayan lokal sebagai sumber protein utama.
Sinergi lintas sektor inilah yang memastikan Program Makan Bergizi tidak hanya untuk memenuhi nutrisi bagi anak bangsa, tetapi juga membangun kemandirian pangan, memberdayakan ekonomi lokal, dan mencetak Generasi Emas 2045 yang berdaya saing global.
- Makan Siang Sekolah Bergizi
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Yebdi Trismar
Berita Terkait:
-
Penelitian Terbaru Menunjukkan Badai Luar Angkasa dapat Mengganggu Pesan dari Alien
-
Rupiah Nyaris Rp17.000, Dampak Perang Asia Barat Makin Ngeri, Dompet Rakyat Terancam?
-
Warga Gayo Lues Yakin Lahan Pertanian Segera Pulih
-
Guru Besar Kebijakan Publik UPI: Makan Siang Sekolah Bergizi Program Bagus Bila Dikelola dengan Baik.
-
Arus mudik H-5 Lebaran di Karawang
-
Mapala Jelajahi Gunung Tertinggi di Pulau Simeulue Gali Potensi Wisata
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.