Generasi Muda Kini Hadapi Bentuk Baru Penjajahan Era Digital
Senin, 25 Mei 2026, 03:07 WIBJAKARTA - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan generasi muda Indonesia menghadapi bentuk baru penjajahan di era digital, yakni dominasi algoritma yang secara perlahan membentuk cara berpikir, perilaku, hingga persepsi publik.
Menurut Nezar, masyarakat saat ini hidup dalam ruang digital yang dikendalikan platform dan algoritma media sosial, membuat manusia semakin sulit membedakan fakta, opini, hingga manipulasi informasi.
âHari ini hidup kita dimediasi platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma. Apa yang kita suka terus diperlihatkan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber,â ujarnya melalui keterangan resmi diterima di Jakarta, Minggu (24/5).
Wamen Nezar menilai kondisi tersebut menjadi ancaman serius karena dapat memicu polarisasi sosial, memperkuat misinformasi, dan melemahkan kemampuan berpikir kritis masyarakat, terutama generasi muda.
Ia mengutip laporan World Economic Forum yang menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu risiko global terbesar tahun 2026, bahkan melampaui banyak ancaman geopolitik dunia.
âSekarang orang lebih dulu percaya sentimen dibanding fakta. Kalau suka langsung dipercaya, kalau tidak suka langsung ditolak. Ini yang berbahaya,â tegasnya.
Perkembangan AI
Dalam paparannya, Wamen Nezar juga menyoroti perubahan besar akibat perkembangan artificial intelligence (kecerdasan artifisial) atau AI yang kini bergerak sangat cepat, mulai dari generative AI, agentic AI, hingga physical AI berbasis robotika.
Menurutnya, dunia sedang memasuki fase baru persaingan global yang bukan lagi sekadar perebutan sumber daya alam, tetapi penguasaan data, komputasi, semikonduktor, dan talenta digital.
âHari ini perang yang paling penting adalah perang chip AI dan penguasaan teknologi. Kalau Indonesia hanya jadi pengguna teknologi, bonus demografi kita akan hilang tanpa dampak besar,â katanya.
Wamenkomdigi menjelaskan Indonesia sebenarnya memiliki modal besar berupa bonus demografi dan kekayaan mineral strategis yang dibutuhkan industri teknologi global.
Namun, ia mengingatkan bahwa keunggulan itu tidak akan berarti tanpa kualitas sumber daya manusia yang mampu menguasai sains dan teknologi.
Karena itu, ia meminta generasi muda memperkuat kemampuan science, technology, engineering, and mathematics atau STEM serta meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terjebak manipulasi algoritma.
âKita harus masuk menjadi pemain dalam industri digital global. Jangan hanya jadi pasar dan konsumen teknologi,â tandasnya.
Wamen Nezar juga mengajak organisasi kepemudaan dan pelajar mengambil peran dalam membangun kemandirian teknologi nasional dan menjaga ruang digital Indonesia tetap sehat, kritis, dan produktif bagi masa depan bangsa.
Sementara itu, Pandu Literasi Digital Kemkomdigi Shalahuddin mengingatkan pentingnya nalar kritis di tengah arus teknologi informasi seperti saat ini. âDibutuhkan nalar kritis di tengah pesatnya arus teknologi informasi seperti saat ini,â kata Shalahuddin saat bimbingan teknis (bimtek) literasi informasi di Mamuju, pekan lalu.
Bimbingan teknis literasi informasi tersebut diikuti 150 peserta, terdiri dari pustakawan, tenaga perpustakaan, guru dan pegiat literasi di Sulbar.
Shalahuddin yang membawakan materi bertajuk Digitalitas dan Literasi Digital menyoroti perubahan besar yang terjadi akibat perkembangan teknologi digital dalam kehidupan masyarakat. âHari ini hampir semua orang sudah daring (online), tapi belum tentu semua orang paham apa yang mereka akses di internet dan bagaimana teknologi mempengaruhi sekaligus mengubah prilakunya,â ujar nya.
Digitalitasi, menurut Shalahuddin, telah melahirkan cara hidup dan interaksi sosial baru, cara berpikir masyarakat berubah, begitu pula cara mempercayai sesuatu dan cara berinteraksi. âMasalahnya, hidup kita sudah digital, tapi cara kita memahami dunia masih cara lama,â katanya. Shalahuddin menilai perkembangan teknologi turut memberi tekanan psikologis terhadap masyarakat, termasuk pada aspek mental dan identitas, serta mempengaruhi cara dan kemampuan berpikir masyarakat.
Dalam menjaga nalar publik, Shalahuddin menilai dibutuhkan peran bersama dari berbagai pihak.Ia juga menekankan pentingnya membangun resiliensi digital melalui penguatan identitas dan nalar kritis, kemampuan memilah serta memverifikasi informasi, keamanan digital, hingga dukungan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi. âKita tidak bisa menghentikan perkembangan teknologi. Tapi kita bisa memastikan manusia tetap memegang kendali,â Âujarnya. Ant/S-2
Redaktur: Sriyono
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.