Demam Piala Dunia 2026 Jadi Harapan Baru Komunitas Imigran New York

Senin, 25 Mei 2026, 00:15 WIB

NEW YORK - Demam Piala Dunia 2026 mulai terasa di berbagai komunitas imigran di New York City. Setelah berbulan-bulan dihantui kekhawatiran akibat kebijakan deportasi pemerintahan Donald Trump, banyak pelaku usaha kini berharap turnamen sepak bola terbesar di dunia itu mampu menghidupkan kembali denyut ekonomi kawasan mereka.

Di kawasan “Little Haiti” di Brooklyn, suasana jalanan yang biasanya ramai pedagang sempat terlihat lengang dalam beberapa waktu terakhir. Kekhawatiran terhadap razia imigrasi membuat aktivitas masyarakat menurun drastis, meski kawasan tersebut sebenarnya belum pernah menjadi target operasi aparat imigrasi.

Ket. Foto: Ilustrasi demam Piala Dunia 2026 di New York City. — Sumber: AFP

Mahalia Desrosiers dari organisasi komunitas Little Haiti BK mengatakan beberapa bisnis bahkan terpaksa tutup akibat menurunnya jumlah pengunjung. Namun, ia optimistis atmosfer Piala Dunia akan membawa semangat baru bagi komunitas Haiti di New York.

“Saya pikir Piala Dunia akan memberi orang-orang rasa kehidupan, harapan, dan energi,” kata Desrosiers kepada AFP.

“Haiti akan memasang bendera di mana-mana. Kami akan mengecat kota ini dengan warna merah dan biru.”

Pemerintah kota New York mulai aktif mendatangi kawasan-kawasan imigran menjelang pertandingan pertama Piala Dunia pada 11 Juni mendatang. Tujuannya adalah memperkenalkan peluang ekonomi yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha lokal selama turnamen berlangsung.

Badan pariwisata kota bahkan tengah menyiapkan kalender acara FIFA yang memungkinkan wisatawan menikmati pertandingan di lingkungan komunitas dengan basis suporter paling fanatik.

Selain itu, program “Five Borough Winners Special” akan membagikan gelas edisi khusus Piala Dunia kepada restoran dan bar di lima wilayah New York.

Jacques Brunvil dari Departemen Layanan Bisnis Kecil New York mengatakan turnamen ini bisa menjadi kesempatan besar bagi usaha kecil untuk menjangkau pelanggan baru.

“Dengan FIFA, ini menjadi peluang untuk menjangkau pasar baru dan menarik orang-orang yang mungkin sebelumnya belum pernah datang ke bisnis mereka,” ujarnya.

Lima desain gelas dibuat berbeda untuk setiap wilayah kota, mulai dari warna kuning taksi untuk Bronx hingga hijau Liberty untuk Staten Island. Pemerintah berharap wisatawan akan mengoleksi seluruh seri dan membagikannya di media sosial. Hingga 20 Mei, sekitar 600 pelaku usaha telah mendaftar dalam program tersebut.

Komunitas imigran New York memang menghadapi tekanan besar sejak Trump kembali ke Gedung Putih dan menggencarkan program deportasi massal. Pemerintah kota mengakui dampak ekonomi dari situasi tersebut cukup terasa, meski sulit diukur secara pasti.

Kepala staf SBS, Haris Khan, mengatakan Piala Dunia memang tidak akan sepenuhnya menghapus kesulitan yang dialami pelaku usaha imigran selama satu setengah tahun terakhir, tetapi setidaknya memberi secercah peluang.

Di restoran Golden Blue Bar & Restaurant, optimisme serupa mulai tumbuh. Restoran milik keluarga Haiti itu sebelumnya sudah terpukul pandemi Covid-19 sebelum kemudian menghadapi kekhawatiran terkait operasi imigrasi.

Amantha Chery, yang membantu mengelola restoran tersebut, yakin komunitas Haiti tetap akan turun merayakan sejarah besar tim nasional mereka yang tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun.

Harga tiket pertandingan Haiti melawan Skotlandia pada 13 Juni bahkan sudah melambung hingga lebih dari 600 dolar AS atau sekitar 9,7 juta rupiah.

“Karena harga tiketnya mahal, justru lebih baik bagi kami,” kata Chery sambil tertawa.

Restoran itu berencana menggelar acara nonton bersama menggunakan layar besar untuk menarik pengunjung. Bagi Chery, momen ini bukan hanya soal sepak bola, tetapi juga kesempatan memperlihatkan sisi lain Haiti kepada dunia.

“Selama ini Haiti sering diberitakan sebagai tempat yang berbahaya,” ujarnya.

“Padahal budaya kami penuh keindahan dan ketangguhan. Saya senang akhirnya kami menjadi sorotan karena sesuatu yang luar biasa.”

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.