Rupiah Anjlok ke Rekor Terendah, IHSG Turun Lebih 4 Persen

Selasa, 19 Mei 2026, 06:15 WIB

Jakarta - Nilai tukar Rupiah menyentuh level terendah sepanjang sejarah setelah pasar keuangan Indonesia terseret aksi jual global yang dipicu kekhawatiran inflasi dan lonjakan harga energi dunia.

Pada Senin (18/5), rupiah sempat melemah hingga 1,1 persen ke level 17.658 rupiah per dollar AS, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pada hari itu.

Ket. Foto: Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5). — Sumber: Antara

Dilansir dari The Straits Times, tak hanya terhadap dollar AS, rupiah juga melemah terhadap dollar Singapura hingga 1,2 persen menjadi 13.804 rupia per dolar Singapura. Sepanjang 2026, rupiah tercatat sudah turun sekitar 6 persen terhadap mata uang Singapura.

Sementara itu, indeks saham utama Indonesia atau IHSG turun lebih dari 4 persen saat perdagangan kembali dibuka usai libur panjang akhir pekan.

Tekanan di pasar saham juga dipicu keputusan penyedia indeks global MSCI yang menghapus lebih dari selusin perusahaan dari indeks Indonesia pekan lalu.

Dampak Perang Iran

Pelemahan aset Indonesia terjadi seiring aksi jual di berbagai pasar Asia yang bergantung besar pada impor energi.

Kondisi tersebut membuat negara-negara di kawasan rentan terhadap kenaikan harga minyak akibat perang yang melibatkan Iran.

Kepala riset Asia Australia & New Zealand Banking Group, Khoon Goh, mengatakan investor mulai khawatir terhadap posisi fiskal Indonesia karena tingginya beban subsidi energi.

“Investor khawatir terhadap posisi fiskal Indonesia akibat tingginya tagihan subsidi energi,” ujarnya.

Menurutnya, kenaikan imbal hasil global juga menambah tekanan terhadap rupiah karena suku bunga domestik perlu dinaikkan agar tetap menarik bagi investor asing.

Ia memprediksi Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga pada 20 Mei.

Turunkan Outlook

Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings dan Moody's Ratings juga telah menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif pada 2026.

Bank Indonesia kini berada di bawah tekanan untuk memperkuat intervensi demi menahan pelemahan rupiah yang sepanjang tahun ini sudah turun lebih dari 5 persen terhadap dolar AS.

Pekan lalu, BI menyatakan akan melakukan intervensi di pasar valuta asing dan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan moneter guna mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Namun sejumlah analis meragukan efektivitas langkah tersebut di tengah tekanan harga minyak global dan kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal domestik.

Prabowo: Desa Tidak Pakai Dollar

Di tengah pelemahan rupiah, Presiden Prabowo Subianto sempat menyinggung kondisi nilai tukar saat kunjungan kerja ke Jawa Timur pada 17 Mei lalu.

Menurut Prabowo, masyarakat desa tidak terlalu terdampak oleh pelemahan rupiah karena tidak bertransaksi menggunakan dollar AS.

“Berapa pun nilai tukar rupiah terhadap dollar, masyarakat desa tidak memakai dollar juga,” kata Prabowo.

Ia menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan meminta masyarakat tetap percaya diri terhadap kondisi ekonomi nasional.

Dalam pidato terpisah, Prabowo juga menyebut Indonesia masih memiliki pasokan pangan dan energi yang cukup dibandingkan banyak negara lain yang tengah menghadapi kepanikan ekonomi global.

“Banyak negara panik, tetapi Indonesia masih baik-baik saja,” ujarnya.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.