Lonjakan Besar, Industri Animasi RI Catat Pertumbuhan 3,3 Kali Lipat

Selasa, 19 Mei 2026, 17:50 WIB

JAKARTA – Pertumbuhan industri animasi Indonesia menunjukkan semakin kuatnya posisi sektor ekonomi kreatif dalam struktur ekonomi berbasis digital.

Peningkatan permintaan konten animasi, baik dari pasar domestik maupun global, didorong oleh ekspansi platform digital, industri periklanan, hingga kebutuhan konten hiburan yang terus meningkat.

Ket. Foto: Ilustrasi - Film animasi Jumbo. — Sumber: Istimewa.

Kondisi ini membuka peluang besar bagi talenta lokal untuk masuk ke rantai pasok industri kreatif internasional.

Namun, pertumbuhan tersebut masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan skala produksi, akses pendanaan, serta kebutuhan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di pasar global.

Dengan dukungan ekosistem yang lebih kuat, termasuk pendidikan vokasi, insentif industri, dan kemitraan internasional, industri animasi Indonesia berpotensi menjadi salah satu motor utama ekspor jasa kreatif di masa mendatang.

Menteri Ekonomi Kreatif/ Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menyebut industri animasi Indonesia tumbuh lebih dari tiga kali lipat dalam satu dekade terakhir seiring meningkatnya produksi dan pengembangan kekayaan intelektual atau Intellectual Property (IP) lokal.

“Industri animasi Indonesia berhasil tumbuh dari sekitar Rp240 miliar pada tahun 2015 menjadi Rp800 miliar pada tahun 2025. Capaian ini berarti ekonomi animasi kita telah meningkat lebih dari 3,3 kali lipat dalam 10 tahun terakhir dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 13 persen,” kata Menteri Ekraf dalam peluncuran dan konferensi pers "Indonesia Animation Report 2026" di Jakarta, Selasa (19/5).

Ia mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan industri animasi nasional mulai bergerak dari sekadar penyedia jasa produksi untuk IP internasional menjadi pencipta IP orisinal karya anak bangsa.

Menurut dia, pada 2025 pendapatan dari sektor kekayaan intelektual animasi meningkat 280 persen dibandingkan satu dekade sebelumnya.

“Fenomena ini menegaskan transformasi industri animasi Indonesia yang tadinya penyedia jasa atau services bagi berbagai IP internasional namun kemudian dapat menciptakan berbagai IP original karya anak bangsa,” ujarnya.

Riefky menyebut saat ini anggota Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI) telah memiliki 299 IP karakter lokal.

Ia mencontohkan keberhasilan film animasi “Jumbo” produksi Visinema yang berhasil meraih lebih dari 10 juta penonton bioskop dan dinilai menjadi bukti bahwa karya animasi lokal mampu diterima pasar luas.

“Keberhasilan ini membuktikan secara nyata bahwa kualitas karya animator kita sudah berada di level yang sangat kompetitif dan siap berdaulat secara ekonomi,” katanya.

Ia menambahkan pemerintah terus memperkuat ekosistem industri animasi melalui kebijakan berbasis riset, perlindungan kekayaan intelektual, hingga pengembangan pembiayaan berbasis IP.

Indonesia Animation Report 2026 secara resmi diluncurkan oleh Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya. Laporan tersebut merupakan studi komprehensif yang memetakan kondisi, potensi, serta tantangan industri animasi nasional.

  • industri animasi

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.