Bukit Premium, Pemandangan Sumba Mini Ala Pasuruan
Jumat, 15 Mei 2026, 07:18 WIBUDARA musim kemarau yang panas maka pilihan destinasi wisata yang cocok adalah tempat wisata berhawa sejuk. Dari sekian banyak tujuan wisata pegunungan di Jawa Timur yang tergolong masih anti mainstream salah satunya adalah Bukit Kandang di Kabupaten Pasuruan.
Berada di Dusun Kandang Sari, Desa Mororejo, Kecamatan Tosari, lokasinya berjarak sekitar 23,9 km dengan destinasi Gunung Bromo yang sudah sangat populer itu dengan melewati Jalan Bromo. Sedangkan jarak dari Surabaya sejauh 102 km.
Bukit Kandang yang sering disebut Bukit Premium menawarkan lanskap sabana hijau luas dengan kontur bukit bergelombang yang menghadirkan panorama mirip padang savana di kawasan Nusa Tenggara seperti Sumba, Flores, Sumbawa dan pulau-pulau kecil lain.
Keindahan alam Bukit Kandang membuat banyak wisatawan menjulukinya sebagai âSumba miniâ atau âSumba-nya Jawa Timur.â Hamparan rumput yang membentang luas, udara pegunungan yang sejuk, hingga pemandangan kabut tipis pada pagi hari menjadi daya tarik utama kawasan ini.
Bukit Kandang tergolong mudah diakses karena kawasan ini masih berada di jalur wisata menuju Gunung Bromo sehingga cukup mudah dijangkau wisatawan dari Surabaya, Malang, maupun Probolinggo. Jadi bagi yang menuju Bromo pulangnya bisa mampir ke sini, untuk menikmati panorama yang tidak biasa di Pulau Jawa.
Hal pertama yang membuat wisatawan terpikat saat tiba di Bukit Kandang adalah lanskap alamnya yang sangat terbuka. Dari atas bukit, pengunjung dapat melihat hamparan padang rumput luas dengan latar pegunungan hijau yang membentang sejauh mata memandang.
Saat musim hujan, kawasan ini berubah menjadi sabana hijau segar yang tampak sangat kontras dengan langit biru dan kabut pegunungan. Sementara ketika musim kemarau tiba, warna rumput berubah menjadi kekuningan dan menciptakan suasana eksotis ala savana Afrika.
Banyak wisatawan datang ke Bukit Kandang untuk berburu foto. Hampir setiap sudut tempat ini terlihat fotogenik, terutama ketika matahari terbit atau menjelang senja. Cahaya matahari pagi yang menyinari bukit-bukit hijau menciptakan panorama dramatis yang sulit ditemukan di kawasan perkotaan.
Kabut tipis yang sering turun pada pagi hari juga menjadi daya tarik tersendiri. Tidak jarang pengunjung harus menunggu beberapa menit hingga kabut perlahan terbuka dan memperlihatkan hamparan sabana yang luas.
Lokasi dan Akses
Bukit Kandang yang juga dikenal dengan nama Bukit Keciri) di Pasuruan berada di ketinggian sekitar 2.235 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dengan ketinggian ini udara di sini tergolong sangat sejuk.
Bukit Kandang berada di kawasan Tosari, daerah yang terkenal sebagai salah satu pintu masuk menuju Gunung Bromo. Dari pusat Kota Pasuruan, perjalanan menuju lokasi memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam tergantung kondisi lalu lintas.
Akses menuju lokasi bukit yang sering menjadi tujuan para pendaki pemula ini kini semakin baik dibanding beberapa tahun lalu. Jalan menuju kawasan Tosari sudah cukup mulus meski di beberapa titik terdapat tanjakan dan tikungan khas jalur pegunungan.
Bagi wisatawan dari Surabaya, rute yang umum digunakan adalah menuju Pasuruan, kemudian melanjutkan perjalanan ke Kecamatan Tosari. Sedangkan wisatawan dari Malang biasanya melewati jalur Nongkojajar sebelum menuju lokasi wisata.
Bukit Kandang berada di lokasin yang dekat dengan kawasan lereng Gunung Bromo sehingga sering menjadi alternatif wisata bagi pengunjung yang ingin menikmati panorama alam selain kawasan kawah Bromo.
Akses menuju lokasi cukup mudah dijangkau kendaraan roda dua maupun roda empat. Dari Kota Pasuruan, perjalanan menuju Tosari memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga jam. Jalur menuju lokasi didominasi tanjakan dan tikungan pegunungan, namun kondisi jalannya relatif baik.
Perjalanan menuju Bukit Kandang justru menjadi pengalaman menarik tersendiri. Sepanjang perjalanan, wisatawan akan disuguhi pemandangan perbukitan hijau, area pertanian warga, hingga kabut tipis yang sering turun di kawasan pegunungan.
Sesampainya di area parkir, pengunjung perlu berjalan kaki menuju titik utama bukit di destinasi ini. Trekking yang dilakukan tidak terlalu berat sehingga masih cocok untuk wisatawan pemula maupun keluarga.
Setelah tiba di area parkir, pengunjung masih harus berjalan kaki menuju titik utama Bukit Kandang selanjutnya dilanjutkan dengan berjalan kaki. Trekking ringan ini biasanya memakan waktu sekitar 10â20 menit tergantung kondisi fisik dan cuaca.
Meski jalurnya tidak terlalu sulit, pengunjung tetap disarankan menggunakan alas kaki yang nyaman karena beberapa bagian jalur cukup menanjak dan licin saat hujan. Untuk wisatawan yang tidak ingin berjalan kaki terlalu jauh, tersedia jasa ojek lokal yang dikelola warga sekitar.
Spot Sunrise dan Sunset Favorit Wisatawan
Seperti Bromo, salah satu waktu terbaik menikmati Bukit Kandang adalah saat matahari terbit. Banyak wisatawan rela datang sejak dini hari demi melihat sunrise berwarna jingga dari kawasan sabana ini.
Ketika cuaca cerah, cahaya matahari perlahan muncul dari balik pegunungan dan menyinari hamparan rumput hijau dengan warna keemasan. Momen ini menjadi favorit fotografer maupun pemburu konten media sosial.
Bagi yang susah bangun pagi, selain sunrise, Bukit Kandang juga terkenal dengan panorama matahari terbenamnya. Langit jingga berpadu dengan siluet bukit menciptakan suasana yang tenang dan romantis.
Banyak pengunjung memilih duduk santai di area perbukitan sambil menikmati kopi hangat dan udara dingin pegunungan. Suasana alami tanpa hiruk-pikuk kendaraan menjadi alasan mengapa tempat ini cocok untuk melepas penat dari rutinitas kota. Memang tempat ini cenderung sepi dibandingkan Bromo yang riuh.
Camping dengan Nuansa Alam Terbuka
Bagi mereka yang menyukai bermalam dengan mendirikan tenda, Bukit Kandang juga menjadi lokasi favorit untuk camping ringan. Area sabana yang luas memungkinkan wisatawan bermalam di tenda sambil menikmati panorama alam terbuka, cocok bagi yang menikmati perburuan bintang dan panorama galaksi Bimasakti.
Potensi Wisata Alam Baru
Popularitas Bukit Kandang turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Warga mulai menyediakan area parkir, jasa ojek, warung makanan, hingga penyewaan perlengkapan camping untuk wisatawan.
Namun demikian, meski mulai ramai dikunjungi, suasana Bukit Kandang masih tergolong alami karena aktivitas ekonomi wisata warga belum masif. Di sini juga belum banyak bangunan permanen i sehingga nuansa pegunungan tetap terasa kuat.
Pemerintah daerah dan masyarakat setempat kini mulai mendorong pengembangan wisata berbasis alam dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Pengunjung pun diimbau tidak membuang sampah sembarangan serta menjaga area sabana agar tetap bersih dan alami. hay
- Bukit Kandang
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.