Risiko Ekologi Membesar

Selasa, 12 Mei 2026, 06:05 WIB

Produksi Pertanian

JAKARTA – Target ambi­sius pemerintah meningkat­kan produksi pertanian di daerah daerah bisa berakibat buruk pada daya dukung la­han. Karena itu, rencana kerja pemerintah harus terukur dan realistis, jangan sampai merusak keseimbangan alam atau me­nimbulkan ma­salah ekologi.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Dosen Fakultas Perta­nian, Sains dan Teknologi Uni­versitas Warmadewa (Unwar) Denpasar, I Nengah Muliarta menyoroti target kenaikan pro­duksi padi sebesar 5 persen di Jawa Timur (Jatim) pada 2026. Dirinya menilai kebijakan itu berani namun berisiko besar secara ekologi dan statistik.

Menurut Muliarta, pen­capaian Jatim tahun sebelum­nya yang tumbuh hingga dua digit membuat tambahan tar­get 5 persen terkesan meng­abaikan batas daya dukung lahan. “Intensifikasi terus-menerus berpotensi membuat lahan mencapai titik jenuh. Fo­kus berlebihan pada tonase ga­bah kering giling menciptakan bias kebijakan yang menomor­duakan kesehatan tanah dan keberlanjutan ekosistem demi citra lumbung pangan nasio­nal,” ujarnya, Senin (11/5).

Dia juga mengkritik pe­nyempitan makna kedaulat­an pangan yang hanya diukur dari ketersediaan beras. Pada­hal, kedaulatan pangan sejati mencakup keragaman sumber karbohidrat dan kemandirian petani atas input produksi. “Ambisi menaikkan produksi padi berpotensi memper­parah ketergantungan pada satu pangan pokok. Pangan lokal non-beras yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim justru terpinggirkan,” kata Muliarta.

Dari sisi data, Muliarta mempertanyakan akurasi pro­yeksi kenaikan 5 persen. Pasal­nya, proyeksi sering tidak lin­ear dengan laju konversi lahan produktif di Jatim yang makin masif serta ancaman anomali cuaca yang sulit diprediksi.

Lebih lanjut, dia menegas­kan angka produksi besar tidak otomatis menyejahterakan pe­tani.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.