Piala Dunia 2026 Hadir dengan 48 Tim, Drama dan Ketegangan Dipertanyakan

Selasa, 12 Mei 2026, 06:00 WIB

PARIS, PRANCIS — Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi pertama yang diikuti 48 negara. Ekspansi peserta ini membuka jalan bagi lebih banyak debutan tampil di panggung sepak bola terbesar dunia. Namun, di balik semangat inklusivitas yang diusung FIFA, muncul pertanyaan besar: apakah turnamen ini masih akan menyimpan tensi dan drama yang selama ini membuat Piala Dunia begitu istimewa?

Perluasan format tersebut merupakan realisasi dari gagasan utama Presiden FIFA Gianni Infantino sejak ia mulai memimpin federasi sepak bola dunia itu pada 2016. Saat itu, Infantino menegaskan pentingnya memberi “lebih banyak kesempatan bagi lebih banyak negara” dan menyebut Piala Dunia bukan sekadar kompetisi, melainkan juga “peristiwa sosial global”.

Ket. Foto: Ilustrasi trofi Piala Dunia. — Sumber: AFP

Sepanjang sejarahnya, Piala Dunia memang lama didominasi negara-negara Eropa dan beberapa kekuatan tradisional Amerika Selatan. Hingga sebelum 1982, turnamen ini hanya diikuti 16 tim.

Pada edisi 1978, misalnya, 10 dari 16 peserta berasal dari Eropa. Bahkan ketika format diperluas menjadi 24 tim pada Piala Dunia 1990 di Italia, terdapat 14 wakil Eropa di dalamnya.

Sementara itu, Afrika hanya mengirim total empat wakil dalam 11 edisi pertama Piala Dunia sebelum 1982. Pada 1990 pun, Afrika, Asia, serta kawasan CONCACAF, yang meliputi Amerika Utara, Tengah, dan Karibia, masing-masing hanya memiliki dua wakil.

Perluasan menjadi 32 tim sejak 1998 memang membuat distribusi peserta lebih merata. Namun pada Piala Dunia 2022 di Qatar, Eropa masih mengirim 13 negara, sedangkan Afrika hanya mendapat lima slot.

Kini, format 48 tim menghadirkan distribusi yang jauh lebih seimbang tanpa mengurangi kuota Eropa. UEFA mendapat 16 tiket, Afrika 10, Asia sembilan, CONMEBOL dan CONCACAF masing-masing enam, ditambah satu slot untuk Selandia Baru dari Oseania.

“Kami ingin menjadikan sepak bola benar-benar global. Ini evolusi yang alami,” kata Arsene Wenger pada Desember lalu.

Menurut Wenger, jumlah 48 peserta tetap proporsional jika dibandingkan dengan 211 negara anggota FIFA.

Format baru ini juga memberi peluang bersejarah bagi negara-negara kecil untuk tampil di putaran final. Salah satu contohnya adalah Curacao, negara kepulauan kecil di Karibia dengan populasi tak sampai 160 ribu jiwa.

“Sekali dalam satu dekade atau empat tahun, selalu ada negara kecil yang menjadi kejutan,” ujar pelatih Curacao, Fred Rutten, yang berharap timnya mampu menciptakan sensasi besar.

Selain Curacao, negara-negara seperti Cape Verde, Jordan, dan Uzbekistan juga berpeluang mencatat debut bersejarah di Piala Dunia.

Bukan hanya lolos, peluang negara-negara nonunggulan untuk menembus fase gugur kini juga lebih besar. Dalam format baru, dua tim terbaik dari 12 grup akan lolos otomatis ke babak 32 besar, ditemani delapan peringkat ketiga terbaik.

Artinya, satu kemenangan di fase grup bisa saja cukup untuk mengamankan tiket ke fase knockout.

Namun, di sisi lain, perubahan ini dinilai dapat mengurangi tensi kompetisi di fase awal. Negara-negara unggulan kemungkinan tidak lagi terlalu panik jika kalah di laga pertama.

Situasi dramatis seperti yang dialami Argentina saat tumbang dari Saudi Arabiapada fase grup Piala Dunia 2022 diperkirakan akan semakin jarang terjadi.

Begitu pula kemungkinan raksasa tersingkir lebih awal, seperti yang dialami Jerman dalam dua edisi terakhir.

Pada tahun 2022, fase grup hanya memainkan 48 pertandingan untuk menyingkirkan 16 tim. Kini, jumlah pertandingan di putaran pertama melonjak menjadi 72 laga dengan jumlah tim tersingkir tetap sama.

Tim yang ingin menjadi juara juga kini harus memainkan delapan pertandingan, bukan lagi tujuh. Jadwal padat itu dinilai akan semakin membebani pemain, terutama karena turnamen digelar pada musim panas Amerika Utara yang menguras energi.

Penulis buku The Power and the Glory: A New History of the World Cup, Jonathan Wilson, menilai format 32 tim sebenarnya sudah ideal.

“Saya memahami argumen soal representasi yang lebih luas, tetapi format 32 tim itu sempurna,” ujarnya kepada AFP.

Menurut Wilson, masalah utama bukan soal kualitas tim, melainkan potensi “pengenceran spektakel” di fase grup karena terlalu banyak tim yang masih bisa lolos sebagai peringkat ketiga terbaik.

Ia bahkan memperingatkan fase grup berisiko menguji kesabaran penonton dan membuat pertandingan menjadi lebih hati-hati serta minim risiko.

Bagi tim-tim besar, prioritas utama tetap sama: memastikan tidak terpeleset sejak awal. “Anda fokus pada fase grup dan memastikan tim berada dalam kondisi mental yang tepat,” kata pelatih Thomas Tuchel.

Piala Dunia 2026 memang menjanjikan lebih banyak cerita baru dan kesempatan bersejarah bagi negara-negara kecil. Namun, publik sepak bola dunia kini menunggu satu hal penting: apakah perluasan ini akan memperkaya kompetisi, atau justru mengikis drama yang selama puluhan tahun menjadi jiwa Piala Dunia?

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.