Infrastruktur Mobil Listrik Melesat, ESDM Catat Ribuan SPKLU Sudah Beroperasi

Jumat, 08 Mei 2026, 19:35 WIB

JAKARTA – Pengembangan fasilitas Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) menjadi faktor kunci dalam mempercepat ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.

Ketersediaan SPKLU yang semakin luas tidak hanya meningkatkan kenyamanan pengguna mobil listrik, tetapi juga mengurangi kekhawatiran terkait jarak tempuh dan akses pengisian daya.

Ket. Foto: Arsip - Pelanggan mengisi daya mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) PLN di Jakarta. — Sumber: ANTARA/ Alif Bintang

Dari sisi ekonomi, pembangunan infrastruktur ini membuka peluang investasi baru di sektor energi dan transportasi berbasis teknologi hijau.

Namun, tantangan masih terletak pada pemerataan fasilitas di luar kota besar, kesiapan pasokan listrik, serta kebutuhan standar teknologi pengisian yang terintegrasi agar adopsi kendaraan listrik dapat tumbuh lebih cepat dan berkelanjutan.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) untuk mobil listrik di Indonesia mencapai 4.892 unit per Mei 2026.

"Hingga Mei 2026, SPKLU roda empat di Indonesia telah mencapai sekitar 4.892 unit. Target pertumbuhan SPKLU roda empat pada tahun 2030 sebesar 62.918 unit," ujar Koordinator Pelayanan Usaha Ketenagalistrikan, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Ferry Triansyah, dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (8/5).

Kementerian ESDM, kata dia, terus mendorong ekosistem kendaraan listrik melalui penambahan SPKLU.

Langkah ini tidak hanya bagian dari upaya pengurangan emisi dan perlindungan lingkungan, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap ketahanan energi, khususnya pengurangan impor serta subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Langkah konkret terkait percepatan kendaraan listrik terus dilakukan melalui kolaborasi pengembangan infrastruktur pengisian listrik untuk KBLBB di tiga provinsi pilot project, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Bali.

Selain pilot percontohan, proyek ENTREV telah melakukan replikasi di enam kota pada enam provinsi, yaitu Yogyakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Banjarmasin, dan Serang (Banten).

Menurut Ferry, proyek ENTREV telah melaksanakan sosialisasi KBLBB di enam kota tersebut dan saat ini tengah menyelenggarakan pelatihan serta sertifikasi bagi siswa SMK.

Head of Environment Unit United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia Aretha Aprilia menyampaikan bahwa dinamika geopolitik dan gangguan rantai pasok energi global menjadi pengingat bahwa transisi menuju kendaraan listrik bukan hanya untuk perlindungan lingkungan, namun juga langkah strategis mewujudkan kemandirian energi nasional.

“Proyek ENTREV sudah memainkan peran yang sangat penting sebagai enabler dan juga katalisator, dan izinkan kami untuk menyampaikan bahwa pada kuartal pertama di 2025, proyek ini telah menjalani Mid-Term Review (MTR) di mana MTR menegaskan bahwa project ENTREV masih tetap sangat relevan dengan tujuan transisi kendaraan listrik nasional Indonesia,” ujar Aretha.

ENTREV merupakan program kerja sama antara Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM dan UNDP untuk mempercepat transisi menuju kendaraan listrik.

Program ini bertujuan mengurangi emisi gas rumah kaca melalui penguatan ekosistem kendaraan listrik dan pembangunan SPKLU di Indonesia.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.