Mengejutkan! Dunia Kecil di Luar Pluto Diduga Punya Atmosfer, Tantang Teori Tata Surya

Selasa, 05 Mei 2026, 06:20 WIB

PARIS -Sebuah dunia kecil yang jarang dikenal di luar Pluto tampaknya memiliki atmosfer, kata para astronom Jepang pada Senin (4 Mei), yang bertentangan dengan anggapan sebelumnya tentang benda es di wilayah tata surya kita.

Jika dikonfirmasi, objek berbatu berdiameter sekitar 500 kilometer itu akan menjadi dunia kedua di luar Neptunus di Tata Surya yang diketahui memiliki atmosfer—setelah Pluto.

Ket. Foto: Gambar beresolusi tinggi permukaan Pluto yang ditangkap Ralph/Multispectral Visual Imaging Camera (MVIC) pada pesawat New Horizons NASA. — Sumber: Antara

Pluto, yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai planet, diturunkan statusnya menjadi planet kerdil pada 2006, sebagian karena para astronom menemukan banyak objek serupa di wilayah jauh bernama Sabuk Kuiper.

Meski NASA di bawah Presiden AS Donald Trump sempat mengemukakan gagasan untuk mengembalikan status Pluto sebagai planet, penemuan atmosfer lain di dekatnya dapat melemahkan argumen tersebut.

Dalam penemuan baru ini, peneliti Jepang bersama seorang astronom amatir mengarahkan teleskop mereka ke objek dengan nama (612533) 2002 XV93.

Dunia es tersebut berada hampir 40 kali lebih jauh dari Matahari dibanding Bumi—sekitar 6 miliar kilometer.

Objek-objek gelap seperti ini hanya bisa terlihat ketika melintas di depan bintang yang jauh.

Saat peristiwa itu terjadi pada Januari 2024, para astronom melihat bahwa cahaya bintang tidak langsung muncul kembali, yang menunjukkan adanya atmosfer tipis yang menyaring sebagian cahaya.

Mereka memperkirakan dunia tersebut memiliki atmosfer yang sekitar 5 hingga 10 juta kali lebih tipis dibanding atmosfer Bumi, menurut studi baru di jurnal Nature Astronomy.

“Ini penting karena hingga kini Pluto adalah satu-satunya objek trans-Neptunus yang dipastikan memiliki atmosfer,” kata penulis utama Ko Arimatsu dari Observatorium Astronomi Nasional Jepang kepada AFP.

Objek kecil seperti ini sebelumnya tidak dianggap mampu memiliki atmosfer.

“Penemuan ini menantang pandangan konvensional bahwa dunia es kecil di tata surya bagian luar bersifat tidak aktif dan tidak berubah,” tambahnya.

VULKAN ES ATAU TUMBUKAN KOMET?

Para peneliti belum bisa memastikan penyebab terbentuknya atmosfer tersebut, yang juga terlalu tipis untuk mendukung kehidupan.

Namun, mereka menduga atmosfer itu mungkin terbentuk dari gas yang keluar dari dalam planet akibat letusan gunung es.

Kemungkinan lain adalah akibat tumbukan komet yang melepaskan material ke permukaan, yang berarti atmosfer tersebut bisa perlahan menghilang.

Astronom Spanyol José-Luis Ortiz, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan hasil tersebut menarik namun perlu kehati-hatian.

“Saya masih ragu itu atmosfer. Kita perlu lebih banyak data,” katanya kepada AFP.

Ia menambahkan kemungkinan lain adalah objek tersebut memiliki cincin dekat permukaannya.

Ko Arimatsu mengakui bahwa ia tidak bisa menyingkirkan kemungkinan “alternatif yang eksotis” selain atmosfer.

Namun, ia menilai cincin yang hampir sejajar dari sudut pandang Bumi tidak sesuai dengan hasil pengamatan utama.

Kedua ilmuwan sepakat bahwa diperlukan observasi lanjutan, terutama menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb.

Sebelumnya juga ada dugaan bahwa planet katai Makemake, yang sedikit lebih kecil dari Pluto, mungkin memiliki atmosfer sangat tipis, meski sebagian ilmuwan masih meragukannya.

Minggu lalu, administrator NASA Jared Isaacman menyatakan bahwa badan antariksa AS sedang mempertimbangkan untuk mengembalikan status Pluto sebagai planet penuh.

Komentar tersebut muncul saat ia mendukung pemotongan anggaran sains NASA hingga setengahnya, yang memicu kritik dari sejumlah ilmuwan.

“Gila rasanya ingin ‘membuat Pluto jadi planet lagi’ sambil menghancurkan karier para peneliti yang mempelajarinya,” tulis ilmuwan planet Adeene Denton di Bluesky.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.