Menuju Pesonas 2026, Atlet Disabilitas Intelektual Masih Terkendala Akses dan Dana

Sabtu, 02 Mei 2026, 18:55 WIB

JAKARTA — Menjelang pelaksanaan Pekan Special Olympics Nasional (Pesonas) 2026 di Kupang, Nusa Tenggara Timur, atlet disabilitas intelektual yang tergabung dalam Special Olympics Indonesia masih menghadapi berbagai kendala, terutama terkait akses dan pendanaan untuk mengikuti ajang tersebut.

Komisioner Komite Nasional Disabilitas (KND), Jonna Aman Damanik, mengatakan kegiatan bertaraf nasional dan internasional yang diselenggarakan SOIna perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, sektor swasta, hingga tokoh masyarakat dan DPRD.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Istimewa

“Kegiatan bertaraf nasional dan internasional dari SOIna sepantasnya didukung semua pihak. Pemerintah, swasta, individu tokoh dan pemangku lain termasuk DPRD dapat ambil peran menyokong atlet bertalenta khusus,” kata Jonna di Jakarta, Rabu (30/4/2026).

Ia menambahkan, KND sesuai amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 siap bersinergi dengan SOIna dalam menjalin kolaborasi lintas sektor kementerian. KND juga mendukung langkah SOIna yang menggandeng Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan untuk berkoordinasi dengan Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian HAM, serta Kementerian Pemuda dan Olahraga sebagai sektor utama.

Menurut KND, ribuan atlet disabilitas intelektual seperti penyandang down syndrome dan autisme membutuhkan perlindungan yang berorientasi pada hak asasi manusia sekaligus dukungan untuk mewujudkan rehabilitasi sosial yang lebih produktif.

Sebelumnya, KND juga memantau pendampingan pemenuhan hak keolahragaan atlet disabilitas fisik yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia pada ajang tingkat ASEAN. Kini, komitmen tersebut diarahkan untuk mendukung atlet SOIna dalam ajang Pesonas 2026 yang akan diikuti perwakilan dari 30 provinsi.

Ketua Umum Pengurus Pusat SOIna, Warsito Ellwein, mengatakan banyak atlet dari daerah pelosok dengan keterbatasan akses dan sumber daya tetap mampu meraih prestasi di tingkat nasional maupun regional Asia Pasifik.

Namun, ia menyebut partisipasi daerah dalam Pesonas masih menghadapi kendala. “Saat ini baru 21 provinsi yang siap dari target 30, dengan jumlah atlet sekitar 420 orang dari target 800 hingga 1.000 peserta,” ujarnya.

Ia menambahkan, sebagian besar tim yang terdiri dari atlet, pelatih, ofisial, dan pendamping masih berangkat secara mandiri dan swadaya. Keterbatasan anggaran APBD NTT dinilai hanya cukup untuk memfasilitasi kebutuhan penginapan, dukungan medis, dan mobilitas menuju arena pertandingan selama sepekan penyelenggaraan.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, SOIna mendorong skema subsidi bagi daerah yang kekurangan melalui upaya penggalangan dana, termasuk rencana kegiatan donasi seperti gala dinner.

Warsito juga menyampaikan apresiasi terhadap dukungan Pemerintah Provinsi NTT dan DPRD setempat dalam penyelenggaraan Pesonas 2026.

Ke depan, SOIna menargetkan peningkatan jumlah atlet yang dikirim ke ajang global. Jika pada World Games 2023 di Berlin, Jerman, delegasi Indonesia berjumlah 25 orang, maka pada World Summer Games 2027 di Santiago, Chile, ditargetkan meningkat menjadi 63 atlet dari berbagai cabang olahraga.

Sementara itu, Komite Kepanitiaan Gala Dinner, Hari Subagyo, menyatakan pihaknya telah mengirimkan surat permohonan audiensi kepada Prabowo Subianto melalui Sekretariat Negara.

“Kami percaya apabila surat kami sampai ke Presiden, beliau berkenan menerima para atlet bertalenta khusus di tengah kesibukannya,” ujarnya.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.