Kredit Perbankan Masih Sisakan Ruang Besar

Selasa, 28 Apr 2026, 01:00 WIB

Kondisi ini menjadi peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, asalkan diikuti percepatan intermediasi, perbaikan kualitas proyek, serta peningkatan kepercayaan dunia usaha.

JAKARTA – Kredit perbankan masih menyisakan ruang besar untuk dimanfaatkan pelaku usaha. Tingginya porsi kredit yang sudah disetujui namun belum dicairkan menunjukkan likuiditas tersedia, tetapi penyalurannya belum optimal ke sektor riil.

Ket. Foto: Destry Damayanti Deputi Gubernur Senior BI - Ada beberapa sektor yang rasio undisbursed loan terhadap plafon di sektoral itu jauh di atas dibandingkan rataratanya. — Sumber: antara

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan masih terdapat ruang pembiayaan yang besar di sejumlah sektor, tercermin dari tingginya fasilitas kredit yang telah disetujui perbankan namun belum dimanfaatkan pelaku usaha. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan kondisi tersebut terlihat dari rasio pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan) yang relatif tinggi di beberapa sektor.

“Ada beberapa sektor yang rasio undisbursed loan terhadap plafon di sektoral itu jauh di atas dibandingkan rata-ratanya. Artinya apa? Masih banyak ruang bagi bank atau bagi sektor tersebut untuk mendapatkan pembiayaan dari perbankan,” kata Destry dalam sesi policy dialogue pada Kick Off Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI), sebagaimana diberitakan Antara, di Jakarta, Senin (27/4).

Ia menyebut sektor yang masih memiliki ruang pembiayaan besar antara lain pertanian, jasa dunia usaha, konstruksi, serta transportasi dan pengangkutan.

Berdasarkan data BI, total nilai fasilitas kredit yang belum dicairkan mencapai 2.527,46 triliun rupiah atau sekitar 22,59 persen dari total plafon kredit yang tersedia. Kondisi ini menunjukkan peluang peningkatan penyaluran kredit ke sektor riil masih terbuka lebar.

“Nah di sinilah tempatnya bagaimana PINISI ini akhirnya kita berusaha untuk mempertemukan antara sisi kebutuhan pembiayaan dari korporasi dan konsumen dengan sisi pendanaan dari perbankan,” ujarnya.

Destry menambahkan pertumbuhan kredit perbankan hingga Maret 2026 tercatat sekitar 9,5 persen, namun masih didominasi oleh bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Karena itu, BI mendorong peran lebih besar dari bank swasta dan kantor cabang bank asing dalam pembiayaan sektor produktif.

Ia juga menyoroti adanya kendala berupa asimetri informasi terkait kelayakan proyek yang menghambat penyaluran kredit. Melalui program PINISI, BI berupaya mempercepat intermediasi dengan mempertemukan kebutuhan pembiayaan dunia usaha dan kapasitas pendanaan perbankan, sekaligus meningkatkan kesiapan proyek dan efektivitas realisasi pembiayaan.

Belum Optimal

Sementara itu, Direktur Riset Bidang Keuangan dan Ekonomi Digital Center of Reform on Economics (CORE), Etika Karyani Suwondo, menilai pertumbuhan kredit masih berpotensi mencapai dua digit pada 2026, meski permintaan di sektor riil berisiko melambat.

“Dua digit masih mungkin, BI target 8–12 persen. Tapi, mungkin lebih karena mengandalkan pencairan kredit yang sudah disetujui, bukan ekspansi baru,” ujarnya.

BI mencatat kredit perbankan tumbuh 9,49 persen secara tahunan (yoy) pada Maret 2026, meningkat dari 9,37 persen yoy pada Februari 2026. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kredit investasi, modal kerja, dan konsumsi yang masing-masing tumbuh 20,85 persen, 4,38 persen, dan 5,88 persen.

Namun, Etika menilai pertumbuhan tersebut lebih dipengaruhi oleh penurunan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 150 basis poin sejak September 2024 serta likuiditas yang melimpah, bukan karena kuatnya permintaan riil.

Ia mengingatkan kondisi tersebut menunjukkan mekanisme transmisi kebijakan moneter ke sektor riil masih belum optimal. Jika berlanjut, hal ini berpotensi menekan permintaan kredit, terutama di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik.

Etika juga mengingatkan sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, seperti pelemahan nilai tukar rupiah hingga 17.304 rupiah per dollar AS serta arus modal keluar yang mencapai 1,7 miliar dollar AS pada kuartal I 2026.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Thailand Hentikan Laju Tim Bola Voli Putri Indonesia

Luis Enrique Peringatkan PSG: Jangan Terlena, Harus Keluar dari Zona Nyaman

Spalletti Tuntut Lebih dari Kolo Muani Usai Juventus Hanya Menang Tipis

Selandia Baru Susul Australia, Anak di Bawah 16 Tahun Terancam Dilarang Bermedia Sosial

Pertarungan Perebutan Kursi Presiden FIFA Memanas, Ceferin Prediksi Infantino Bakal Dapat Penantang

Review Lioness S3E4: Misi Penyelamatan Gagal yang Paksa CIA Langgar Garis Merah

Hari Berenang Khusus Anak Kulit Hitam di Kolam Renang Berlin Batal setelah Diwarnai Polemik Rasial

Usai Gempa M7,7 NTT: Retakan 100 Meter Muncul di Kawah Gunung Kelimutu

Pengunjung Bromo Diserang Hipotermia, Prajurit Marinir Beri Pertolongan Pertama

Berenang di Danau, Bocah 8 Tahun di Louisiana Meninggal akibat Amuba Pemakan Otak

Dibangun Bersama Guru Disabilitas, Papan Tulis AI Buatan Siswa Bandung Raih Juara Google

Pertamina Lubricants Layani Ganti Oli Gratis untuk 1.000 Pengemudi Ojol

Atas Perintah Presiden Prabowo, Menhut Raja Antoni Turun Langsung Tangani Karhutla Kalbar.

Atasi Kekeringan di Lamongan, PU Normalisasi 1,6 KM Sungai & Kerahkan Pompa

Ekosistem Terbuka Dinilai Penting untuk Memperluas Penerapan Agentic AI

Genjot Literasi Pajak Generasi Muda, IKPI Gelar Lomba Cerdas Cermat Nasional

Rumah Sekunder Makin Terjangkau secara Riil, tetapi Stok Hunian Kian Terbatas

Trump Sebut Iran “Runtuh Total”, AS Siapkan “D-Day Ekonomi” untuk Teheran

81 Miles for Indonesia, XLSmart Hubungkan Negeri lewat 5G dan Semangat Berbagi

Kelola Penuaan Kulit secara Personal dengan Pendekatan Perawatan Berlapis

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.