Bukan Lagi Milenial, Kini Generasi Alpha Jadi Target Baru Industri Hotel
Jumat, 17 Apr 2026, 09:50 WIBLOMBOK BARAT â Mendorong tingkat hunian kamar hotel (okupansi) tidak cukup hanya mengandalkan musim liburan atau pergerakan wisatawan alami. Diperlukan pendekatan yang lebih terintegrasi antara strategi harga, promosi, dan penciptaan demand baru.
Di tengah persaingan ketat industri perhotelan, pelaku usaha harus lebih adaptif dalam menerapkan dynamic pricing, memperkuat kanal distribusi digital, serta memanfaatkan momentum event untuk menarik kunjungan.
Selain itu, sinergi dengan sektor lain seperti pariwisata, transportasi, dan ekonomi kreatif menjadi kunci penting. Paket bundling dengan tiket transportasi atau atraksi lokal dapat meningkatkan daya tarik destinasi sekaligus memperpanjang lama tinggal wisatawan.
Pemerintah daerah juga berperan melalui penyelenggaraan event dan perbaikan infrastruktur yang mampu menciptakan alasan baru bagi wisatawan untuk datang.
Di sisi lain, tren perubahan perilaku konsumenâseperti meningkatnya preferensi terhadap pengalaman unik dan personalized serviceâharus direspons dengan inovasi layanan. Tanpa diferensiasi yang jelas, hotel berisiko terjebak dalam perang harga yang justru menekan margin.
Oleh karena itu, strategi peningkatan okupansi perlu bergeser dari sekadar kuantitas tamu menuju kualitas pengalaman yang berkelanjutan.
Ketua Umum Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) I Gede Arya Pering Arimbawa mengungkapkan Generasi Alpha saat ini menjadi salah satu pasar potensial baru untuk mendorong tingkat hunian kamar hotel atau okupansi.
"Generasi Alpha suka traveling dan pasti mengajak orang tua. Prilaku seperti itu yang berdampak terhadap peningkatan hunian kamar hotel," ujar dia dalam konferensi pers Rakernas IHGMA di Hotel Merumatta, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Kamis (16/4).
Arimbawa mengatakan tren okupansi hotel dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan pemulihan, terutama saat periode libur panjang Lebaran, Nyepi, dan libur sekolah.
Generasi Alpha yang lahir sekitar tahun 2013 hingga pertengahan 2023 memiliki kecenderungan tinggi untuk berpergian bersama keluarga.
Kelompok demografi setelah Generasi Z tersebut sangat akrab dengan gawai dan memiliki ekspektasi tinggi terhadap pengalaman, serta lebih menyukai aktivitas interaktif dan destinasi yang ramah anak.
Menurut Arimbawa, perubahan perilaku yang terjadi saat ini mendorong industri perhotelan untuk beradaptasi lebih cepat. Hotel tidak lagi hanya menyasar tamu dewasa, tetapi juga harus mampu memenuhi preferensi anak-anak sebagai penentu keputusan perjalanan keluarga.
"Ketika Generasi Alpha muncul, maka perlu percepatan dalam beradaptasi melihat peluang," ujar dia.
Lebih lanjut Arimbawa menyampaikan Generasi X, Y, hingga transisi ke Generasi Z juga masih memiliki minat tinggi untuk bepergian. Sebagian dari mereka menunda pernikahan dan memilih mengeksplorasi berbagai destinasi wisata.
Selain membidik pasar kelompok demografi berusia muda, industri perhotelan juga mulai melihat peluang dari pergerakan keluarga transmigran.
Generasi ketiga dari keluarga transmigran yang telah sukses cenderung melakukan perjalanan kembali ke kampung halaman, sehingga berdampak terhadap peningkatan permintaan kamar hotel.
"Orang tidak melihat itu sebagai segmen pasar. Itu musiman, tapi inilah yang sedang terjadi," kata Arimbawa.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, tingkat penghunian kamar hotel berbintang di Indonesia sebesar 44,89 persen. Jumlah itu menurun bila dibandingkan data Januari 2026 yang mencapai 47,53 persen.
Rata-rata lama menginap tamu asing dan tamu domestik pada hotel berbintang hanya 1,64 hari pada Februari 2026 dan 1,59 hari pada Januari 2026.
- Okupansi Hotel
- IHGMA
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.