Dari Lahan Desa ke Cerita Ekonomi Baru: Kopi Jadi Tumpuan di Penyangga Mandalika
Senin, 13 Apr 2026, 18:50 WIBLOMBOK TENGAH â Di sela lanskap kering khas selatan Lombok, geliat hijau mulai tumbuh di Desa Segala Anyar, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.
Sebanyak 300 pohon kopi kini menjadi bagian dari upaya desa ini memperkuat identitas ekonomi lokal di tengah derasnya pembangunan kawasan wisata KEK Mandalika, Nusa Tenggara Barat.
Sebagai salah satu desa penyangga, Segala Anyar tidak hanya berada di orbit pariwisata, tetapi juga berupaya mengambil peran dalam rantai nilai ekonomi yang lebih luas.
Pengembangan kopi ini menjadi simbol diversifikasi mata pencaharian warga, sekaligus langkah adaptif terhadap perubahan struktur ekonomi yang dipicu oleh tumbuhnya sektor pariwisata di kawasan tersebut.
Di balik 300 pohon yang mulai berakar itu, tersimpan harapan jangka panjang: membangun kemandirian ekonomi desa tanpa kehilangan karakter agrarisnya.
Kopi tidak hanya dipandang sebagai komoditas, tetapi juga sebagai narasi baru tentang bagaimana desa-desa di sekitar Mandalika menegosiasikan masa depanâantara tradisi pertanian dan peluang dari industri pariwisata yang terus berkembang.
"Terdapat 300 pohon kopi di kebun warga sekarang telah memasuki masa panen," kata Kepala Desa Segala Anyar Ahmad Zaini di Lombok Tengah, Senin (13/4).
Ia mengatakan, Desa Segala Anyar memiliki potensi pertanian yang sangat strategis, terutama karena karakteristik lahan yang ada didominasi lahan kering dan tadah hujan.
Para petani mengoptimalkan lahan tadah hujan dengan menanam berbagai komoditas salah satunya yang dikembangkan oleh petani bernama Rasip dengan menanam kopi robusta dan arabika.
"Dengan lahan yang terbatas beliau dan dengan tantangan keterbatasan air mampu membuktikan bahwa jenis kopi jenis robusta dan arabika bisa tumbuh subur dan menghasilkan selain komoditas lain yg ditanam oleh warga Segala Anyar yakni melon, semangka, cabe, tomat dan bawang," katanya.
Dengan potensi besar dalam pengembangan pertanian terpadu dan berkelanjutan pemerintah desa melalui Bumdes dan kelompok petani muda, berikhtiar mengembangkan pupuk organik dari kotoran hewan yang sumbernya dari kandang sapi, kambing, ayam yang ada.
"Kebon Kopi ini berada di lahan seluas 12 are dan telah ditanami kopi sejak 4 tahun," katanya.
Sementara itu, Pemilik Kebun kopi Rasip mengatakan bahwa panen tahun ini adalah yang terbanyak sejak pohon kopi ini ditanam.
"Pohon kopi yang ditanam ini mulai empat tahun lalu dan sekarang bisa berbuah lebat," katanya.
Selain menanam kopi, Rasip juga menyediakan bibit kopi arabika bagi para petani yang tertarik untuk mengikuti jejaknya menanam kopi.
Sebelumnya, berbagai komoditas pertanian pernah ditanam di lahan nya itu, seperti pisang, pepaya dan lainnya. Namun belum membuahkan hasil yang signifikan, sehingga dirinya terus melakukan upaya untuk mengganti dengan tanaman lain.
"Hingga suatu hari saya membeli bibit kopi dan menanam nya di lahan tersebut,," katanya.
- Budi Daya Kopi
- KEK Mandalika
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Menteri PKP Tambah Kuota Rumah Subsidi Jember Jadi 10 Ribu Unit
-
Toys Kingdom Ajak Anak Bangun Imajinasi dengan Bermain Balok
-
BPBD: Tujuh Kecamatan di Pasaman Barat Terdampak Bencana Alam
-
Isu Dugaan Zionisme Merebak di PBNU, Charles Holland Dicopot dari Penasihat Ketum PBNU
-
Dinkes Sumenep Tangani 70 Kasus Demam Berdarah
-
Dampak ekonomi penyelenggaraan MotoGP Indonesia
-
Konser Dangdut Ayu Ting Ting Momentum Gaungkan Depok di Kancah Nasional
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.