Pengrajin Tempe Jaksel Mulai Naikkan Harga

Jumat, 10 Apr 2026, 03:07 WIB

JAKARTA – Dinamika global terus berdampak kepada usaha kecil nasional, termasuk di Jakarta. Untuk menyesuikan situasi, mau tidak mau pengrajin keripik tempe di Jakarta Selatan (Jaksel) harus menaikkan harga. Ini terjadi seiring lonjakan harga kedelai impor yang dipicu ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

“Saya menaikkan harga keripik tempe dari 65.000 per kilogram menjadi 70.000,” kata Ketua kelompok pengrajin tempe Kramat Pela Joko Asori (57) saat ditemui di rumah produksi di Jalan H Aom, Kramat Pela, Jakarta Selatan, Kamis. Dia menjelaskan, kenaikan harga kedelai berdampak terhadap penjualan satu bungkus keripik tempe dengan berat 250 gram (gr) menjadi 19.000.

Ket. Foto: — Sumber: Direktorat Jenderal Pajak

Menurut Joko, lonjakan harga kedelai itu mulai dirasakan pada bulan Februari 930.000 per kuintal. Kemudian pada bulan April, harga kedelai melonjak hingga mencapai 1.100.000, bahkan lebih. Hal ini pun sangat dirasakan pengrajin tempe murni maupun pengrajin tahu.

Saat ini pengrajin tempe tahu sangat memerlukan modal banyak karena kenaikan harga kedelai per kuintal sampai 200.000.

“Itu baru bahan bakunya, ya,” ujar Joko. Tak hanya kedelai. Harga plastik juga naik dari 32.000-33.000 per kg menjadi 50.000 bahkan lebih.

Akibat kenaikan harga tersebut, dia pun menyiasati dengan mengurangi berat tempe. Sebab dia tidak mungkin menaikkan harga tempe. Contoh yang semula sekilonya 12.500, paling dikurangi jadi 970 gram. Jadi, ukurannya lebih kecil. Lebih lanjut, dia berharap agar para pelanggan masih loyal dan memahami kenaikan harga tersebut. Dia juga minta pemerintah dapat membantu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lokal. 

“Kami sebagai pengrajin UMKM, mohon kiranya pemerintah bisa memperhatikan, agar harga kembali normal,” ungkap Joko. Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memastikan ketahanan pangan nasional tetap aman meski terjadi perang di Timur Tengah, karena Indonesia tidak bergantung pada impor dari kawasan tersebut.

Masyarakat diimbau agar tidak khawatir mengenai dampak perang di Timur Tengah terhadap ketersediaan pangan. Stok dan pengadaan pangan dalam negeri dipastikan aman dan terkendali, sehingga masyarakat diminta untuk tidak melakukan pembelian secara berlebihan. 

Kedelai Lokal

Leih jauh Joko juga mengusulkan agar pemerintah memperkuat produksi kedelai lokal guna mengurangi ketergantungan pada kedelai impor. “Apalagi sekarang kedelai lokal sudah bagus-bagus. Hanya tampilan ukurannya kecil. Kedelai impor masih jauh lebih besar,” ujar Joko.

Menurutnya, dari segi harga, kedelai lokal terbilang lebih tinggi dari kedelai asal Amerika Serikat. Apabila hanya mengandalkan kedelai lokal, maka dikhawatirkan kebutuhan produksi tidak akan tercukupi. “Kalau mengandalkan kedelai local saja, nggak cukup dalam waktu panen sekali untuk kebutuhan enam bulan ke depan,” ucap Joko.

Meski demikian, berdasarkan hasil studi bandingnya ke Yogyakarta, dia menilai kualitas kedelai lokal kini semakin membaik. Maka, Joko berharap pemerintah memperkuat dukungan terhadap petani kedelai agar lebih berdaya. “Yang kita harapkan, mudah-mudahan, petanidan pemerintah mengutamakan pengrajin tempe. Sebab mereka bergelut dengan kedelai dari petani Indonesia,” ujar Joko.

Alternatif

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta, Hasudungan Sidabalok, mengimbau agar masyarakat menyesuaikan kebutuhan konsumsi pangan terkait kenaikan harga kedelai di pasaran.

“Untuk meminimalkan dampak kenaikan harga kedelai, warga bisa kombinasi dengan mencari pangan lainnya, namun dengan harga lebih terjangkau,” harap Hasudungan, Kamis.

Tak hanya itu, menurutnya, masyarakat juga dapat melakukan urban farming (pertanian perkotaan) guna menghadapi kenaikan harga tersebut. Langkah tersebut dinilai sebagai salah satu upaya meningkatkan ketahanan pangan keluarga secara mandiri di rumah masing-masing.

Lebih lanjut, Hasudungan menjelaskan, saat ini, harga kedelai naik bervariasi mulai dari 10.500 hingga 11.000 per kilogram (kg) di tingkat pengrajin tahu tempe. Sebelumnya, 8.000 hingga 8.600 per kg. Sementara itu, kenaikan harga tingkat pedagang pasar tradisional, 15.000 hingga 20.000 per kg, dari harga sebelumnya 13.000 hingga 18.000 per kg. wid/Ant/G-1

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.