Lubang dalam Cahaya yang Berlari Lebih Cepat dari Cahaya
Senin, 06 Apr 2026, 06:12 WIBPARA fisikawan berhasil mengamati fenomena unik di mana âlubangâ dalam cahaya bukan cahayanya sendiri dapat bergerak melampaui kecepatan cahaya. Temuan ini menandai kemajuan penting dalam pemahaman tentang dinamika gelombang dan membuka jalan bagi eksplorasi baru di dunia fisika modern.
Fenomena tersebut dikenal sebagai singularitas fase atau pusaran optik, yakni struktur dalam gelombang cahaya yang membentuk pola berputar menyerupai pusaran air. Sejak 1970-an, para ilmuwan telah memprediksi bahwa seperti pusaran dalam aliran sungai yang dapat bergerak lebih cepat dari arus air di sekitarnya, pusaran dalam gelombang cahaya pun berpotensi melampaui kecepatan cahaya itu sendiri. Namun, prediksi ini selama puluhan tahun sulit dibuktikan secara eksperimental.
Penting untuk dicatat, temuan ini tidak melanggar teori relativitas Einstein. Dalam fisika, tidak ada objek bermassa atau pembawa informasi yang dapat bergerak lebih cepat dari cahaya. Pusaran optik tidak membawa energi atau informasi secara langsung ia hanyalah hasil dari geometri dan evolusi pola gelombang. Dengan kata lain, yang bergerak supercepat adalah âpolaâ atau âketiadaan cahayaâ di dalamnya, bukan entitas fisik yang melintasi ruang.
Mengintip âKegelapanâ di Dalam Cahaya
Secara kasat mata, cahaya tampak seragam. Namun pada skala mikro, cahaya memiliki struktur kompleks yang dapat berperilaku sebagai gelombang sekaligus partikel. Dalam kondisi tertentu, gelombang cahaya dapat berinterferensi dan membentuk pusaran. Di pusat pusaran ini, gelombang saling meniadakan sehingga tercipta titik dengan intensitas nol sebuah âlubang gelapâ di tengah cahaya terang.
Fenomena ini secara matematis telah lama dipahami. Ketika dua singularitas dengan âmuatanâ berlawanan saling mendekat, mereka akan dipercepat hingga mencapai kecepatan ekstrem sebelum akhirnya saling memusnahkan. Dalam kerangka teori, kecepatan ini dapat tampak melampaui kecepatan cahaya, meski hanya terjadi dalam skala ruang dan waktu yang sangat kecil.
âKetika dua singularitas bertemu, lintasan mereka dalam ruang-waktu harus tetap kontinu, sehingga percepatannya melonjak sangat tinggi tepat sebelum pemusnahan,â tulis para peneliti dalam studi yang diterbitkan di jurnal Nature itu.
Terobosan Teknologi: Dari Prediksi ke Observasi
Selama ini, keterbatasan teknologi menjadi hambatan utama dalam mengamati pusaran optik secara langsung. Kecepatan pembentukan dan pergerakannya terjadi dalam rentang waktu yang sangat singkat, membuatnya sulit ditangkap dengan instrumen konvensional.
Terobosan datang dari tim yang dipimpin fisikawan Ido Kaminer dari Technion â Israel Institute of Technology. Mereka menggunakan material dua dimensi bernama boron nitrida heksagonal, yang mampu memperlambat gelombang cahaya melalui fenomena yang disebut polariton fonon hibrida antara cahaya dan getaran atom.
Dalam medium ini, cahaya tidak bergerak secepat di ruang hampa, sehingga pola interferensi yang terbentuk menjadi lebih mudah diamati. Pusaran-pusaran optik yang muncul pun dapat dilacak secara lebih detail.
Kunci keberhasilan lainnya adalah penggunaan mikroskop elektron berkecepatan ultra-tinggi dengan resolusi spasial dan temporal yang sangat presisi. Teknologi ini mampu merekam peristiwa dalam skala waktu hingga 3 kuadriliun detik (femtodetik).
Para peneliti menjalankan eksperimen berulang kali dengan jeda waktu berbeda, lalu menggabungkan ratusan hasil rekaman menjadi rangkaian gambar seperti time-lapse. Dari sinilah terlihat jelas bagaimana pusaran optik bergerak, saling mendekat, dan akhirnya bertabrakan dengan kecepatan yang secara matematis melampaui cahaya dalam waktu singkat.
Implikasi Luas bagi Sains
Penemuan ini tidak hanya relevan bagi fisika cahaya, tetapi juga menunjukkan adanya hukum universal dalam berbagai sistem gelombang mulai dari gelombang suara, aliran fluida, hingga fenomena kompleks seperti superkonduktor.
âTerobosan ini memberi kita alat baru untuk memetakan fenomena skala nano yang sebelumnya tidak terlihat,â ujar Kaminer. Teknik interferometri electron (electron interferometry) yang dikembangkan timnya dinilai mampu meningkatkan ketajaman observasi secara signifikan.
Ke depan, para peneliti berencana memperluas eksperimen ini ke sistem tiga dimensi untuk mengamati dinamika yang lebih kompleks. Selain itu, teknologi yang digunakan juga berpotensi membuka jalan bagi penelitian di bidang lain seperti kimia dan biologi, khususnya dalam memahami proses ultra-cepat yang selama ini tersembunyi.
Membuka Jendela ke Dunia Tak Terlihat
Penemuan tentang âkegelapan yang bergerak lebih cepat dari cahayaâ pada dasarnya mengubah cara kita memandang cahaya itu sendiri. Ia bukan sekadar pancaran energi yang lurus dan stabil, melainkan sistem dinamis yang penuh struktur dan fenomena tersembunyi.
Lebih dari itu, keberhasilan ini menunjukkan bahwa dengan kombinasi teori, material canggih, dan teknologi observasi mutakhir, manusia kini semakin mampu menembus batas-batas pengamatan mengungkap perilaku alam pada skala waktu dan ruang yang sebelumnya mustahil dijangkau. hay
- fisika kuantum
- cahaya
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.