Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Belum Setengah Tahun, Rupiah Sudah Ikut Terseret Gejolak Global: Melemah 1,38 Persen per 2 April

📅 Jumat, 03 Apr 2026, 07:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Belum Setengah Tahun, Rupiah Sudah Ikut Terseret Gejolak Global: Melemah 1,38 Persen per 2 April Doc: ANTARA/ Muhammad Adimaja.
Ket. Ilustrasi - Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Bank BSI, Jakarta.

JAKARTA – Baru masuk tiga bulan di 2026, pergerakan rupiah sudah memberi sinyal bahwa tahun ini tidak akan berjalan baik-baik saja. Pelemahan rupiah terhadap dollar AS sekitar 231 poin atau 1,38 persen memang terlihat kecil di angka, tapi kalau ditarik ke konteks global, ini mencerminkan tekanan yang cukup serius—terutama dari luar negeri.

Salah satu faktor kuncinya datang dari eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Ketika konflik memanas, termasuk keterlibatan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, pasar global langsung berubah mode jadi waspada.

Investor cenderung menarik dana dari negara berkembang dan memindahkannya ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan emas. Efeknya, mata uang seperti rupiah ikut tertekan.

Di sisi lain, konflik ini juga memicu kenaikan harga minyak dunia. Buat Indonesia yang masih bergantung pada impor energi, kondisi ini jadi tekanan ganda: biaya impor naik, defisit melebar, dan akhirnya memperlemah posisi rupiah.

Rupiah saat ini seperti ikut arus besar yang memang sedang tidak bersahabat. Bukan semata-mata karena faktor domestik yang memburuk, tapi lebih karena gelombang global yang sedang tinggi.

Bahkan bank sentral pun cenderung fokus menjaga stabilitas, bukan mendorong penguatan agresif, karena ruang geraknya ikut terbatas oleh kondisi global tersebut.

Jadi, pelemahan rupiah di awal tahun ini bisa dibilang bukan kejutan, tapi lebih seperti konsekuensi logis dari situasi dunia yang lagi panas.

Tantangannya sekarang bukan sekadar menahan pelemahan, tapi bagaimana tetap menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan eksternal yang belum tentu cepat mereda.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis sore, melemah 19 poin atau 0,11 persen menjadi Rp17.002 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp16.983 per dolar AS.

Sebagai perbandingan, kurs rupiah, dalam perdagangan akhir 2025, yakni pada 30 Desember 2025 sore, ditutup menguat 17 poin atau sekitar 0,10 persen dari sehari sebelumnya ke level 16.771 rupiah per dollar AS atau melampaui target dalam APBN 2025 di level 16.000 rupiah per dollar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

“Pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, pergerakan harga minyak, serta ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Mengutip Anadolu, Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa pihaknya akan meninggalkan Iran dalam waktu dua-tiga pekan ke depan.

Menurut angka resmi dari AS, terdapat 13 anggota militer AS telah tewas sejak perang dimulai. Konflik antara AS-Zionis Israel dengan Iran juga mendorong kenaikan harga energi dan mempengaruhi pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur penting global untuk perkapalan minyak dengan sebagian besar pengiriman komoditas tersebut melalui selat tersebut.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Rona
Nekat Bolos Wamil, Mino WIN...
Daerah
DPRD DKI: Digitalisasi Park...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.