OECD Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Senin, 30 Mar 2026, 17:23 WIB

JAKARTA - Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026-2027. Revisi tersebut dimuat pada laporan OECD Economic Outlook Testing Resilience yang dirilis Maret 2026.

OECD semula memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 5 persen. Namun, perkiraan itu direvisi hingga turun menjadi 4,8 persen.

Ket. Foto: — Sumber: Dokumentasi ADB

Sedangkan pada 2027, pertumbuhan ekonomi Indonesia semula diproyeksikan mencapai 5,1 persen. Pada laporan terbarunya, OECD merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan menjadi 5 persen.

Revisi tersebut lebih rendah dari target pertumbuhan ekonomi pada APBN 2026 sebesar 5,4 persen. Menurut OECD, penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia itu mempertimbangkan peningkatan risiko global.

“Hal ini didorong kenaikan harga energi dan tensi geopolitik yang meningkat” kata tim analis Mirae Asset Sekuritas.

OECD menambahkan tekanan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia juga disebabkan inflasi yang diperkirakan mencapai 3,4 persen.

Menurut OECD, inflasi menyebabkan daya beli masyarakat tertekan, meskipun pemerintah telah menggulirkan berbagai stimulus fiskal. Hal ini berhasil mendorong tingkat konsumsi, tetapi tidak mampu mengimbangi laju inflasi.

OECD mencermati konflik Timur Tengah menyebabkan banyak infrastruktur energi yang rusak dan berpotensi menurunkan produksi minyak. Ini ditambah penutupan Selat Hormuz yang menganggu kelancaraan logistik energi.

Akibatnya, pasokan energi menipis dan harga melambung. Hal ini mendorong inflasi lebih tinggi yang berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi.

Sebelumnya, Asian Development Bank (ADB) juga merilis hasil penelitiannya soal dampak kenaikan harga energi pada pertumbuhan ekonomi. Khususnya di Negara-negara kawasan Asia Pasifik.

“Pertumbuhan ekonomi kawasan Asia dan Pasifik yang sedang berkembang diperkirakan turun hingga 1,3 persen pada 2026-2027,” kata Kepala Ekonom ADB, Albert Park.

Sedangkan inflasi akan naik 3,2 persen jika disrupsi energi berlangsung lebih dari setahun. ils/I-1

  • OECD
  • Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

Berita Terbaru

Kabar Baik! Rupiah Menguat ke Rp17.690 per Dolar AS

BNPB Evakuasi Lansia Korban Gempa Pulau Palue ke RSUD Maumere, Begini Kondisinya

Mau Bayar Pajak Kendaraan Bermotor? Ini 14 Lokasi Samsat Keliling Jadetabek Senin

Jumlah rumah rusak akibat gempa di NTT

Cabai Rawit Makin Pedas! Harga Capai Rp69.950/Kg dan Telur Ayam Rp29.250

Mengkhawatirkan! Burung Ekek Keling Sunda Terancam Punah, Populasinya Kian Menurun

Perusahaan Milik Kampus UGM Go Public! Target IPO Capai Rp45 Miliar

Tinjau Karhutla Kalsel, Menhut Raja Antoni: Api Sudah Tak Terlihat, tapi Gambut Masih Berasap.

Dalang Karhutla Diburu! Komisi III DPR Apresiasi Langkah Tegas Polri

Coco Gauff Juara Cincinnati Open untuk Kedua Kalinya, Masuk Klub Elite WTA

Gratis dan Siaga 24 Jam! Pertamina Buka Posko Medis bagi Warga Manggarai NTT

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

Mengerikan Tragedi Kebakaran Rumah di Tebet, 4 Orang Tewas

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.