Jelang Sidang Isbat, Kementerian Agama Republik Indonesia Sebut Hilal Belum Terlihat Sesuai Kriteria

Kamis, 19 Mar 2026, 18:15 WIB

Jakarta - Anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama (Kemenag) RI Cecep Nurwendaya memaparkan tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia belum memenuhi kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Dalam seminar menjelang Sidang Isbat 1447 Hijriah di Kantor Kemenag, Jakarta, Kamis (19/3), Cecep menerangkan ketinggian hilal di Indonesia berada di antara 0⁰ 54' 27" (0,91⁰) sampai 3⁰ 07' 52" (3,13⁰), dengan elongasi berada pada 4⁰ 32' 40" (4,54⁰) sampai 6⁰ 06' 11" (6,10⁰).

Ket. Foto: Anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama (Kemenag) RI Cecep Nurwendaya memaparkan tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia dalam seminar menjelang Sidang Isbat 1447 Hijriah di Kantor Kemenag, Jakarta, Kamis (19/3). — Sumber: Antara

Merujuk kriteria MABIMS, awal bulan hijriah atau kamariah ditetapkan jika hilal memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi atau jarak sudut antara dua benda langit mencapai 6,4 derajat.

"Kalau kurva tadi digabungkan, di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak memenuhi kriteria awal bulan kamariah MABIMS," kata Cecep.

Sehingga, lanjut dia, 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 berdasarkan ilmu hisab astronomi.

Namun demikian, metode tersebut harus dikonfirmasi ulang dengan melihat bulan (rukyatul hilal) yang dilakukan di 117 lokasi di Indonesia yang hasilnya akan dibahas bersama dalam sidang isbat.

"Kesimpulannya, seluruh ibu kota provinsi di NKRI dan Sabang tidak memenuhi kriteria MABIMS (terkait) awal bulan Syawal 1447 Hijriah," ujarnya.

Cecep menekankan kedua syarat baik ketinggian hilal maupun elongasi harus terpenuhi kedua-duanya, sebab ketinggian ini terpengaruhi oleh cahaya merah atau warna senja yang muncul di ufuk barat setelah matahari terbenam (maghrib) hingga menjelang malam atau syafaq.

"Semakin rendah, maka cahaya senja akan mengaburkan, mengalahkan cahaya hilal yang lemah, semakin tinggi (posisi hilal) pengaruhnya semakin kecil. Kemudian, elongasi menyebabkan tebal dan tipisnya hilal. Kalau hilal itu sudah di atas 6,4 derajat memungkinkan hilal itu memasuki kriteria visibilitasnya," tutur Cecep Nurwendaya.

  • Penentuan Idul Fitri

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Utang Meningkat, Rakyat Jepang Mulai Cemas Kondisi Fiskal

Tim Gabungan Kendalikan Titik Api di TPSA Ciniru Kuningan

Iran Ancam Anggap Musuh Siapa Pun yang Ikut Blokade Ekonomi AS

Kanada Balas Tarif Trump, Siap Bidik Baja hingga Elektronik AS

Tragedi Shalat Jumat di Nigeria: Masjid Diserbu Geng Motor, 60 Jemaah Raib Diculik

Modus Baru, Penipu di Kamboja Jual Jasa 'Anti-Banned' untuk Kuras Data Medsos

Bangladesh Punya Presiden Baru Setelah Pemilu Sengit 35 Tahun Terakhir

Simbol Hubungan Akrab, Sultan Brunei-Anwar Ibrahim Gelar Pertemuan di Istana Nurul Iman

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.