Liga Champions: Era Kedua Laporta Dimulai, Barcelona Bidik Kebangkitan Eropa Saat Hadapi Newcastle

Selasa, 17 Mar 2026, 05:00 WIB

BARCELONA, SPANYOL — Perayaan sudah dimulai bahkan sebelum hasil pemungutan suara resmi diumumkan. Botol cava (sejenis minuman bersoda khas Catalonia, Spanyol) mengalir deras sepanjang malam di Luz de Gas, tempat favorit pesta di Barcelona, ketika presiden klub yang kembali terpilih, Joan Laporta, merayakan kemenangan dengan penuh semangat pada hari Senin (16/3) dini hari waktu setempat.

Kemenangan itu sekaligus mengakhiri persaingan pemilihan presiden klub, setelah rivalnya, Victor Font, tersingkir tanpa perlawanan berarti. Namun bagi Laporta, keberhasilan di ruang politik klub hanyalah awal. Tantangan sebenarnya adalah mengembalikan Barcelona ke singgasana sepak bola Eropa.

Ket. Foto: Presiden klub Barcelona, Joan Laporta. — Sumber: AFP

Momentum itu akan langsung diuji ketika Barcelona menjamu Newcastle United pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions, Kamis (19/3) dini hari WIB. Peluang kedua tim di pertandingan itu masih terbuka setelah kedua tim bermain imbang 1-1 pada leg pertama di Tyneside pekan lalu.

Meski datang dengan status non-unggulan, tim asuhan Eddie Howe menunjukkan kapasitas mereka sebagai ancaman serius bagi ambisi Barcelona setelah tampil solid pada pertemuan pertama.

Laporta sebelumnya menggambarkan periode lima tahun terakhir sebagai upaya “mengeluarkan Barcelona dari ruang ICU”, menyusul kondisi finansial klub yang sangat rapuh saat ia kembali memimpin pada tahum 2021. Kini, lima tahun berikutnya diharapkan menjadi fase pembangunan untuk mengembalikan kejayaan klub.

Secara teoritis, jika Barcelona melangkah lebih jauh dari pencapaian musim lalu, ketika mereka mencapai semifinal untuk pertama kalinya dalam enam tahun, dan bahkan menjuarai final di Budapest, Laporta sebenarnya belum resmi memulai masa jabatan barunya.

Mandat keduanya secara beruntun, dan keempat secara keseluruhan setelah periode kepemimpinan 2003–2010, baru akan dimulai pada Juli. Hingga saat itu, posisi presiden sementara dipegang oleh wakilnya, Rafa Yuste.

“Jika Yuste yang memenangkan Liga Champions musim ini, itu akan luar biasa. Dia seperti saudara bagi saya,” ujar Laporta.

Meski demikian, pengaruh Laporta tetap terasa kuat. Pada hari pemungutan suara Minggu lalu, pria karismatik berusia 63 tahun itu tampak antusias menyapa sejumlah tokoh besar klub yang datang memberikan suara.

Salah satunya adalah mantan kapten Barcelona, Sergio Busquets, yang menjadi bagian dari tiga keberhasilan klub menjuarai Liga Champions pada 2009, 2011, dan 2015.

Trofi tahun 2015 itu menjadi yang terakhir bagi Barcelona di kompetisi elite Eropa, saat legenda klub Lionel Messi masih berada di puncak kariernya bersama Blaugrana.

Kepergian Messi hanya beberapa bulan setelah Laporta kembali menjabat pada 2021 menjadi salah satu catatan paling pahit dalam masa kepemimpinannya, terutama karena ia sebelumnya berjanji mempertahankan sang megabintang Argentina.

Kritik terhadap Laporta juga tidak sedikit. Proyek renovasi stadion utama klub, Camp Nou, mengalami penundaan satu tahun. Selain itu, persoalan registrasi kontrak Dani Olmo sempat menimbulkan polemik yang mempermalukan klub di mata publik.

Keputusan Laporta mengaktifkan “palancas” atau tuas finansial, dengan menjual sebagian hak siar masa depan dan aset klub untuk mendapatkan dana segar, juga sempat memicu kekhawatiran bahwa klub akan menghadapi masalah ekonomi yang lebih besar.

Namun langkah berisiko itu terbukti efektif, setidaknya dalam jangka pendek. Bersama direktur olahraga Deco, Laporta berani mengambil taruhan besar dengan merekrut pemain seperti Robert Lewandowski, Raphinha, dan Jules Koundé.

Keputusan penting lainnya adalah menunjuk Hansi Flick sebagai pelatih kepala. Meski sempat dianggap perjudian, pelatih asal Jerman itu berhasil membawa gaya permainan menyerang yang atraktif sekaligus efektif.

Hasilnya terlihat musim lalu ketika Barcelona meraih treble domestik dan melangkah hingga semifinal Liga Champions sebelum disingkirkan oleh Inter Milan.

Meski begitu, kelemahan di lini pertahanan masih menjadi perhatian. Newcastle diperkirakan akan mencoba mengeksploitasi garis pertahanan tinggi Barcelona untuk menciptakan kejutan di Catalonia.

Di sisi lain, Barcelona memiliki generasi talenta luar biasa. Winger muda Lamine Yamal dan gelandang kreatif Pedri dinilai banyak pengamat sebagai dua pemain terbaik dunia di posisi mereka saat ini.

“Kita akan menjalani lima tahun terbaik dalam hidup kita,” ujar Laporta usai kemenangannya, sebuah pernyataan berani mengingat ia sebelumnya juga memimpin era emas klub yang menghadirkan Ronaldinho, melahirkan Messi, serta meraih treble bersejarah di bawah pelatih Pep Guardiola pada 2009.

Dengan kapasitas sementara sekitar 63.000 penonton di Camp Nou, yang direncanakan meningkat hingga 105.000 setelah renovasi selesai, Laporta yakin kondisi finansial Barcelona kini lebih stabil untuk bersaing dengan klub-klub kaya yang didukung dana negara Teluk, termasuk Newcastle yang dimiliki konsorsium Arab Saudi.

“Tak ada yang bisa menghentikan kami,” kata Laporta penuh percaya diri.

Namun satu dekade lebih kegagalan Barcelona di kompetisi Eropa menunjukkan bahwa tantangan terbesar bagi klub Catalonia itu sering kali datang dari diri mereka sendiri.

Pertandingan melawan Newcastle pun menjadi kesempatan ideal bagi Barcelona untuk membuka babak baru era Laporta dengan cara paling meyakinkan—mengamankan tiket ke perempat final Liga Champions

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.