Pemkab Nabire Pulihkan Populasi Babi Pasca Wabah ASF, Peternak Dapat Bantuan Bibit

Jumat, 13 Mar 2026, 10:50 WIB

Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah mulai menjalankan program pemulihan populasi ternak babi setelah wabah African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika yang terjadi akhir 2024 hingga awal 2025.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Nabire I Dewa Ayu Dwita di Nabire, Jumat, mengatakan langkah utama yang dilakukan tahun ini, yakni pemberian bantuan bibit babi untuk pengisian kembali kandang-kandang babi milik masyarakat.

Ket. Foto: Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Nabire I Dewa Ayu Dwita. — Sumber: Antara Foto

“Pasca-wabah ASF banyak peternak yang merugi karena sebagian besar babi mereka mati. Program tahun ini kami berupaya melakukan restocking atau pengisian kembali kandang-kandang babi yang kosong,” katanya.

Ia menjelaskan bantuan bibit babi tersebut diprioritaskan bagi masyarakat yang terdampak langsung oleh wabah, khususnya bagi orang asli Papua (OAP).

Namun demikian, jumlah bantuan yang disalurkan tahun ini masih terbatas karena adanya efisiensi anggaran dari pemerintah pusat.

“Karena tahun ini kita mengalami efisiensi anggaran, tentu bantuannya tidak banyak, hanya sebagai stimulus, kemungkinan satu pasang babi jantan dan betina untuk satu peternak,” ujarnya.

Secara keseluruhan, bantuan yang disiapkan sekitar 100 ekor bibit babi dan akan disalurkan kepada kelompok ternak yang memenuhi persyaratan.

Selain menyalurkan bantuan bibit, pemerintah daerah juga memperketat pengawasan terhadap pemotongan ternak untuk menjaga populasi babi di Nabire.

Ayu menegaskan babi betina produktif tidak diperbolehkan dipotong agar proses pengembangbiakan tetap berjalan.

“Pemotongan babi hanya untuk yang layak seperti babi penggemukan. Babi betina produktif tidak boleh dipotong untuk menjaga populasi,” katanya.

Ia menambahkan turunnya populasi babi akibat wabah ASF membuat harga daging babi di Nabire mengalami lonjakan sejak November 2025.

Kondisi tersebut terjadi karena ketersediaan babi potong tidak sebanding dengan permintaan masyarakat yang terus meningkat.

Untuk mengatasi kekurangan pasokan, pemerintah daerah membuka akses masuknya babi potong hidup dari sejumlah daerah yang dinyatakan bebas ASF, seperti Biak, Serui, Sorong, dan Manokwari.

Meski demikian, ia mengakui pasokan babi hidup dari daerah tersebut belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan masyarakat di Nabire sehingga harga daging babi masih relatif tinggi di pasaran.

  • demam babi Afrika

Redaktur: Yebdi Trismar

Penulis: Yebdi Trismar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.