Stabilitas Harga Pangan Kunci Kendali Inflasi

Selasa, 10 Mar 2026, 01:00 WIB

Pemerintah perlu memastikan ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta pengawasan harga di pasar agar tidak terjadi lonjakan yang berlebihan.

Jakarta – Stabilitas harga pangan menjadi faktor penting dalam menjaga laju inflasi tetap terkendali. Komoditas pangan seperti beras, daging ayam, telur, bawang merah, dan daging sapi memiliki porsi konsumsi besar dalam rumah tangga, sehingga setiap kenaikan harga pada komoditas tersebut dapat berdampak langsung terhadap tingkat inflasi.

Ket. Foto: Amalia A Widyasanti Kepala BPS - Komoditas dengan bobot konsumsi besar perlu dijaga harganya. — Sumber: antara

Seperti dikutip dari Antara, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan pentingnya menjaga stabilitas harga sejumlah bahan pangan utama karena memiliki bobot konsumsi terbesar dalam masyarakat dan berpotensi mendorong inflasi.

Amalia menyebut bahwa berdasarkan keranjang konsumsi nasional, komoditas dengan bobot terbesar adalah beras, diikuti daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, serta daging sapi. Menurutnya, komoditas dengan bobot konsumsi tinggi akan memberikan pengaruh besar terhadap inflasi apabila terjadi kenaikan harga.

“Kalau bobotnya tinggi dan kenaikan harganya juga tinggi, hal ini akan mendorong inflasi. Oleh sebab itu, komoditas dengan bobot konsumsi besar perlu dijaga harganya,” katanya dalam Rapat Pengendalian Inflasi Daerah di Jakarta, Senin (9/3).

Ia menjelaskan tekanan inflasi akan lebih mudah terjadi jika harga komoditas utama tersebut tidak terkendali. Sebaliknya, kenaikan harga pada komoditas dengan bobot kecil dalam konsumsi masyarakat tidak akan terlalu berdampak besar terhadap inflasi.

Lebih lanjut, Amalia mengatakan pola konsumsi masyarakat di setiap daerah berbeda-beda. Secara nasional, komoditas dengan bobot terbesar dimulai dari beras, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, dan daging sapi.

Namun, di beberapa wilayah urutannya dapat berbeda. Ia mencontohkan, di Kepulauan Riau komoditas dengan bobot konsumsi terbesar setelah beras adalah daging ayam ras, kemudian cabai merah, dan telur ayam ras.

“Ini memang karakteristik konsumsi masyarakat yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, masing-masing kepala daerah dapat melihat komoditas apa yang memiliki bobot terbesar dalam konsumsi masyarakat di wilayahnya,” ujarnya.

Menekan Inflasi

Sementara itu, pengamat pertanian dari Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Khudori menekankan pentingnya kelancaran distribusi pangan untuk menekan inflasi yang biasanya meningkat selama Ramadhan.

Berdasarkan data BPS, pada sepuluh hari pertama puasa Februari 2026 inflasi tercatat mencapai 0,68 persen. Dari kelompok pangan, penyumbang terbesar inflasi adalah daging ayam ras, cabai rawit, cabai merah, ikan segar, dan tomat.

Khudori memperkirakan inflasi pada Maret 2026 berpotensi lebih tinggi. Merujuk data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan per 6 Maret 2026, rata-rata harga gula, bawang merah, telur, daging ayam, Minyakita, cabai rawit, serta beras medium dan premium masih berada di atas harga acuan maupun harga eceran tertinggi (HET).

Karena itu, ia menilai distribusi dari sentra produksi ke konsumen harus dipastikan berjalan lancar, terutama untuk komoditas yang diproduksi di dalam negeri.

“Jika ada kendala, pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, dan BUMN pangan harus bergandeng tangan mencari solusi agar pasokan terjamin dan harga tetap stabil,” katanya.

Untuk komoditas yang sebagian besar diimpor, seperti bawang putih, Khudori menilai pemerintah harus memastikan barang segera masuk ke pasar dan tidak menumpuk di gudang importir.

“Otoritas pengawas harus memiliki data gudang beserta isinya. Tanpa itu, pengawasan akan sulit dilakukan,” ujarnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya penyelenggaraan bazar pangan murah dan gerakan pangan murah untuk membantu masyarakat.

BUMN pangan seperti Bulog juga diminta mengoptimalkan operasi pasar beras program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) serta distribusi Minyakita.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.