Perang dan Politik Bayangi Piala Dunia, 100 Hari Menuju Kickoff
Kamis, 05 Mar 2026, 07:00 WIBWASHINGTON, AMERIKA SERIKAT â Hitung mundur 100 hari menuju Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi momen perayaan. Namun, di tengah euforia persiapan turnamen terbesar sepanjang sejarah itu, bayang-bayang perang dan gejolak politik justru mencoreng citra global tuan rumah utama, Amerika Serikat.
Presiden dari Partai Republik, Donald Trump, kembali menjadi sorotan setelah kebijakan imigrasi keras dan eskalasi militer terhadap Iran memicu kontroversi internasional. Kurang dari tiga bulan sebelum jutaan penggemar sepak bola diperkirakan memadati stadion, dinamika geopolitik membuat suasana kian kompleks.
Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi pertama dengan 48 tim dan 104 pertandingan, digelar di tiga negara: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. FIFA sebelumnya membanggakan rekor penjualan tiket dan sejumlah laga yang sudah ludes terjual.
Namun, sejak kembali berkuasa tahun lalu, Trump meluncurkan perang tarif terhadap banyak negara, termasuk Kanada dan Meksiko, dua mitra sekaligus co-host turnamen. Ia bahkan berulang kali melontarkan ancaman menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 serta membuka opsi intervensi militer di Meksiko terkait isu kartel narkoba.
Ketegangan juga merembet ke Eropa. Rencana Trump terhadap Greenland, wilayah otonom milik Denmark, serta sikapnya yang dinilai plin-plan dalam mendukung Ukraina menghadapi invasi Rusia, memperuncing relasi dengan sekutu lama. Perang terbaru terhadap Iran diprediksi makin memperlebar jurang diplomatik, terlebih setelah Trump mengancam akan âmemutus seluruh perdaganganâ dengan Spanyol karena menolak pangkalan militernya digunakan untuk operasi serangan.
Serangan udara besar-besaran yang diluncurkan Sabtu lalu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, bahkan menyatakan negaranya bisa saja menolak tampil di Piala Dunia. âKami tidak bisa menatap Piala Dunia dengan penuh harapan,â ujarnya.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, dalam pesan resmi 100 hari menuju kickoff, menghindari penyebutan langsung konflik tersebut. Ia hanya menegaskan bahwa Piala Dunia âakan menyatukan dunia, dan itu mungkin menjadi fakta terpenting dalam periode saat ini.â
Di dalam negeri, kebijakan imigrasi ketat turut memicu kecemasan. Pada pertengahan Januari, pemerintah AS membekukan visa imigran bagi 75 negara, termasuk empat peserta Piala Dunia: Iran, Haiti, Senegal, dan Pantai Gading. Gedung Putih menegaskan visa turis tetap tersedia, bahkan dengan percepatan bagi pemegang tiket. Namun, visa tidak otomatis dijamin.
Sejumlah suporter mengaku khawatir terhadap perlakuan di bandara AS. CEO Delta Air Lines, Ed Bastian, mencoba meredakan kekhawatiran. âSelama orang datang dengan dokumen yang tepat, mereka tidak akan mengalami masalah,â ujarnya kepada AFP.
Retorika anti-imigran dan operasi besar-besaran Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) juga memperdalam polarisasi domestik. Insiden tewasnya dua warga AS dalam operasi di Minneapolis memicu kemarahan publik. Kekhawatiran bahwa agen ICE dapat menargetkan pengunjung berdasarkan warna kulit atau aksen Hispanik menyebar di kalangan calon penonton.
âKami berisiko tidak merasakan perayaan sepak bola yang sesungguhnya,â kata Julien Adonis Kouadio, ketua komite resmi suporter Pantai Gading. âJangan sampai terlalu banyak pembatasan yang membuat orang tidak bisa menikmati suasana.â
Bagi pendukung Haiti, situasinya lebih rumit. Sejak Juni lalu, penerbitan visa turis bagi warga negara Karibia itu ditangguhkan, membuat peluang hadir ke stadion nyaris tertutup.
Gejolak di Meksiko
Tak hanya di AS, kekhawatiran keamanan juga meningkat di Meksiko. Kematian salah satu pemimpin kartel narkoba paling berpengaruh dalam operasi militer memicu gelombang kekerasan di sejumlah wilayah. Kota Guadalajara, tuan rumah empat pertandingan, sempat berada dalam situasi nyaris lockdown setelah bentrokan yang menewaskan puluhan aparat dan anggota kartel.
Meski demikian, Infantino menyatakan keyakinannya laga di Meksiko akan tetap berjalan sesuai rencana. Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, pun menegaskan tidak ada risiko bagi para penggemar.
Di tengah ketidakpastian global, Piala Dunia 2026 kini bukan sekadar pesta olahraga. Ia menjadi ujian diplomasi, stabilitas, dan citra internasional, 100 hari sebelum bola pertama bergulir.
- Donald Trump
- FIFA
- Piala Dunia 2026
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Trump Minta Juru Runding AS Tidak Terburu-buru Capai Kesepakatan dengan Iran
-
Piala Dunia 2026 Segera Dimulai, FIFA Hadapi Gelombang Kritik di Tengah Euforia Sepak Bola
-
Aturan Tak Tertulis Berpakaian Anggota Kabinet, Ternyata Trump Tidak Menyukai Sepatu Coklat
-
AS dan Iran Tandatangani MoU, Lalu Lintas Selat Hormuz Dibuka
-
Trump Sebut Kesepakatan dengan Iran Bisa Ditandatangani di Eropa Dalam Beberapa Hari ke Depan
-
Akhir Penantian Generasi Emas: Norwegia Siap Menggebrak Piala Dunia 2026
-
Ekuador Kalah Dramatis 0-1 Lawan Pantai Gading di Grup E
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.