Trump Tegaskan AS Tak Akan Izinkan Iran Miliki Senjata Nuklir

Kamis, 26 Feb 2026, 01:00 WIB

Washington — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan kembali bahwa kebijakan pemerintah AS selama beberapa dekade tetap konsisten, yakni mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato kenegaraan di hadapan Kongres pada Rabu (25/2), di tengah meningkatnya dinamika geopolitik dan ketegangan keamanan di kawasan Timur Tengah.

Seperti dikutip dari Antara, dalam pidatonya, Trump mengatakan Washington masih mengedepankan jalur diplomasi untuk menyelesaikan persoalan nuklir Iran. Namun, ia mengaku belum mendengar komitmen tegas dari Teheran bahwa negara tersebut tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.

Ket. Foto: Foto satelit memperlihatkan fasilitas nuklir Fordo di Iran, beberapa waktu lalu. — Sumber: MAXAR TECHNOLOGIES

“Selama beberapa dekade, kebijakan Amerika Serikat adalah tidak pernah mengizinkan Iran memiliki senjata nuklir. Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi kami belum mendengar kata-kata itu: ‘Kami tidak akan pernah memiliki senjata nuklir’,” ujar Trump.

Ia kembali menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan memberi ruang bagi Iran untuk mengembangkan kemampuan nuklir militer. Meski menggunakan retorika keras, Trump tetap menyebut diplomasi sebagai opsi yang lebih diutamakan dibandingkan konfrontasi terbuka.

Di sisi lain, pemerintah Iran menunjukkan sinyal positif terhadap upaya negosiasi. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi dalam wawancara dengan NPR menyatakan negaranya siap mengambil langkah yang diperlukan demi tercapainya kesepakatan dengan Washington.

“Kami siap mencapai kesepakatan sesegera mungkin dan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mewujudkannya,” katanya.

Pernyataan tersebut diperkuat Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi yang menilai kedua negara memiliki peluang besar untuk mencapai kesepakatan baru yang adil dan setara. Ia menyebut diplomasi sebagai kunci untuk menjawab kekhawatiran bersama sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih stabil.

"Dengan berlandaskan pada kesepahaman yang dicapai pada putaran sebelumnya, Iran akan melanjutkan perundingan dengan pihak AS di Jenewa dengan tekad untuk mencapai kesepakatan yang adil dan setara dalam waktu sesingkat mungkin," kata Menlu Iran.

Peningkatan Tensi

Namun, di tengah upaya diplomasi tersebut, situasi keamanan kawasan justru mengalami peningkatan tensi. Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh menegaskan negaranya tidak menginginkan perang, tetapi siap memberikan respons kuat apabila konflik dipaksakan. Pernyataan itu disampaikan setelah latihan militer yang digelar Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps di wilayah pesisir selatan Iran, yang mensimulasikan pertahanan pantai serta operasi pasukan khusus.

Ketegangan semakin terasa dengan meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan. Media Israel melaporkan sejumlah jet tempur siluman F-22 milik AS telah ditempatkan di pangkalan udara Israel bagian selatan. Selain itu, kapal induk terbesar dunia, USS Gerald R. Ford, dilaporkan memasuki Laut Mediterania untuk bergabung dengan armada tempur yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kapal perusak rudal lainnya di sekitar wilayah Iran.

Langkah militer tersebut memicu spekulasi mengenai kemungkinan opsi serangan awal terhadap Iran. Meski demikian, Trump sebelumnya membantah laporan yang menyebut pejabat militer AS memperingatkan agar Washington tidak melakukan serangan. Dalam unggahan media sosialnya, ia bahkan menyatakan bahwa jika operasi militer dilakukan, peluang kemenangan dinilai sangat besar.

  • negosiasi nuklir

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.