AS Terus Desak Isu Rudal Dibahas Saat Pembicaraan Baru dengan Iran di Jenewa

Kamis, 26 Feb 2026, 12:10 WIB

JENEWA - Amerika Serikat dan Iran akan mengadakan pembicaraan tidak langsung di Swiss pada hari Kamis (26/2), bertujuan untuk mencapai kesepakatan guna mencegah konflik baru dan mengakhiri ancaman selama beberapa minggu.

Putaran negosiasi baru di Jenewa ini terjadi setelah AS melakukan peningkatan militer besar-besaran di kawasan tersebut dan Presiden Donald Trump berulang kali mengancam akan menyerang Iran jika kesepakatan tidak tercapai.

Ket. Foto: Sebuah surat kabar Iran dengan foto sampul rudal Iran, di Teheran, 19 Februari 2026. — Sumber: West Asia News Agency via Reuters

Dalam pidato kenegaraannya pada hari Selasa, Trump menuduh Iran "mengejar ambisi nuklir yang jahat".

Ia juga mengklaim Teheran "telah mengembangkan rudal yang dapat mengancam Eropa dan pangkalan kita di luar negeri, dan mereka sedang berupaya membangun rudal yang akan segera mencapai Amerika Serikat".

Kementerian Luar Negeri Iran menyebut klaim ini sebagai "kebohongan besar".

Jangkauan maksimum rudal Iran adalah 2.000 kilometer (km), menurut apa yang telah diungkapkan Teheran secara publik. Namun, Layanan Penelitian Kongres AS memperkirakan jarak maksimumnya sekitar 3.000 km - kurang dari sepertiga jarak ke daratan Amerika Serikat.

Perselisihan antara kedua negara sebagian besar berpusat pada program nuklir Iran, yang menurut Barat bertujuan untuk membangun bom atom, namun Teheran bersikeras bahwa program tersebut damai.

Namun, AS juga telah mendorong untuk membahas program rudal balistik Iran, serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata yang memusuhi Israel.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan, Iran juga harus bernegosiasi tentang program rudalnya, menyebut penolakan Teheran untuk membahas senjata balistik sebagai "masalah yang sangat besar" menjelang pembicaraan.

Ia menambahkan dengan mengatakan "presiden menginginkan solusi diplomatik".

Iran telah menghapus semua hal di luar masalah nuklir dari meja perundingan dan menuntut agar sanksi AS yang melumpuhkan ekonominya menjadi bagian dari kesepakatan apa pun.

Bukan Perang maupun Damai

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan pada hari Rabu bahwa ia memiliki "pandangan yang menguntungkan untuk negosiasi" yang akhirnya dapat "melampaui situasi 'bukan perang maupun damai' ini".

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, yang memimpin delegasi Iran dalam pembicaraan tersebut, menyebutnya sebagai "kesempatan bersejarah". Ia mengatakan bahwa kesepakatan "sudah di depan mata".

AS akan diwakili oleh utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner, suami Ivanka Trump.

Kedua negara mengadakan pembicaraan awal bulan ini di Oman, yang menjadi mediator negosiasi, kemudian bertemu untuk putaran kedua di Jenewa pekan lalu.

Upaya negosiasi sebelumnya gagal ketika Israel melancarkan serangan mendadak ke Iran Juni lalu, memulai perang 12 hari yang sempat diikuti Washington mengebom situs nuklir Iran.

Pada bulan Januari, ketegangan baru antara AS dan Iran muncul setelah Teheran melakukan penindakan terhadap aksi protes yang telah menjadi salah satu tantangan terbesar bagi republik Islam tersebut sejak awal berdirinya.

Trump telah beberapa kali mengancam akan campur tangan untuk "membantu" rakyat Iran.

Emile Hokayem, peneliti senior untuk keamanan Timur Tengah di International Institute for Strategic Studies, mengatakan "kawasan tersebut tampaknya mengharapak perang pada saat ini".

Pada bulan Januari, ada "dorongan besar dari sejumlah negara Timur Tengah untuk meyakinkan AS agar tidak" menyerang Iran.

"Tetapi ada banyak kekhawatiran pada saat ini, karena harapannya adalah bahwa kali ini" perang akan "lebih besar" daripada yang terjadi pada bulan Juni.

Warga Teheran yang berbicara kepada AFP terbagi pendapatnya mengenai apakah akan ada konflik baru.

Ibu rumah tangga Tayebeh mencatat bahwa Trump telah "mengatakan perang akan sangat buruk bagi Iran".

  • Negosiasi AS-Iran

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.