Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Investor Diprediksi Pilih Menepi ke Aset Aman Saat Isu Tarif Bikin Deg-Degan

📅 Minggu, 22 Feb 2026, 21:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Investor Diprediksi Pilih Menepi ke Aset Aman Saat Isu Tarif Bikin Deg-Degan Doc: ANTARAHO-Sekretariat Kabinet
Ket. Presiden RI Prabowo Subianto (kiri) dan Presiden AS Donald Trump meneken perjanjian perdagangan timbal balik (ART) di Washington DC, AS, Kamis (1922026).

JAKARTA – Di tengah ketidakpastian arah kebijakan tarif dan memanasnya tensi dagang global, pelaku pasar biasanya tak butuh waktu lama untuk bersikap.

Saat situasi terasa abu-abu, investor cenderung menepi sejenak dengan memindahkan dananya ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Aset-aset seperti emas, dolar AS, atau obligasi pemerintah kembali jadi incaran. Bukan semata-mata karena potensi imbal hasilnya lebih tinggi, tetapi karena dinilai lebih stabil ketika gejolak pasar meningkat.

Langkah ini menjadi strategi bertahan, sembari menunggu kejelasan arah kebijakan dan dampaknya terhadap ekonomi global.

Peralihan ke aset aman juga mencerminkan sikap wait and see. Investor memilih menjaga nilai portofolio terlebih dulu, ketimbang mengambil risiko besar di tengah ketidakpastian. Jika situasi mulai kondusif, barulah dana tersebut biasanya kembali mengalir ke aset yang lebih agresif.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan investor global akan cenderung beralih ke aset aman saat membaca tarif Amerika Serikat (AS) sebagai sumber volatilitas kebijakan.

Menurut dia, investor membaca kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) bukan sekadar proteksionisme, tetapi sebagai sumber volatilitas kebijakan (policy uncertainty). Ketika aturan perdagangan bisa berubah dalam waktu singkat, proyeksi laba perusahaan, harga komoditas, serta arus logistik menjadi sulit diprediksi.

"Karena itu investor global cenderung memindahkan dana sementara ke aset aman seperti obligasi pemerintah AS dan dolar AS, sementara aset emerging market dianggap lebih berisiko meskipun fundamental domestiknya tidak berubah," ujar Rizal saat dihubungi di Jakarta, Minggu (22/2).

Rizal menjelaskan, gejolak tarif AS terutama bekerja melalui kanal risk sentiment global, bukan langsung melalui perdagangan barang.

"Perubahan kebijakan yang cepat meningkatkan ketidakpastian perdagangan dunia sehingga investor global cenderung mengurangi eksposur di aset negara berkembang (risk-off)," ujar Rizal.

Untuk Indonesia, ia mengatakan dampaknya biasanya berupa arus keluar portofolio jangka pendek dari obligasi dan saham, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta tekanan pada likuiditas pasar.

"Jadi pengaruh awalnya lebih terasa di pasar keuangan dibanding sektor riil," ujar Rizal.

Rizal melanjutkan, tekanan paling cepat biasanya terjadi pada rupiah karena sensitif terhadap pergerakan dolar global dan arus modal.

Ia menyebut, penguatan dolar AS dan capital outflow berpotensi membuat rupiah melemah sementara, sedangkan IHSG cenderung bergerak volatil dengan sektor komoditas relatif lebih bertahan dibanding sektor manufaktur dan perbankan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Mesin Diperkuat, Indonesia Tak Mau Terus Bergantung Impor
    Langkah strategis Ditjen ILMATE Kemenperin yang disampaikan oleh ...
  • Kemenperin Catat Sektor Industri Mainan Indonesia Serap 15.663 Naker
    Pencapaian surplus ekspor industri mainan nasional yang tembus ...
  • Timnas Indonesia Juara FIFA Asean Cup 2026, Tundukkan Thailand 4-2 Lewat Adu Penalti
    final ideal, kekuatan berimbang, pertandingan yg menguras tenaga ...
  • Memahami Kaum Furry, Orang-orang yang Mengidentifikasi Dirinya sebagai Binatang
    Nah thats right thank you ~
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
Megapolitan
DPRD DKI Sebut Digitalisasi...
Megapolitan
Mobil Klinik Hewan Keliling...
Megapolitan
127 UMKM Setu Babakan Ditaw...
Luar Negeri
Bank Dunia: AI Dorong Pertu...
Ekonomi
InJourney Airports Pastikan...
Advertisement
ASDP Perkuat Pengaturan Operasional Berbasis Keselamatan, Layanan Ketapang–Gilimanuk Kembali Lancar

ASDP Perkuat Pengaturan Operasional Berbasis Keselamatan, Layanan Ketapang–Gilimanuk Kembali Lancar

06 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.