Desa Adat Ratenggaro, Sang Penjaga Gerbang Zaman
Jumat, 20 Feb 2026, 06:54 WIBJika ingin melihat lebih dalam tentang arsitektur Sumba serta budaya masyarakatnya bisa datang Kampung Adat Ratenggaro. Jaraknya dari Pantai Mbawana sejauh 17,4 km dengan waktu tempuh sekitar 31 menit.
Kampung tersebut berdiri di atas karang yang menjorok ke laut menantang amuk Samudra Hindia. Terletak di muara sungai yang membelah Desa Umbu Ngedo, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, kampung ini bukan sekadar pemukiman tradisional biasa, namun sebuah manifesto peradaban megalitikum yang menolak takluk oleh deru modernitas.
Secara etimologi, nama âRatenggaroâ berasal dari dua kata dalam bahasa lokal: Rate yang berarti kuburan, dan Garo yang merujuk pada suku Garo. Konon, kampung ini merupakan lokasi di mana suku asli dikalahkan dalam perang antarsuku masa lampau dan dikuburkan di tempat tersebut. Namun, alih-alih menjadi tempat yang kelam, Ratenggaro hari ini berdiri sebagai monumen kebanggaan budaya Sumba yang tak tertandingi.
Ratenggaro adalah tempat di mana garis antara dunia nyata dan dunia roh tampak begitu tipis, dibalut dalam arsitektur yang melampaui logika zaman. Rumah-rumah adat di kampung ini bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga simbol status sosial, spiritualitas, serta relasi masyarakat dengan leluhur dan alam.
Ciri paling ikonik dari Ratenggaro adalah siluet atap rumah adatnya yang disebut Uma Kelada. Bentuk ini berbeda dengan kampung adat di wilayah di sesama pulau Sumba terutama di Sumba Tengah atau Sumba Timur.
Ciri paling mencolok adalah atap menjulang sangat tinggi bisa mencapai lebih dari 15 meter  yang disebut uma mbatangu (rumah menara). Bentuknya meruncing seperti piramida atau menara, sehingga siluetnya mudah dikenali dari jauh, dengan bahan atap dari alang-alang kering, disusun tebal untuk ketahanan terhadap panas dan hujan.
Masyarakat setempat meyakini bahwa semakin tinggi atap rumah, semakin dekat pulalah mereka dengan arwah leluhur (Marapu) yang bersemayam di langit. Secara struktural, rumah ini adalah mikrokosmos dari alam semesta. Kolong rumah (lewu) diperuntukkan bagi hewan ternak seperti babi dan kuda, menyimbolkan dunia bawah.
Bagian tengah sebagai ruang tinggal manusia menyimbolkan dunia tengah. Sementara bagian menara (tokal) yang gelap dan sakral digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka sekaligus tempat tinggal para roh, merepresentasikan dunia atas. Seluruh bangunan ini dibangun tanpa sebatang paku pun, hanya mengandalkan pasak kayu dan ikatan tali rotan yang mampu bertahan selama puluhan tahun dari gempuran angin laut.
Megalitikum yang Bernapas
Jika di tempat lain makam berada jauh dari pemukiman, di Ratenggaro, kematian bertetangga erat dengan kehidupan. Di tengah-tengah kampung, di antara deretan rumah adat, bertebaran puluhan kubur batu atau dolmen seberat berton-ton. Makam-makam ini adalah peninggalan tradisi megalitikum yang masih dipraktikkan hingga hari ini.
Makam-makam batu ini memiliki nilai filosofis yang tinggi. Semakin besar dan megah ukiran pada batu kubur, semakin tinggi pula status sosial sang mendiang di masyarakat. Kehadiran makam-makam purba di pusat kampung memastikan bahwa roh leluhur tidak pernah benar-benar pergi; mereka tetap hadir dalam setiap percakapan harian, setiap prosesi adat, dan setiap tarikan napas anak cucunya. Inilah yang menjadikan Ratenggaro sebagai âkampung hidup,â bukan sekadar museum mati bagi turis.
Apa yang membuat Ratenggaro begitu istimewa dibandingkan kampung adat lainnya adalah lokasinya yang berada tepat di pertemuan muara sungai dan pantai berpasir putih. Kontras visual yang tercipta sangatlah kuat: menara-menara jerami yang kecokelatan dan purba berdiri tegak dengan latar belakang biru toska Samudra Hindia yang luas.
Saat air laut surut, muara sungai berubah menjadi taman bermain alami. Anak-anak kecil Kodi sering terlihat memacu kuda-kuda Sumba (Sandalwood) mereka di tepi pantai tanpa pelana, sebuah pemandangan yang seolah menarik pengunjung kembali ke masa ribuan tahun silam.
Di teras-teras rumah, para wanita paruh baya dengan tekun menenun Kain Sumba bermotif Kodi yang kaya akan warna gelap dan simbol hewan, mempertahankan industri rumahan yang menjadi napas ekonomi sekaligus pelestari simbol budaya. hay
- Desa Adat Ratenggaro
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.