Vinicius Junior dan Luka yang Terus Terbuka: Ketika Bintang Real Madrid Berulang Kali Jadi Sasaran Rasis

Kamis, 19 Feb 2026, 06:00 WIB

MADRID, SPANYOL – Gol brilian kembali lahir dari kaki Vinicius Junior. Namun, kemenangan Real Madrid atas Benfica pada laga leg pertama play-off Liga Champions, Rabu (18/2) dini hari WIB, justru dibayangi isu yang jauh lebih serius: dugaan pelecehan rasial terhadap penyerang asal Brasil tersebut.

Pertandingan sempat terhenti selama 10 menit. Para pemain meninggalkan lapangan setelah Vinicius melaporkan kepada wasit Francois Letexier bahwa gelandang muda Benfica, Gianluca Prestianni, menyebutnya “monyet”. Prestianni, 20 tahun, yang sempat menutup mulutnya dengan jersey saat terlihat berbicara kepada Vinicius, membantah telah melontarkan ujaran rasial.

Ket. Foto: Vinicius Junior. — Sumber: AFP

Insiden ini menjadi bab terbaru dalam rangkaian panjang kasus rasisme yang menghantam Vinicius sejak ia hengkang dari Flamengo ke Madrid pada tahun 2018. Di usia 25 tahun, ia telah menjadi “magnet” serangan rasis, terutama di kompetisi domestik Spanyol.

Pada bulan Januari 2023, suporter Atletico Madrid menggantung boneka menyerupai Vinicius di jembatan dekat pusat latihan Madrid. Empat bulan berselang, ia berhadapan langsung dengan suporter yang melecehkannya di Stadion Mestalla, markas Valencia CF. Insiden itu memicu gelombang solidaritas global dalam perjuangannya melawan rasisme.

“Saya bukan korban rasisme. Saya adalah mimpi buruk bagi para rasis,” tulis Vinicius di platform X pada tahun 2024, setelah tiga suporter Valencia dinyatakan bersalah atas pelecehan terhadap dirinya. “Vonis pidana pertama dalam sejarah Spanyol ini bukan untuk saya. Ini untuk semua orang kulit hitam.”

Pada tahun 2025, lima suporter Real Valladolid yang menghina Vinicius dalam laga 2022 juga dinyatakan bersalah melakukan kejahatan ujaran kebencian, putusan pertama di Spanyol terkait penghinaan rasial di stadion sepak bola. Kasus lain terus bermunculan, termasuk nyanyian bernada rasis dari suporter Albacete Balompie sebelum laga Copa del Rey pada Januari lalu.

Menariknya, duel kontra Benfica menjadi kali pertama Vinicius menuduh sesama pemain melakukan tindakan rasis. “Para rasis pada dasarnya pengecut. Mereka perlu menutup mulut dengan jersey untuk menunjukkan betapa lemahnya mereka,” tulisnya.

Rekan setimnya, Kylian Mbappe, bahkan mendesak agar Prestianni didiskualifikasi dari kompetisi. “Orang ini tidak pantas bermain lagi di Liga Champions. Itu pendapat saya,” ujarnya tegas.

Mengapa Selalu Vini?

Pertanyaan yang kerap muncul: mengapa Vinicius begitu sering menjadi sasaran dibanding pemain Madrid lainnya?

Pelatih Benfica, Jose Mourinho, sempat melontarkan komentar kontroversial. “Ada sesuatu yang salah karena ini terjadi di setiap stadion. Di stadion mana pun Vinicius bermain, selalu ada sesuatu,” ujarnya kepada Amazon Prime, seolah menyiratkan bahwa sang pemain memicu situasi.

Secara teknis, Vinicius memang sosok provokatif di lapangan, bukan dalam arti negatif, melainkan karena gaya bermainnya. Ia adalah dribbler terbaik Madrid dalam beberapa musim terakhir, setidaknya sebelum kedatangan Mbappe. Aksinya yang berani menantang bek, kerap mempermalukan lawan dengan trik individu, membuatnya lebih sering dilanggar dan dituduh melakukan diving.

Ekspresif, emosional, dan vokal kepada wasit, Vinicius tak jarang memancing reaksi keras dari suporter tuan rumah. Ia pun kerap membalas ejekan dengan gestur keberhasilan. Saat melawan Benfica, misalnya, ia merayakan gol dengan menari di depan suporter lawan sambil memegang bendera sudut lapangan, selebrasi yang memicu lemparan benda ke arah lapangan sebelum insiden dengan Prestianni terjadi.

“Menarilah, Vini, dan jangan pernah berhenti. Mereka tak akan pernah menentukan apa yang boleh atau tidak boleh kita lakukan,” tulis Mbappe di X.

Namun satu hal tak bisa dibantah: apa pun gaya bermain dan selebrasinya, tidak ada pembenaran untuk rasisme. Justru karena ia bersuara lantang melawan diskriminasi, Vinicius kian menjadi simbol, dan sekaligus target, dalam pertarungan panjang sepak bola Eropa menghadapi momok rasisme yang belum sepenuhnya sirna.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.