Laporan HAM PBB: Krisis Kelaparan dan Kejahatan Perang di Gaza

Kamis, 19 Feb 2026, 20:15 WIB

JAKARTA - Laporan hak asasi manusia terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menyoroti dugaan serius terkait tindakan militer dan administratif Israel di Gaza dan Tepi Barat yang dinilai berpotensi mengarah pada praktik pembersihan etnis. Dokumen yang dirilis Kamis itu memotret pola peningkatan serangan, penghancuran lingkungan secara sistematis, serta pembatasan bantuan kemanusiaan yang disebut mengarah pada perubahan demografis permanen.

Laporan tersebut mencakup periode 1 November 2024 hingga 31 Oktober 2025 dengan gambaran situasi kemanusiaan yang memburuk drastis. PBB mencatat korban sipil dalam jumlah belum pernah terjadi sebelumnya serta kondisi kelaparan yang menciptakan situasi kehidupan yang semakin tidak layak bagi warga Palestina di Gaza.

Ket. Foto: Laporan hak asasi manusia terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menyoroti dugaan serius terkait tindakan militer dan administratif Israel di Gaza dan Tepi Barat yang dinilai berpotensi mengarah pada praktik pembersihan etnis. Dokumen yang dirilis Kamis itu memotret pola peningkatan serangan, penghancuran lingkungan secara sistematis. — Sumber: AFP

Sebanyak 463 warga Palestina dilaporkan meninggal akibat kelaparan, termasuk 157 anak-anak, yang secara langsung dikaitkan dengan pembatasan distribusi bantuan kemanusiaan. Data itu memperkuat kekhawatiran bahwa pembatasan akses kebutuhan dasar telah memperparah krisis kemanusiaan secara signifikan.

Laporan juga menyoroti dugaan serangan yang secara sengaja menargetkan warga sipil atau dilakukan dengan dampak yang tidak proporsional terhadap populasi sipil. Temuan tersebut dinilai berpotensi masuk dalam kategori kejahatan perang berdasarkan hukum humaniter internasional.

Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk, menegaskan pentingnya akuntabilitas dalam konflik berkepanjangan ini.

"Iklim impunitas yang meluas harus segera diakhiri, dan negara-negara wajib menghentikan transfer senjata yang dapat memfasilitasi pelanggaran," ujarnya dalam pernyataan terpisah.

"Akuntabilitas sangat diperlukan untuk mewujudkan perdamaian yang adil dan langgeng," tambahnya.

Di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, laporan mencatat praktik kekerasan yang disebut berlangsung secara sistematis. Bentuknya meliputi penahanan sewenang-wenang, dugaan penyiksaan, serta penghancuran rumah warga dalam skala luas.

Sebanyak 79 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia dalam tahanan Israel selama periode pelaporan tersebut. Para tahanan asal Gaza disebut berada dalam kondisi paling rentan terhadap perlakuan tidak manusiawi dan penyiksaan.

Di sisi lain, laporan juga menyinggung tindakan kelompok bersenjata Palestina seperti Hamas yang masih menahan sandera Israel dan warga asing sejak 7 Oktober 2023. Kesaksian yang dihimpun PBB menggambarkan adanya dugaan penyiksaan serta perlakuan kejam terhadap para sandera.

Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat telah berlaku di Gaza sejak 10 Oktober, menghentikan perang dua tahun yang menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.000 orang sejak Oktober 2023. Namun, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, ratusan pelanggaran masih terjadi meski gencatan senjata telah diumumkan.

Otoritas kesehatan setempat melaporkan 603 warga Palestina tewas dan 1.618 lainnya luka-luka akibat penembakan dan operasi militer pascagencatan senjata. Pada saat yang sama, operasi militer Israel di Tepi Barat meningkat dan menyebabkan sedikitnya 1.112 korban jiwa serta sekitar 11.500 orang mengalami luka.

Laporan PBB tersebut mendesak negara-negara di dunia untuk memastikan keterlibatan segera warga Palestina dalam struktur pemerintahan transisi. Partisipasi itu dinilai penting agar proses rekonstruksi Gaza dapat ditentukan dan dibentuk langsung oleh masyarakat yang terdampak konflik.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

Berita Terbaru

Fantastik, Xabi Alonso Sebut Dukungan Penggemar Chelsea Menakjubkan di GBK

Festival Egrang Jember Bukan Sekadar Permainan, Menteri PPPA Ungkap Pesan Penting soal Ruang Aman Anak

Merespons Keluhan Wisatawan, Pemkab Sukabumi Terapkan Program Parkir "Someah" di Kawasan Wisata

Manajer Chelsea Alonso Sebut Marco Palestra Cepat Beradaptasi Jadi Pemain Serbaguna

Pelatih Ruben Amorim Sebut Permainan AC Milan Sedang Dalam Perubahan Total

Cegah Jatuh Korban, Agen Travel Diminta Prioritaskan Keselamatan Wisatawan yang Gunakan Transportasi Laut

Judi Online Rp2,5 Triliun Mengalir di Jabar, Dedi Mulyadi Dorong LPM Perkuat Ekonomi Desa

Meningkat Signifikan, BEI Catat Investor Saham Tumbuh 16,83 Persen Capai 10,05 Juta SID

Gawat Kobaran Api Terus Menjalar, Karhutla di Gunung Bromo Semakin Meluas Akibat Angin Kencang

Perkuat Riset, Universitas Katolik Fajar Timur Papua Diharapkan Jadi Pusat Pengembangan Inovasi

Terus Semangat, Pelatih Timnas John Herdman Janji Benahi Skuad Garuda Seusai Piala AFF

Aksi Keji Disertai Asusila, Polisi Ungkap Motif Lima Tersangka Penyekapan Karyawan di Tangerang

Bromo Ditutup Total: Kebakaran Meluas, Seluruh Akses Wisata Resmi Dihentikan

Wisatawan Diminta Berhati-hati, Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi Empat Kali

Mengagetkan, Kenapa Empat Produsen Mobil Ini Tarik 512.000 Lebih Kendaraan di Korea Selatan

Perkuat Kemandirian Pangan, Distan Lebak Ajak Warga untuk Manfaatkan Lahan Tidur

Dedi Mulyadi Bikin Aturan Baru, Knalpot Brong Diganti Gratis di Pos Polisi bagi Pengendara Kurang Mampu

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.