Limit Investasi Mau Dinaikkan, IFG Ingatkan Risiko Mengintai Dana Publik

Kamis, 12 Feb 2026, 17:35 WIB

JAKARTA – Rencana peningkatan batas investasi saham bagi dana pensiun dan industri asuransi mencerminkan upaya regulator memperdalam pasar keuangan domestik sekaligus mengoptimalkan imbal hasil dana jangka panjang.

Kebijakan ini berpotensi memperkuat basis investor institusional di bursa dan mengurangi ketergantungan pasar pada modal asing.

Ket. Foto: Pekerja melintas di depan layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Bayu Pratama Snzam

Namun efektivitasnya akan sangat ditentukan oleh tata kelola risiko, kualitas aset yang tersedia, serta kesiapan manajemen investasi—karena tanpa penguatan aspek kehati-hatian, peningkatan porsi saham justru dapat memperbesar eksposur volatilitas terhadap dana perlindungan masyarakat.

Kepala IFG Progress Ibrahim Kholilul Rohman menyatakan rencana peningkatan batas investasi saham bagi industri dana pensiun (dapen) dan asuransi dapat memperluas fleksibilitas pengelolaan portofolio, namun perlu dikelola dengan manajemen risiko yang disiplin.

Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (12/2), berpendapat arah kebijakan kenaikan limit investasi saham bagi dapen dan asuransi hingga 20 persen sejalan dengan upaya memperdalam pasar keuangan domestik dan memperkuat peran investor institusional jangka panjang.

“Fleksibilitas investasi memang penting untuk meningkatkan kapasitas pembiayaan jangka panjang. Namun, setiap ruang fleksibilitas harus diimbangi dengan penguatan tata kelola, seleksi aset yang ketat, serta pengelolaan risiko berbasis profil liabilitas masing-masing institusi,” kata Ibrahim.

Menurutnya, fokus pada saham berkapitalisasi besar dan likuid, seperti yang tergabung dalam indeks utama pasar, secara teoretis memiliki volatilitas relatif lebih terkendali.

Tetapi, peningkatan batas hingga 20 persen tetap membuka potensi risiko konsentrasi, terutama di pasar berkembang yang masih sensitif terhadap sentimen nonfundamental.

“Karena itu, penetapan kriteria saham yang memperoleh perlakuan batas lebih tinggi perlu memasukkan dimensi kualitas tata kelola emiten, stabilitas kinerja keuangan, serta transparansi informasi, tidak hanya aspek likuiditas,” tambahnya.

Dia juga menekankan pentingnya prinsip asset liability matching (ALM) sebagai fondasi pengelolaan investasi asuransi dan dapen.

Menurutnya, tujuan utama pengelolaan dana pada lembaga-lembaga ini adalah memastikan kecukupan aset untuk memenuhi kewajiban jangka pendek maupun panjang, bukan semata mengejar imbal hasil tinggi.

Karakteristik liabilitas yang berbeda antara asuransi umum, asuransi jiwa, dana pensiun, dan entitas lainnya menuntut strategi investasi yang terukur dan tidak seragam.

Ibrahim menyebut asuransi umum cenderung mempertahankan pendekatan konservatif karena profil kewajiban jangka pendek dan kebutuhan likuiditas tinggi untuk pembayaran klaim.

Sebaliknya, asuransi jiwa memiliki ruang lebih besar memanfaatkan saham sebagai sumber pertumbuhan nilai aset jangka panjang, namun tetap harus mendahulukan penempatan aset berimbal hasil lebih pasti untuk menutup kewajiban kepada pemegang polis sebelum mengalokasikan dana ke instrumen berisiko lebih tinggi.

Dari sisi permodalan, lanjutnya, peningkatan porsi saham juga berkorelasi langsung dengan kebutuhan modal berbasis risiko.

Instrumen saham memiliki faktor risiko pasar yang lebih tinggi dibandingkan obligasi, sehingga setiap kenaikan eksposur akan meningkatkan kebutuhan Modal Minimum Berbasis Risiko (MMBR) dan berpotensi menekan rasio solvabilitas atau risk based capital (RBC).

“Karena itu, keputusan investasi tidak bisa dilepaskan dari perhitungan dampaknya terhadap ketahanan permodalan perusahaan,” ujar Ibrahim.

IFG Progress mencatat bahwa secara agregat kondisi RBC industri asuransi nasional masih berada jauh di atas ketentuan minimum regulator. Namun, ketahanan tersebut berjalan beriringan dengan tekanan operasional, termasuk peningkatan rasio klaim dan dinamika profitabilitas.

Dalam konteks itu, disiplin pengelolaan risiko pasar menjadi semakin krusial agar ruang fleksibilitas investasi tidak justru memperbesar kerentanan ke depan.

“Peningkatan batas investasi saham perlu dipandang sebagai instrumen kebijakan yang mensyaratkan tata kelola yang lebih kuat, bukan pelonggaran disiplin. Dengan ALM yang ketat, pengawasan yang memadai, serta transparansi kepada pemangku kepentingan, fleksibilitas dapat menjadi pendorong stabilitas,” tuturnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Baginda Pemuka Bangsa, Gelar Baru Jokowi dari 5 Kerajaan Adat Lampung

Australia Perketat Larangan Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun, Denda Platform Naik hingga Rp1,1 Triliun

Kasus Kematian Dokter Icha, Polisi Periksa Saksi dan Siapkan Klarifikasi Tiga Oknum DPRD TTU

DPRD Jabar Minta Penindakan Rokok Ilegal Tak Hanya Razia, Produsen Harus Dihukum agar Timbulkan Efek Jera

Ribuan Orang dari Seluruh Dunia Berkumpul di Roma Rayakan Ulang Tahun ke-80 Skuter Ikonik Vespa

Gempa Bumi Venezuela: Korban Tewas Capai Lebih dari 1.400 Orang

KKP Bangun Tiga Kampung Nelayan Merah Putih di Sampang, Dorong Kesejahteraan Nelayan dan Ekonomi Pesisir

Kementan Percepat Cetak 2.000 Hektare Sawah di Papua Pegunungan, Perkuat Ketahanan Pangan dan Swasembada Nasional

Kemenhub Pastikan Tarif Transportasi Umum Terintegrasi Rp10.000 di Jakarta Masih Berlaku, Ini Cara Menggunakannya

Salah Tetap Jadi Motor Serangan Mesir, Namun Kekuatan Kolektif Mulai Menonjol

Martín Rebut Pole Position MotoGP Belanda, Márquez Terpuruk di Posisi Ketujuh

Wali Kota Yogyakarta Ajak Mahasiswa Raih Financial Freedom Sebelum Usia 50 Tahun, Tekankan Pentingnya Soft Skill

Kanada vs Afrika Selatan: Pertemuan Dua Tim yang Mengukir Sejarah di Piala Dunia 2026

Aljazair vs Austria: Perebutan Tiket Fase Gugur, Duel Sengit di Grup J Piala Dunia 2026

Argentina Bidik Rekor Sempurna, Yordania Berjuang Tutup Piala Dunia 2026 dengan Kebanggaan

AS Luncurkan Program Rudal Udara-ke-Udara Terjauh di Dunia untuk Hadapi Tiongkok

Dari A24 Jadi 'AI24'? Kolaborasi dengan Google DeepMind Picu Gelombang Kritik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.