Dikebut Tanpa Arah, Hilirisasi Berisiko Minim Manfaat Ekonomi

Rabu, 04 Feb 2026, 00:00 WIB

Hilirisasi perlu dirancang ulang melalui evaluasi menyeluruh agar menghasilkan nilai tambah dan multiplier effect bagi ekonomi, bukan sekadar memperbesar dampak lingkungan dengan manfaat ekonomi yang terbatas.

JAKARTA – Konsep dan praktik hilirisasi perlu dirancang ulang agar benar-benar menghasilkan nilai tambah dan multiplier effect (dampak berganda) bagi perekonomian domestik, bukan sekadar memindahkan aktivitas dari hulu ke hilir. Tanpa perencanaan yang terintegrasi, mulai dari kesiapan industri pendukung, teknologi, hingga pasar, hilirisasi berisiko menciptakan biaya lingkungan yang tinggi dengan manfaat ekonomi yang terbatas.

Ket. Foto: Pembangunan Ekonomi - Pemerintah Prioritaskan 18 Proyek Hilirisasi dengan Investasi Rp618 T — Sumber: istimewa

Evaluasi menyeluruh menjadi krusial untuk memastikan bahwa hilirisasi mendorong penciptaan lapangan kerja, penguatan rantai pasok dalam negeri, serta peningkatan kapasitas industri nasional. Jika tidak, kebijakan ini hanya akan memperbesar tekanan ekologis tanpa kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Peneliti Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi menilai hilirisasi memiliki urgensi tinggi untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi, namun perlu dirancang ulang agar menghasilkan multiplier effect bagi industri domestik. Dia menyoroti pembelajaran dari kasus nikel, di mana hilirisasi terlalu berorientasi ekspor, terutama ke Tiongkok, sehingga rentan terhadap penurunan harga dan minim pasar alternatif, sementara pertumbuhan industri dalam negeri berjalan lambat.

“Hal-hal demikian perlu diantisipasi ke depan, kita punya smelter alumunium 250 ribu ton per tahun sedang permintaan di atas 1 juta ton per tahun dan pertumbuhannya juga signifikan dari tahun ke tahun, namun dari sisi bahan baku alumina masih terbatas,” ujar Hafidz, Selasa (3/2).

Hafidz menekankan pentingnya roadmap terintegrasi lintas sektor, termasuk bauksit–alumina–aluminium, dengan penyesuaian kapasitas smelter, penguatan regulasi impor, serta pembukaan investasi domestik dan asing yang tetap ramah lingkungan dan masyarakat. Selain itu, dia mendorong prioritas pemenuhan kebutuhan domestik dan substitusi impor, pemberian insentif industri yang terukur dan bersifat incremental (naik bertahap), serta penataan ulang skema TKDN agar tidak justru mematikan industri kecil dan menghambat produktivitas nasional.

"Di sini perlu kejelian, memahami kondisi dan bisa didorong skema kemitraan industri kecil dan besar untuk memastikan TKDN berjalan ideal untuk menumbuhkan industri domestik, bukan hanya sekedar sertifikasi yang praktiknya banyak celah,"ungkap Hafidz.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas yang akan dibangun pada 2026 dengan nilai investasi mencapai 618 triliun rupiah. Dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah, awal pekan ini, Prabowo menegaskan pendekatan baru pemerintah yang tidak lagi aktif mencari investasi ke luar negeri, melainkan mengundang investor asing untuk bekerja sama melalui Danantara Indonesia.

Ekosistem Hijau

Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES) Surya Darma menilai pernyataan Presiden Prabowo mencerminkan pergeseran paradigma dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi mandiri berbasis nilai tambah. “Prioritas 18 proyek hilirisasi pada 2026 bukan sekadar industrialisasi, melainkan fondasi ekosistem hijau global, mengingat mineral seperti nikel, tembaga, dan bauksit merupakan komponen kunci transisi energi dan kendaraan listrik,” ujarnya.

Surya juga menyoroti pendekatan investasi yang lebih berdaulat, di mana Indonesia tidak lagi meminta investasi, tetapi mengajak kerja sama strategis melalui Danantara dengan syarat transfer teknologi hijau untuk mendukung target Net Zero Emission. Selain itu, kebijakan ini dinilai selaras dengan tren global, menempatkan Indonesia sebagai calon pusat produksi energi baru.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

Manggala Agni Sumatra Berjibaku Padamkan Karhutla di 17 Desa

Polda Banten Ungkap Sindikat Curanmor Spesialis Pick-up di 14 Lokasi

Tetap Tunjukkan Dedikasi dan Keberanian, Perwira polisi Terluka Kena Pecahan Kaca saat Gerebek Gudang Uang Palsu di Tangsel

93.782 Ton Beras Siaga! BULOG Antisipasi Bencana NTT Hingga 10x Masa Darurat

Gubernur Bali Minta Peradi Siapkan Pendampingan Hukum Perkuat Desa Adat

Wagub Rano Buka Jakarta Beat Society 2026: Komitmen Perluas Ruang Kreatif Musisi Lokal

Pemkab Lebak Bantu Pasarkan Produk UMKM Lewat Bazar

Dukung Penanganan Karhutla, Kemenhub Fasilitasi Penggunaan Pesawat Registrasi Asing

Kemenag Targetkan Keterlibatan 1.781.945 Peserta dalam Gema Selawat Sambut Maulid Nabi

Coba Lerai Perkelahian, Dua Polisi Dikeroyok Masa saat Karnaval di Blora

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.