- Home
-
- Megapolitan
-
- Pemprov Mesti Cermati Serb...
Pemprov Mesti Cermati Serbuan Virus Nipah
Jumat, 30 Jan 2026, 03:38 WIBJAKARTA â Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta mesti mencermati masuknya virus Nipah dengan meningkatkan kegiatan pengamatan sistematis berkelanjutan (surveilans). âLangkah ini mesti dilakukan sejak sekarang untuk mengantisipasi serbuan virus tersebut,â tandas ahli kesehatan yang juga Direktur Penyakit Menular WHO Kantor Regional Asia Tenggara 2018-2020 Prof Tjandra Yoga Aditama, Kamis (29/1).
Di Jakarta mungkin tidak ada pekerja migran, tetapi peningkatan surveilans secara umum tetap baik dilakukan. Lebih lanjut, menurut Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi itu, Dinas Kesehatan juga harus memberi penyuluhan kepada warga tentang berbagai aspek penyakit virus Nipah.
Menurut Tjandra, seperti kebijakan di Singapura dan India, Pemprov Jakarta juga disarankan agar menyampaikan ke rumah sakit tentang adanya kejadian di India. Tujuannya,agar mengikuti perkembangan kasus virus Nipah untuk memastikan kesiapan layanan kesehatan.
âPemprov memberitahu fasilitas pelayanan kesehatan dan laboratorium Jakarta untuk menginformasikan ke Dinas Kesehatan, ada kasus yang mencurigakan,â ujar Tjandra.
Penyakit akibat virus Nipah diketahui tengah melanda India. Dari dua orang, virus terus menyebar hingga kini 100 orang. Mereka tertular karena kontak erat. Mereka dikarantina serta di bawah pengawasan ketat.
Tjandra menuturkan, virus Nipah menular awalnya dari binatang seperti kelelawar dan babi ke manusia. Kelak akhirnya menular dari manusia ke manusia. Penularan bisa melalui makanan terkontaminasi.
Sejauh itu, di dunia sudah tercata sekitar 750 kasus pada era 1998-1999. Dulu bermula dari Malaysia hingga kini letusan kasus sudah pernah dilaporkan di Bangladesh, India, Malaysia, Filipina, dan Singapura.
Bentuk Gejala
Masa inkubasi virus tersebut berkisar 4-21 hari, walaupun ada yang lebih lama. Seseorang yang terinfeksi virus ini biasanya mengalami gejala, seperti flu dengan demam, sakit kepala, nyeri otot dan lemah.
Dua masalah utama yang terjadi kemudian adalah gangguan paru dan otak. Untuk paru, dapat bermula dari keluhan batuk dan sesak napas. Setelah itu, terjadi pneumonia. Ini kalau tidak tertangani dengan baik, dapat timbul gagal napas.
Sedangkan untuk gangguan otak, dapat berupa ensefalitis (peradangan serius) yang pada sebagian kasus terjadi meningitis. Pada kasus ensefalitis, pasien dapat menunjukkan berbagai gejala neurologis seperti kebingungan, gangguan kesadaran, kejang dan bahkan koma. Kalau sudah berat, maka angka kematiannya dapat mencapai 40-75 persen. âTidak ada vaksin untuk pencegahan penyakit akibat virus Nipah, juga tidak ada obat spesifiknya,â ungkap Tjandra.
Sementara itu, sampai saat ini, Kementerian Kesehatan menyatakan belum mendapatkan laporan adanya kasus konfirmasi penyakit akibat virus Nipah di Indonesia. Pemerintah Indonesia bisa mencontoh langkah-langkah negara tetangga dalam upaya untuk mencegah penularan virus Nipah.
Negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura sudah menjalankan langkah-langkah untuk mencegah penularan virus tersebut. Menurut Tjandra, otoritas Thailand sudah melakukan skrining di bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang kepada orang-orang yang datang dari negara bagian West Bengal di India. Otoritas Nepal juga melakukan skrining pendatang di Tribhuvan International ÂAirport. wid/Ant/G-1
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Dua Kasus Virus Nipah Ditemukan di India, Negara-negara Asia Siaga!
-
Memperkuat Karantina Kesehatan untuk Mencegah Virus Nipah
-
Club Brugge Coba Rem Kecepatan Barcelona
-
Festival Storytelling Suara Nusantara 2025: Menghidupkan Legenda, Mewariskan Identitas Bangsa
-
133 Pendamping Kopdes Papua Pegunungan Diberi Pelatihan, Siap Jadi Motor Ekonomi Desa
-
Internet Rakyat: Kominfo Lombok Utara Dorong Pelajar Kuasai Literasi Digital
-
Antisipasi masuknya virus Nipah ke Indonesia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.