Depot Minyak Rusia Terbakar, Indonesia Diminta Antisipasi Gejolak Energi

Minggu, 25 Jan 2026, 23:59 WIB

JAKARTA – Indonesia perlu mulai waspada terhadap dampak jangka panjang dari kebakaran depot minyak Rusia akibat serangan drone Ukraina yang terjadi di Kota Penza pada Jumat (23/1) pagi waktu setempat.

Meski kejadian itu berlangsung jauh dari dalam negeri, efeknya bisa merembet ke pasar energi global, termasuk harga minyak. Karena itu, langkah antisipasi tetap penting agar gejolak di luar negeri tidak ikut mengganggu stabilitas energi dan perekonomian nasional.

Ket. Foto: Arsip Foto - Kapal tanker minyak mentah Fuga Bluemarine berlabuh dekat Terminal Kozmino, Teluk Nakhodka, dekat Kota Pelabuhan Nakhodka, Rusia. — Sumber: ANTARA/REUTERS/Tatiana Meel

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet berpendapat efek ketegangan geopolitik tersebut terhadap Indonesia tidak bersifat langsung, melainkan melalui jalur harga.

“Kita masih net importir minyak, jadi ketika harga global naik, biaya impor energi ikut naik. Efek lanjutannya bisa terasa ke ongkos transportasi, logistik, sampai harga barang, yang ujung-ujungnya menekan inflasi dan daya beli,” ujar Yusuf saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (24/1).

Secara global, kebakaran depot minyak Rusia akibat serangan drone kali ini kemungkinan tidak langsung memotong pasokan minyak dunia secara besar.

Tetapi, menurut Yusuf, pasar energi sangat sensitif. Ketika terjadi gangguan di negara produsen seperti Rusia, yang bergerak bukan hanya suplai fisik, tetapi juga psikologi pasar.

“Risiko geopolitik naik, investor minta premi lebih tinggi, dan itu biasanya membuat harga minyak dunia lebih mudah terdorong naik dan jadi lebih volatil,” jelasnya.

Sementara itu bila Pemerintah Indonesia mengambil langkah menahan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri, maka tekanan akan pindah ke fiskal melalui beban subsidi.

“Jadi, walaupun jangka pendek mungkin masih terkendali, kalau konflik dan serangan ke infrastruktur energi Rusia berlanjut, risikonya ke ekonomi domestik akan makin terasa,” katanya menambahkan.

Maka dari itu, Yusuf menilai Pemerintah Indonesia perlu memperkuat diversifikasi sumber impor agar tidak bergantung terhadap satu kawasan rawan konflik.

Di samping itu, cadangan strategis minyak juga harus memadai untuk menjadi bantalan ketika harga global melonjak.

Secara paralel, percepatan transisi energi perlu terus didorong agar ketergantungan impor makin turun, misalnya biofuel, gas, dan energi terbarukan.

“Terakhir, kebijakan fiskal harus fleksibel, dengan subsidi yang tepat sasaran, supaya stabilitas harga terjaga tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),” tuturnya.

Sementara itu, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkanIndonesia perlu memperkuat cadangan energi di tengah konflik serangan drone oleh Ukraina yang menyebabkan terbakarnya depot minyak di Kota Penza, Rusia.

Picu Kenaikan Biaya

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman berpendapat kebakaran itu berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia dalam jangka pendek, yang akhirnya memicu kenaikan biaya impor energi bagi Indonesia.

“Dari sisi kebijakan, Pemerintah Indonesia perlu langkah antisipatif yang terukur,” kata Rizal saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (25/1).

Dia menjelaskan, dalam beberapa insiden serupa sepanjang sepanjang 2024–2025, harga minyak Brent tercatat naik di kisaran 1–3 persen secara harian, bergerak dari sekitar 80 dolar AS per barel ke kisaran 82–85 dolar AS per barel.

Kenaikan itu utamanya didorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan dan eskalasi konflik dibandingkan soal hilangnya volume produksi global secara signifikan.

“Mengingat produksi minyak dunia masih berada di atas 102 juta barel per hari dengan kapasitas cadangan OPEC+ yang relatif memadai,” tambahnya.

Bagi Indonesia, sekitar 60–65 persen kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional masih dipenuhi dari impor, sehingga setiap kenaikan harga minyak 1 dolar AS per barel dapat menambah beban impor migas hingga 300–400 juta dolar AS per tahun.

Di samping itu, kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi, mengingat komponen transportasi dan energi menyumbang sekitar 15–20 persen dalam keranjang inflasi nasional.

Namun, menurut Rizal, selama lonjakan harga minyak bersifat sementara, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5 persen cenderung masih dapat dikelola.

Untuk mempersiapkan langkah antisipasi, Rizal menyoroti cadangan operasional BBM di Indonesia masih berkisar 20–25 hari konsumsi, relatif terbatas untuk meredam tekanan berkepanjangan.

Pada sisi fiskal, subsidi dan kompensasi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terbilang masih sensitif terhadap pergerakan minyak, di mana setiap kenaikan minyak mentah Indonesia (ICP) 10 dolar AS per barel dapat menambah beban anggaran hingga Rp50–60 triliun.

“Karena itu, kebijakan yang disarankan adalah penguatan cadangan energi. Kemudian, pengelolaan subsidi yang lebih tepat sasaran, dan percepatan diversifikasi energi menjadi kunci untuk mengurangi kerentanan ekonomi Indonesia terhadap gejolak geopolitik energi ke depan,” tutur Rizal.

Sebagai informasi, serangan drone Ukraina yang menyebabkan kebakaran di depot minyak Rusia di bagian barat terjadi pada Jumat (23/1) pagi waktu setempat.

Kebakaran terjadi saat sistem pertahanan udara Rusia mencegat sejumlah drone tempur yang diterbangkan oleh Ukraina.

  • kebakaran depot minyak Rusia

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.