Ketua Dewan Komisioner OJK: Gen Z Dominasi Konsumen Investasi Kripto

Kamis, 22 Jan 2026, 13:28 WIB

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai selera risiko investasi generasi muda berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyebut Generasi Z (Gen Z) cenderung memilih investasi berisiko tinggi seperti kripto.

Mahendra mengatakan, kecenderungan tersebut menunjukkan perubahan prioritas dalam pengelolaan keuangan generasi muda. Menurutnya, selera risiko Gen Z relatif lebih tinggi dibandingkan pola investasi generasi terdahulu.

Ket. Foto: Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar (tengah) — Sumber: YouTube TVRI Parlemen

"Risk appetite-nya memang jauh lebih tinggi. Mungkin prioritasnya juga sudah berubah," ujar dia dalam rapat kerja dengan Komisi XI di gedung DPR RI Jakarta, Rabu (21/1).

Ia menilai fenomena tersebut menarik karena menunjukkan perbedaan kebutuhan dan cara pandang mengelola keuangan. Mahendra menegaskan pilihan investasi Gen Z bukan semata akibat rendahnya literasi keuangan.

Menurut Mahendra, sebagian besar Gen Z telah memahami risiko instrumen berisiko tinggi, termasuk aset kripto. Karena itu, ujarnya, pendekatan edukasi konvensional belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan perspektif mereka.

Mahendra menjelaskan, generasi sebelum Gen Z umumnya memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok terlebih dahulu. Sisa pendapatan kemudian dialokasikan untuk tabungan, tabungan jangka panjang, dan investasi berisiko rendah.

Sementara itu, OJK melihat potensi sektor inovasi teknologi dan digital keuangan masih sangat besar secara global. Potensi tersebut diperkirakan terus meningkat seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK) OJK, Hasan Fawzi, menyebut nilai pasar global sektor ini terus bertumbuh. Ia memproyeksikan nilai pasar mencapai 8.567,4 miliar dollar AS pada 2033.

Hasan mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan inovasi keuangan digital. Menurutnya, keunggulan demografi menjadi faktor pendukung utama pertumbuhan industri fintech nasional.

Ia menambahkan, adopsi internet dan smartphone di Indonesia tergolong sangat tinggi. Sebanyak 74,6 persen penduduk Indonesia telah menikmati layanan internet.

"Kita tercatat mungkin menjadi salah satu negara yang pengguna internetnya sangat besar, ada 74,6 persen porsi penduduk. Artinya sekitar 212 juta jiwa dengan penetrasi dan adopsi smartphone yang luar biasa tinggi," ujar dia.

Selain fintech konvensional, Hasan menyebut fintech syariah juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Indonesia bahkan dinilai sebagai negara ketiga paling kondusif bagi pengembangan fintech syariah. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.