Ada 'Mak Comblang' di Cianjur! Program Pertemukan Petani dan Dapur MBG, Pangkas Rantai Pasok Bahan Baku

Rabu, 21 Jan 2026, 19:54 WIB

JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) membuat Program "Mak Comblang" di Cianjur, Jawa Barat, untuk mempertemukan langsung petani dengan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Inisiatif tersebut bertujuan mempertemukan langsung petani dengan dapur MBG. Program ini dirancang untuk menjawab persoalan klasik dalam rantai pasok pangan guna menghapus ketimpangan antara kapasitas produksi petani dan kebutuhan riil dapur MBG, khususnya di wilayah Jakarta dan Bogor.

Ket. Foto: Juru Bicara BGN, Dian Fatwa, dalam pemetaan rantai pasok bersama para petani di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Senin (19/1). — Sumber: Foto: Arsip BGN

"Selama ini petani dan dapur MBG berjalan di jalur yang terpisah. Di satu sisi, petani di Cipanas mengalami kelebihan suplai. Namun, di sisi lain, dapur MBG di Jakarta dan Bogor justru kesulitan mendapatkan bahan baku dengan harga yang stabil. Mak Comblang Project hadir untuk menyambungkan dua sisi ini secara langsung," ujar Juru Bicara BGN Dian Fatwa dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (21/1).

Mak Comblang Project diawali dengan pertemuan bersama para petani dan Gabungan kelompok tani (Gapoktan) di wilayah Cipanas, Kabupaten Cianjur, pada Senin (19/1) guna memetakan rantai pasok untuk melihat kondisi lapangan secara apa adanya, baik dari sisi produksi maupun kebutuhan.

Dalam pemetaan awal, BGN menemukan adanya kesenjangan volume yang cukup signifikan. Pada komoditas jagung, misalnya, kapasitas produksi petani Cipanas berada di kisaran 30 ton per bulan, sementara kebutuhan dapur MBG di Jakarta mencapai sekitar 240 ton per bulan. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya perencanaan produksi yang lebih selaras dengan kebutuhan.

Selain kesenjangan volume, pertemuan tersebut juga mengungkap disparitas harga yang selama ini terjadi di lapangan. Dian mencontohkan komoditas wortel, di mana dapur MBG kerap membeli dengan harga 15.000–25.000 rupiah per kilogram, sementara petani hanya menerima 1.500–3.000 rupiah per kilogram di tingkat kebun.

"Disparitas ini bukan disebabkan satu pihak, tetapi akibat rantai pasok yang panjang dan tidak terhubung secara langsung," tuturnya.

Melalui Mak Comblang Project, BGN mulai memetakan komoditas, volume produksi, serta kebutuhan dapur secara terbuka. Hasil pemetaan ini akan menjadi dasar penyusunan kalender tanam dan kalender panen, sehingga petani dapat memanen secara bertahap dan berkelanjutan. Pola ini diharapkan memberi kepastian pasar dan harga yang layak bagi petani, sekaligus memastikan pasokan bahan baku yang stabil bagi dapur MBG.

Ke depan, penyusunan menu MBG juga akan diselaraskan dengan ketersediaan produksi petani lokal, dengan melibatkan peran ahli gizi agar kualitas dan kecukupan gizi tetap terjaga. Dengan mempertemukan langsung petani dan dapur, Mak Comblang Project diharapkan mampu menciptakan kolaborasi yang saling menguntungkan serta memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat. Ant

  • Program "Mak Comblang"

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.