Warga Tolak Aktivitas Tambang di Kaki Gunung Slamet

Selasa, 13 Jan 2026, 16:05 WIB

BANYUMAS -- Sekitar 100 warga Kecamatan Sumbang yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang menyuarakan penolakan terhadap aktivitas pertambangan di kaki Gunung Slamet yang masuk wilayah Desa Gandatapa, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, karena dinilai merusak lingkungan.

Penolakan tersebut diwujudkan dengan mendatangi area tambang yang berlokasi di perbatasan Desa Gandatapa dan Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, Banyumas, Minggu, untuk menggelar aksi damai.

Ket. Foto: Warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang membentangkan spanduk penolakan terhadap aktivitas pertambangan di area tambang kaki Gunung Slamet yang masuk wilayah Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Minggu (11/1), karena dinilai merusak lingkungan. — Sumber: ANTARA/Sumarwoto

Kendati demikian aksi tersebut tidak diisi dengan orasi, melainkan pengecekan kondisi terkini lahan yang rusak akibat penambangan pasir hitam dan diakhiri dengan pemasangan spanduk penolakan aktivitas pertambangan di pagar maupun pintu masuk area tambang.

Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang Eka Wisnu mengatakan penolakan tersebut merupakan bentuk solidaritas warga Sumbang terhadap masyarakat Desa Gandatapa yang merasakan langsung dampak aktivitas tambang.

Dalam hal ini, kata dia, aksi penolakan diwujudkan dengan pemasangan spanduk sebagai simbol sikap warga terhadap keberadaan tambang.

Ia menegaskan warga bukan menolak aturan atau kebijakan pemerintah, melainkan mempertimbangkan dampak jangka panjang dari aktivitas pertambangan terhadap lingkungan dan keberlanjutan hidup generasi mendatang.

“Kita sifatnya bersolidaritas dengan warga Gandatapa pada khususnya untuk memasang spanduk yang pada intinya adalah menolak tambang, karena dampaknya sangat dirasakan, apalagi untuk generasi kita ke depan. Anak cucu kita semua bisa diwarisi bencana,” katanya.

Menurut dia, dampak paling nyata yang dirasakan masyarakat adalah kerusakan infrastruktur jalan yang terjadi dalam waktu singkat.

Padahal, kata dia, jalan tersebut sebelumnya baru diperbaiki, namun kembali rusak di beberapa titik akibat aktivitas kendaraan berat yang melintas dari kawasan tambang.

“Jalan-jalan cepat rusak, dan sementara jalan rusak itu tidak pernah dari pihak tambang sendiri yang menyentuh untuk perbaikan, semua hanya menunggu anggaran dari pemerintah. Ini baru beberapa bulan sudah ada yang rusak,” katanya.

Selain infrastruktur, kata dia, penurunan debit air menjadi keluhan serius warga karena berpengaruh terhadap kebutuhan rumah tangga dan pertanian.

Ia menilai kondisi tersebut akan semakin memburuk jika aktivitas penambangan terus berlangsung tanpa pengawasan dan evaluasi yang ketat.

Menurut dia, di depan area tambang saat sekarang terpasang tanda peringatan resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Republik Indonesia yang menunjukkan bahwa area tersebut sedang dalam pengawasan oleh Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup, namun aktivitas pertambangan tetap berjalan seperti biasa.

“Pengawasan dari KLH ada, tapi aktivitas penambangan tetap berjalan seperti biasa. Kita ini bukan alergi aturan, tapi yang kita pertimbangkan justru efek dan dampak jangka panjangnya,” katanya.

Ia mengatakan harapan utama warga yang tergabung dalam aliansi tersebut adalah penutupan total aktivitas tambang di wilayah tersebut.

Menurut dia, penutupan sementara seperti yang pernah terjadi di lokasi lain belum cukup untuk menjawab keresahan masyarakat.

“Harapan dari warga, tambang ini ditutup total. Sampai sekarang belum ada tindakan penutupan, masih dalam tahap-tahap berikut dan aktivitas masih jalan,” kata Eka menegaskan.

  • tolak tambang gunung slamet

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Antara, Sujar

Berita Terbaru

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.