Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ekonomi Tumbuh, Bumi Jangan Mati: Waspadai Harga Pembangunan

5 Kamis, 08 Jan 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Ekonomi Tumbuh, Bumi Jangan Mati: Waspadai Harga Pembangunan Ekonomi Tumbuh, Bumi Jangan Mati: Waspadai Harga Pembangunan Doc: IGGOY EL FITRA
Ket. EKONOMI BERKELANJUTAN - Foto udara material bebatuan menutupi kawasan pesawahan dan rumah akibat banjir bandang di Nagari Sungai Batang, Agam, Sumatera Barat, pada 26 Desember 2025. Bencana di Sumatera menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi dan investasi harus tetap berjalan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan hidup.

Tahun 2026 bakal menjadi periode krusial karena bertemunya krisis ekologis dan kerentanan sistem pangan nasional akibat perubahan iklim, konflik global, serta lemahnya tata kelola sehingga butuh penanganan struktural.

JAKARTA - Bencana banjir Sumatera menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi dan investasi harus tetap berjalan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan hidup. Tahun 2026 menjadi fase krusial bagi RI dalam menata ekonomi dan lingkungannya.

Anggota Komisi XII DPR RI Ateng Sutisna menegaskan, sejak lama pihaknya telah mengingatkan adanya perusahaan tambang yang menguasai konsesi sangat luas, lebih dari 100.000 hektare (ha), tanpa kapasitas pengawasan memadai. Kondisi tersebut memicu penambangan liar dan perkebunan ilegal di dalam wilayah konsesi.

Dia juga menyoroti banyak perusahaan yang belum menuntaskan kewajiban lingkungan, seperti reklamasi pascatambang dan rehabilitasi kawasan hutan pinjam pakai, yang disebutnya sebagai utang ekologis dan harus segera diselesaikan pemerintah.

Ateng mengungkapkan meski terdapat moratorium pembukaan lahan perkebunan, praktik ilegal masih terjadi dengan memanfaatkan masyarakat, bahkan di kawasan hutan lindung seperti Tesso Nilo yang disebut telah berubah sekitar 60 persen menjadi kebun sawit. Di sisi lain, dia mengapresiasi pembentukan Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) serta pemisahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan karena dinilai dapat membuat penanganan isu lingkungan lebih fokus.

Dia pun mendorong pemerintah daerah (pemda) mempercepat revisi tata ruang berbasis Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), perusahaan melunasi kewajiban lingkungan, masyarakat tidak mudah diperalat, dan akademisi aktif memberi masukan kebijakan. “Saya mohon kepada semua pihak untuk dapat memberikan masukan kepada kami terkait kebijakan atau undang-undang sesuai dengan keahliannya,” ujarnya di Jakarta, Rabu (7/1).

Senada, Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan menilai tahun 2026 sebagai periode krusial karena bertemunya dua tekanan besar, yakni krisis ekologis yang kian nyata dan meningkatnya kerentanan sistem pangan nasional akibat perubahan iklim, konflik global, serta lemahnya tata kelola domestik. Dia memperingatkan tanpa penanganan struktural, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi krisis sosial dan politik pangan.

Johan menekankan bahwa kebijakan pangan harus terintegrasi dengan kebijakan lingkungan, dengan menjadikan pemulihan ekosistem sebagai fondasi ketahanan pangan. Dia mendorong fokus pada produksi pangan berbasis wilayah dan keadilan ekologis, serta perlindungan petani, nelayan, dan produsen pangan kecil.

Menurutnya, tahun 2026 harus menjadi titik balik menuju pendekatan ekosistem dan keadilan pangan sebagai prasyarat keberlanjutan dan stabilitas social.

Perparah Krisis

Sementara itum Kepala Divisi Kampanye Eksekutif Nasional Walhi, Uli Arta Siagian menegaskan rencana pembukaan sawit dan kebun skala besar di Papua akan memperparah krisis ekologis sekaligus memperdalam perampasan wilayah adat. Dia menyoroti dampak pembukaan lahan pangan dan energi seluas dua juta hektare di Merauke yang telah memicu hilangnya sumber pangan lokal, banjir berulang, kekerasan, hingga kriminalisasi masyarakat adat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
Megapolitan
21.000 Prajurit TNI AL BKO ...
Luar Negeri
RI Desak Negara Maju Penuhi...
Luar Negeri
Inggris dan Uni Eropa Pangk...

BNPB Sebut Karhutla Masih Ancam Sejumlah Daerah

28 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
BNPB Sebut Karhutla Masih A...

Mengapa Makanan Pendamping ASI Tak Boleh Ditambahi Bawang

33 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Mengapa Makanan Pendamping ...
Luar Negeri
Dubes: AS Bidik Ekonomi Dig...

Mendag: Surplus Dagang RI Capai Rp192,70 Triliun

43 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Ekonomi
Mendag: Surplus Dagang RI C...
Advertisement
Halal Connect Digelar LPPOM, Buka Jalan UMKM Lokal Go Global!

Halal Connect Digelar LPPOM, Buka Jalan UMKM Lokal Go Global!

04 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.